Play To Win

Play To Win
Level 161 - Cahaya di kegelapan


__ADS_3

...***...


Ia terus mengepakkan sayapnya mengudara lebih tinggi lagi dari permukaan tanah. Tapi semakin cepat ia mengepakkan sayapnya, semakin ia merasa kalau dinding menara itu bergerak mengikuti arah geraknya yang semakin tinggi.


"Sial! Kenapa menara ini tak ada habisnya?" Pikir di manusia burung.


Pria itu menghentikan pelariannya, mencari tempat untuk beristirahat. Ia duduk di salah satu dinding yang batu batanya menjorok ke dalam. Ia mendarat di sana, membuatnya seakan berada di atas dahan pohon.


"Tidak aku sangka, penjagaan di tempat ini begitu rumit. Bahkan aku saja tidak bisa keluar dengan mudah," gumamnya pelan.


"Kalau aku saja tidak bisa keluar, lalu bagaimana dengan mereka bertiga? Pasti mereka akan mati tanpa bisa keluar dari dalam labirin ini sama sekali, apalagi mereka pasti terus dibuat berputar-putar di tempat yang sama oleh si roh ilusi yang menjaga tempat ini."


Si manusia burung menunduk sedikit menatap ke arah dasar dimana semula ia berada. Sudah sangat jauh dirinya terbang, sampai-sampai untuk melihat dasar tanah saja cukup membuatnya pusing saking tingginya.



...*...

__ADS_1


Joanne menoleh ke arah kirinya, dimana ia melihat si bayangan hitam itu melintas menuju jalan yang kini dilihatnya.


"Dia tadi pergi ke sana, apakah aku harus mengikutinya? Kemana dia pergi dan siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa bergerak begitu cepat?" Berbagai pertanyaan bermunculan di benaknya membuat Joanne kebingungan harus bagaimana.


Joanne terdiam sejenak, fokusnya lantas beralih pada jalan lain yang berada di sebelah kanannya. Jalannya masih terhubung dengan tempatnya berdiri dan tempat dimana si bayangan tadi menghilang.


"Lorong yang satu ini benar-benar gelap," katanya pelan seraya menatap lekat lorong yang berada di sebelah kanannya.


Joanne mengerutkan kening, diantara kegelapan yang dilihatnya di lorong itu; ia melihat cahaya yang bersinar begitu terang di ujung lorong.


Matanya menatap lekat ke arah cahaya yang dilihatnya. Joanne hendak melangkah lebih jauh, tapi lebih dulu dirinya menghentikan langkah sebelum ia masuk semakin dalam diantara kegelapan lorong yang menyelimuti tempatnya berada.


Joanne menoleh ke arah belakang dimana si bayangan lenyap diantara belokan yang ada. "Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengejar bayangan tadi, atau aku lebih baik mengecek cahaya itu?" Joanne memonolog.


"Jujur saja, aku merasa penasaran dengan cahaya yang ada di sana."


"Apakah lebih baik aku cek?"

__ADS_1


"Tapi… kalau aku cek, maka aku tidak akan tahu siapa sebenarnya sosok bayangan yang tadi aku lihat."


"Lebih baik aku cek saja."


Joanne mengeluarkan kristal rusa tanduk cahaya dan bergegas menggunakannya agar bisa menerangi jalannya menuju tempat dimana cahaya yang dilihatnya itu bersinar.


Joanne berjalan dalam kegelapan, ia terus melangkah hingga tiba di ujung jalan.


Tiba di sana, Joanne membulatkan kedua matanya saat ia mendapati Kane Collection yang dicarinya itu bersinar di ujung ruangan.


Sinar dari Kane Collection-nya begitu terang hingga membuat seisi ruangan tampak lebih terang karena cahayanya.


"I-itu… Kane Collection yang aku cari." Joanne merekahkan senyum, ia benar-benar senang karena akhirnya bisa menemukan Kane Collection yang dicarinya.


"Aku harus mengambilnya, setelah itu aku hanya perlu mencari Jackson dan Smith," ujarnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2