
Princess tengah menyulam baju yang dia jahit sendiri untuk twin, rasa rindu dengan dua buah hati nya yang baru dua hari pergi meninggalkan nya demi keselamatan nya.
Princess merasa lega karena anak-anak dan calon cucu nya selamat sampai tempat tujuan, dia tidak akan membiarkan anak dan cucu nya terluka karena masalah kedua orang tua nya.
Saat Princess tengah menyulam di ruang keluarga terdengar suara langkah kaki yang buru-buru masuk ke dalam Mansion, Princess tetap dengan kegiatan nya tanpa memperdulikan siapa yang datang ke Mansion nya.
"Mi, ayo kita pergi sekarang!!" Van datang dengan kemeja yang sudah berantakan, jas yang entah kemana, dasi yang tidak terpasang malah melingkar di telapak tangannya.
"Apa kamu bertemu mereka?? Mereka sudah bergerak Pi??" Van dengan santai masih menyulam nama twin.
"Iyah Mi, ternyata dia mengajak kerja sama kobra untuk menyerang kita"
"Kobra??" Princess kembali mengingat dirinya hampir mati di tangan Ridwan ketua Mafia kobra yang mengincar putrinya saat itu.
"Iyah, ayo Mi kita pergi dari sini"
"Baik lah Pi, mari kita selesaikan urusan yang belum selesai sampai saat ini!! Aku ingin membalas dendam empat pria yang sudah berkorban demi kita"
"Mi, kalau begitu kita berjuang bersama demi masa depan anak-anak yang damai!! Walau masih menjalankan perkumpulan Leon king"
Princess menganggukkan kepalanya, dia memutus benang merah menyalah yang ada di baju twin. Dimana baju yang sudah selesai di sulam dengan indah oleh Princess.
Princess beranjak dari duduk nya merai tangan Van yang Van ulurkan, Princess dengan mata yang masih memerah, aura yang berbeda tengah menguasai Princess saat ini.
Van dengan Princess berjalan keluar dari Mansion dengan Princess memeluk lengan Van dengan sayang dan manja. Princess masih sama, masih sangat manja dengan Van hanya saja Van tidak mengenali istrinya yang sekarang.
Van.dan Princess masuk ke dalam mobil mewah yang selalu Van gunakan bersama Princess saat pergi berdua layaknya pasang kekasih.
Van melajukan mobil nya meninggalkan halaman Mansion, mereka ingin langsung menemui Sinta dan putra Ridwan yang kini menggantikan sang ayah memimpin Kobra.
"Ano, aku sudah menyiapkan semuanya" Princess menatap obat yang ada di tangan nya.
"Sayang apa kamu yakin?? Kalau sampai kamu tidak kuat menahan dosis obat yang kamu bawa, kamu akan benar-benar ..."
__ADS_1
"Ano.. Aku tidak akan mati hanya karena ini!! Sebelum mereka mati aku tidak akan mati" Princess menatap kesal Van yang ada di samping nya.
"Sayang jangan katakan apapun!! Aku tidak mau mendengar apa pun" Van tidak sanggup melihat cinta nya yang sudah menemaninya puluhan tahun harus tiba-tiba meninggalkan dirinya.
Van membelokan mobil nya ke dalam gerbang tinggi Markas Kobra, yang kini semakin di jaga sangat ketat. "Saya ingin bertemu dengan tuan mu!!!"
"Apa anda mau siap bertemu dengan malaikat??" anak buah Herry mengejek Van yang hanya membuka kata spion nya setengah.
"Hahaha.. Kita lihat saja nanti siapa yang akan pergi menemui malaikat!!" Van berbicara dengan sangat dingin seperti biasa.
"Silahkan masuk untuk menemui maut"
Van tidak menghiraukan perkataan anak buah Herry dia tidak jelas menurut nya, Princess tersenyum miring mendengar apa yang di katakan oleh anak buah Herry.
Van melajukan mobil nya semakin masuk ke dalam halaman Markas kobra, Van ingin bicara baik-baik dengan Herry yang sudah kena hasut Sinta. Van menghentikan mobil nya di depan Markas, Van menatap bangunan Mega yang ada di depannya.
"Sayang.. Kamu sudah siap???"
Mata merah Princess semakin merah, lama-lama berubah menjadi kembali putih. Van merasa heran kepada Istrinya dengan muda merubah warna mata nya.
Princess dengan Van turun dari dalam mobil banyak anak buah kobra yang berjaga di pintu utama Markas Kobra. Banyak yang bertanya-tanya apa yang membuat mantan ketua Leon King datang ke Markas Kobra.
Van dan Princess masuk ke dalam Markas yang ternyata di dalam Markas dia sudah di tunggu oleh Herry. Herry menatap Van dengan mata tajamnya begitu pun dengan Van yang menatap Herry dengan mata tajam nya.
Bukan hanya Herry yang saling tatap melainkan Princess yang akan tersenyum saat bertemu dengan siapa saja kini malah terlihat sangat dingin dan terkesan sangat kejam.
"Selamat siang tuan dan nyonya besar Alexander silahkan duduk dan menikmati waktu anda di sini!! Jarang-jarang tuan besar kota datang ke Markas"
"Anda terlalu berlebihan tuan Herry" Princess menyahut dengan suara yang sangat dingin, awal nya ruangan itu sudah sangat dingin semakin menjadi dingin mendengar suara Princess.
"Nyonya jangan terlalu sungkan" Herry masih dalam mode yang sulit untuk di tebak.
"Bagaimana tuan Herry?? Permusuhan antar Ayah anda dengan kami sudah berakhir di belasan tahun yang lalu dengan kesepakatan!! Jangan lupakan kalau kami perna menolong tuan Ridwan hingga tuan Ridwan bisa hidup menemani anda sampai anda menjadi saat ini"
__ADS_1
"Untuk itu aku ucapakan banyak terima kasih Nyonya Alex, tapi di sini saya yang menggantikan Ayah saya!!! Beliau sudah meninggal satu tahun yang lalu jadi tidak masalah bukan kalau saya ingin meneruskan keinginan nya untuk menjadi penguasa yang pertama di sini??? Dan anda datang kemari tanpa ada nya pengawal apa anda tidak takut untuk mati di tangan saya??"
"Hahahhahaha.. Umur kami ini sudah tidak muda lagi dan anda sebaya dengan anak kami!!! Kalaupun kami mati, kami cukup puas selama ini sudah menjadi penguasa"
"Kalau begitu mari kita selesaikan di sini Nyonya!!!" Herry menggerakkan tangan nya kepada anak buah nya yang ada di belakang Princess dan Van.
Akhirnya di ruang yang seharusnya menjadi tempat negoisasi kini menjadi medan perang yang banyak menumpahkan darah, banyak anak buah Herry yang mati konyol tanpa tau sebab atau permasalahan tuan yang selama ini menghidupi mereka.
Princess dan Van saling menguatkan sampai akhir nya Princess di tikam belakang oleh herry menggunakan katana yang ada di bawa meja yang ada di sana.
Darah segar menyembur keluar dari punggung Van dan Princess, Van dan Princess tumbang seketika di ruangan itu. "Cek, masih hidup apa masih bernapas???"
Salah satu anak buah Herry mendekat untuk melihat keadaan Princess dan Van. "Sudah tidak bernapas tuan"
"Sebarkan berita kalau aku sudah berhasil melenyapkan mantan ketua Mafia yang selama ini di takuti!! Aku dengan muda membunuh nya dengan sekali tikam"
"Baik tuan muda"
Orang kepercayaan Herry menyebar luaskan kalau pemegang tata tertinggi dunia bawa sudah dengan muda dia lenyapkan dari muka bumi ini.
Berita sangat muda tersebar ke penjuru jajaran perkumpulan bawa tanah mereka tidak percaya kalau dengan muda tuan dan nyonya Alexander mati hanya karena di tikam.
Dengan photo yang Kobra sebarkan untuk menambah bukti kalau dirinya sudah membunuh Mantan ketua yang masih aktif dan membantu anak-anak nya memimpin Leon King.
Bahkan mayat Princess dan Van di kirim ke Mansion utaman keluarga Alexander, untuk penyerahan terakhir dan sekaligus penghinaan terhadap keluarga besar Alexander.
"Ahhhhh.....Aku tidak terima kalau anak dan menantu ku meninggal" pekik Aura yang usia nya sudah tidak muda lagi tapi masih terlihat sangat segar.
"Mom, tenang lah" Jonie berusaha untuk membuat Aura tenang.
Jonie mendekat ke arah Van dan Princess yang ada di dalam peti Mati, Jonie memperhatikan keadaan Putra dan menantu kesayangan nya. Jonie memiringkan tubuh putra nya, melihat punggung Putra nya yang terkena tikaman katana.
Jonie merasa ada yang aneh dengan luka yang ada di tubuh putra nya. "Luwis coba kamu lihat ini apa ini???"
__ADS_1
Luwis mendekat ke arah kakak nya dengan wajah yang sangat terlihat frustasi melihat menantu nya mati dalam keadaan mengenaskan dia kembali mengingat bagaimana dulu keluarga nya meninggal dengan keadaan yang mengenaskan.
Kini terjadi kepada menantu dan keponakan nya meninggal dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.