
...***...
Joanne berguling guna mematikan api yang membakar pakaiannya. Setelah berhasil memadamkan apinya, ia segera bangun dari posisinya.
"Huft~ tadi itu nyaris saja membunuhku," gumam Joanne seraya menghela napasnya lega. Ia menoleh ke belakang dan mendapati gaunnya yang telah sobek habis terbakar hingga hampir mencapai pahanya.
"Sekarang pakaianku rusak. Sepertinya tidak ada pilihan lain." Joanne merobek bagian depan gaun putihnya hingga membuat gaun yang semula panjang itu pendek berubah menjadi dress up di atas lutut.
"Setidaknya ini lebih baik dibandingkan tadi."
"Pakaian ini benar-benar menghambat langkah dan pergerakanku," gumam Joanne.
Gadis itu membuang potongan kain dari pakaiannya. Fokusnya kini tertuju pada Kane Collection yang berada di sana, di tengah-tengah ruangan yang gelap dan hanya di terangi oleh dirinya yang menggunakan kristal rusa tanduk cahaya untuk tetap bisa melihat.
"Akhirnya…" Joanne berjalan menghampiri Kane Collection itu. Wajah tampak terbit di wajah manisnya.
Setelah usaha yang terbilang berat dan menantang nyawa, tapi ia berhasil tiba di sana dengan selamat. Ya… walaupun penampilannya sudah benar-benar berantakan. Rambutnya kacau, keringat membasahi sekujur tubuhnya, di tambah gaunnya robek.
Joanne menghentikan langkahnya secara tiba-tiba saat sesuatu mendadak muncul entah dari mana.
__ADS_1
Sebuah asap berwarna ke abu-abuan perlahan bergerak menuju arah Joanne.
Gadis itu menghentikan langkah kakinya spontan. Joanne memperhatikan asap yang terus bergerak dihadapannya itu.
Asap itu terus bergerak hingga kemudian berubah bentuk menjadi seorang pria tinggi dengan perawakan besar, berdiri tepat di hadapan Joanne.
Joanne tertegun. Ia membulatkan kedua matanya menatap apa yang baru saja hadir tepat dihadapannya. Seorang pria yang kini berdiri dan menatap ke arahnya lekat.
Pria itu bergerak perlahan menghampiri Joanne. Gadis itu spontan bergerak mundur saat pria itu semakin dekat ke arahnya.
Joanne menghentikan langkahnya ketika dirinya sudah benar-benar terpojok karena dibelakangnya terdapat lantai jebakan yang semula di lewatinya.
Ia membungkuk, Joanne spontan bergerak menjauhkan wajahnya dari pria tersebut.
Mereka beradu pandang dalam jarak yang begitu dekat.
"Siapa kau, berani datang kemari?"
__ADS_1
...*...
Jackson melangkah masuk ke dalam labirin yang dilihatnya. Ia tersentak kaget begitu ia melangkah, sesuatu telah muncul dan menyerangnya.
Beberapa benda tajam seperti belati dan anak panah baru saja melesat ke arah Jackson.
Semua anak panah itu berhasil mengenai Jackson, membuat pria itu tersungkur hingga menyatu dengan dinding. Pakaian yang di pakainya sampai robek akibat belati dan anak panah yang baru saja melesat ke arahnya.
Jackson tak bisa bergerak, terlebih tubuhnya terkurung dalam belati yang menusuk menembus pakaiannya.
Bagian kepalanya nyaris saja terkena tembakan dari belati yang semula melesat. Beruntung Jackson berhasil menghindari dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Sial! Aku kena jebakan pertama," gumam Jackson. Pria itu bergerak berusaha untuk membebaskan dirinya.
Jackson memberontak kuat hingga semua belati dan anak panah itu berjatuhan, lepas dari tubuhnya.
Jackson menjauh dari dinding dan melepaskan beberapa anak panah lain yang masih menancap pada dinding.
"Aku harus lebih berhati-hati, aku yakin setelah ini pasti ada hal lain yang lebih berbahaya yang menunggu ku," gumam Jackson yang telah berhasil membebaskan dirinya. Jackson melangkah, beranjak pergi.
__ADS_1
...***...