
...***...
"Mati dilahap api dengan disaksikan oleh puluhan beast yang menuduh kita sebagai pembunuh…" batin Joanne.
Kedua rekannya terus berteriak dan meronta berusaha untuk bebas, Joanne terdiam. Penyesalan mulai merasuk dalam dirinya.
"Lepaskan kami!!" Teriak Jackson sekali lagi, membuat Joanne beralih pandang pada rekannya itu. Pria itu berdiri dengan kedua tangan di ikat kebelakang, ia meronta meminta di bebaskan; pun Smith yang berada di ujung sana.
"Ini semua, gara-gara aku…" batin Joanne. Ia menundukkan kepalanya, "coba saja kalau aku mendengarkan ucapan mereka dan mau bersabar sedikit saja… maka mereka pasti tidak akan berada dalam kondisi seperti saat ini."
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan?"
"Apa yang bisa aku lakukan untuk membebaskan teman-teman ku dan lolos dari kobaran api ini?"
"Ayolah Joanne! Pikirkan sesuatu. Kau tidak boleh mati seperti ini, apalagi Neva membutuhkanmu. Di tambah lagi, teman-temanmu juga membutuhkanmu…"
...*...
Poo terus melangkah masuk hingga menemukan lorong dengan kristal di sekelilingnya.
__ADS_1
Ia meraih satu kristal dan menggiring benda itu menuju ruangan tempat dimana ia melihat ruangan yang ditemukannya.
Pintunya masih terbuka, ia berjalan masuk dan segera mencari keberadaan liontin yang dicarinya.
Poo menghampiri liontin itu dan berdiri dihadapannya. Matanya berbinar memandangi liontin yang kini bersinar dalam kegelapan itu.
"Hai sayang…" gumamnya seraya tersenyum.
Poo meraih kotak kayu berlapis kaca itu, membuka kotaknya dan mengeluarkan liontin tersebut dari dalamnya.
"Aku menemukanmu," gumamnya pelan.
Beast itu beranjak menjatuhkan kotak dalam genggamannya, cepat-cepat ia melangkah keluar dari dalam sana.
...*...
Lulu yang tengah tertidur pulas tiba-tiba terbangun ketika kepulan asap tebal masuk ke dalam kamarnya lewat celah yang ada.
Beast itu beranjak dari tempat pembaringannya dan mendapati Poo yang telah hilang dari ranjang tidurnya.
"Kemana dia pergi?" Gumamnya panik. Ia cepat-cepat melangkah menuju kamar mandi untuk memastikan, tapi tidak ada.
__ADS_1
Lulu berlari keluar kamar; tiba di luar ia sudah di kejutkan dengan orang-orang yang sudah berkumpul di tepi lapangan seraya memandangi tiga orang yang kini terikat di tengah kobaran api yang begitu besar.
Lulu terbelalak memandang siapa yang berada di dalam kobaran api itu.
"A-apa yang terjadi…?" Gumamnya pelan. "Kenapa mereka semua di ikat di antara kobaran api seperti itu?"
Lulu menghampiri salah satu beast untuk menanyakan apa yang terjadi, tapi atensinya lebih dulu tersita oleh kedatangan si taring emas yang keluar dari sudut desa.
"KYAAA!!!" Lulu berteriak nyaring, fokus semua orang beralih pada suaranya.
Semua orang spontan memekik saat melihat harimau itu melangkah masuk diantara kerumunan mereka.
Beast itu cepat-cepat berhamburan, berlarian ke segala arah guna menyelamatkan diri.
Keadaan dalam seketika berubah ricuh, semua orang berlarian sementara si taring emas mulai lompat ke sana kemari seperti kucing yang sedang bermain dengan titik laser merah; menangkap satu persatu beast yang ada dan memangsanya.
Teriakan semua orang semakin jelas terdengar ketika mereka menyaksikan dengan kedua mata mereka sendiri bagaimana sesama mereka mati dalam gigitan di taring emas.
Ada yang menjerit histeris, menangis, dan ada yang bergidik melihat si taring emas menggigit satu persatu bagian tubuhnya. Setelah selesai, ia kembali memangsa.
...***...
__ADS_1