
...***...
"Tapi bagaimana cara kalian bertemu dengannya?" Tanya pelayan lain begitu mereka tiba di ruang dapur.
"Tadi malam ketika aku dan putri sedang mencari tanaman untuk bahan-bahan obat yang kita perlukan, secara tidak sengaja kami bertemu dengannya di tengah hutan. Dan putri berkata kalau pria itu memiliki kristal yang selama ini kita cari di dalam tubuhnya. Putri sudah berusaha mengeluarkan kristalnya, tapi gagal. Maka dari itu, dia di bawa kemari."
"Oh…"
"Tapi omong-omong dia tampan, ya…" pelayan lain mendadak mengalihkan pembicaraan.
"Kau benar. Sudah sangat lama aku tidak melihat pria setampan dia." Yang lain menyahut. Duduk di kursi yang ada seraya menopang dagu di atas meja.
"Tidak heran dia tampan, si hantu air itu jagonya dalam mencari mangsa." Sahutnya sembari menghampiri satu kursi lain kemudian duduk.
"Kalau dia jadi raja di kerajaan kita… pasti akan sangat luar biasa."
"Aku akan sangat senang kalau putri menjadikannya sebagai pasangannya." Sahut yang lain.
"Sudahlah hentikan pembicaraan ini. Aku takut putri mendengarnya, dia pasti akan sangat marah setelah tahu apa yang kalian bicarakan di belakangnya." Yang satu melerai. Semua pelayan yang ada secara serentak diam tak bersua.
__ADS_1
...*...
Smith melahap makanannya perlahan. Siapa peduli dengan situasi di sekelilingnya. Sekarang yang menjadi prioritas utamanya adalah mengisi perutnya lebih dulu agar ia bisa berpikir cara mencari kedua rekannya yang hilang.
Si putri, wanita yang sejak tadi duduk di sampingnya hanya diam dan memperhatikan setiap pergerakannya. Ia diam memandangi Smith seraya sesekali tersenyum menatapnya.
Smith berusaha tak menghiraukan tatapannya dan terus makan.
TUK!
Gelas kaca dalam genggamannya itu ditaruh ke atas meja setelah isinya habis tak bersisa.
Smith menatap putri yang kini masih memperhatikan dirinya yang baru saja selesai.
"Terima kasih atas kebaikanmu, tapi aku ingin tahu. Kenapa aku ada di sini? Dan dimana ini?" Tanya Smith. Putri itu kembali tersenyum, sambil melipat kedua tangannya di atas meja.
"Kau ada di istana ku."
"Istana?" Ulang Smith. Si putri mengangguk pelan. "Istana apa maksudmu? Jadi ini bukan mimpi? Kenapa aku biasa ada di sini?"
"Kau ternyata cukup banyak bicara, ya. Kau ada di istana ku, kerajaan peri. Ini bukan mimpi, dan… mengenai yang membawamu kemari adalah aku." Jelas putri.
__ADS_1
"Kau…? Tapi, kenapa? Apa yang membuatmu membawaku kemari?"
Wanita itu mendekatkan tubuhnya ke arah Smith. Sorot matanya lekat menatap Smith yang berada di dekatnya.
"Karena kau memiliki apa yang aku inginkan selama ini." Gumamnya. Tangannya mulai bergerak, menyentuh dada Smith. Hal itu spontan membuatnya terkejut dan refleks menepis tangannya.
Smith bangun, menjauhkan diri dari wanita tadi. "Apa yang kau lakukan?!" Bentaknya.
Wanita itu ikut bangun dari tempatnya, menghampiri Smith dan berdiri lebih dekat lagi dengannya.
"Yang aku inginkan berada di dalam sini…"
Lagi-lagi wanita itu menyentuhnya. Smith menjauh dengan rasa kesal yang mulai menghampirinya.
"Jangan sentuh aku!" Tukasnya.
Smith berbalik, melangkah pergi meninggalkan wanita itu. Ia kembali ke dalam kamar yang tadi ia tempati.
Wanita itu terdiam memandangi Smith yang semakin menjauh. Senyuman terukir di wajahnya.
"Kau milikku…"
__ADS_1
...***...