PRINCESS UNTUK TUAN MAFIA

PRINCESS UNTUK TUAN MAFIA
SEPULUH TAHUN BERLALU..


__ADS_3

"Mommy..aku tidak suka dengan kakak dia menyebalkan" Sherly memanggil Ella yang ada di teras belakang dengan dua kakak ipar nya.


Tiga perempuan cantik yang ada di Mansion belakang menatap gadis perempuan yang memiliki mata Sipit, kulit putih dan berambut hitam pajang.


"Sayang kenapa kamu terlihat marah??'" Ella yang memang mempunya lembut seperti Princess selalu berbicara lembut kepada putri nya.


"Aku tidak suka bermain dengan Kak Amelia dia menyebalkan Mom" Adu gadis kecil itu dengan pipi yang semakin chubby.


"Anak ini pasti mengerjai Sherly lagi!! selalu saja begitu bikin pusing saja" keluh Felisa ibu Amelia yang selalu di pusingkan dengan sikap jahil putrinya.


"Sudah lah kak mereka masih anak-anak kadang kalah mereka membuat kesal saudaranya!! Sebenarnya mereka saling menyayangi"


Felisa menghela napas mendengar adik ipar nya yang selalu membela anak-anak yang bertingkah itu lah terkadang Amelia menjadi sedikit mendapat perlindungan dari Ella.


"Kamu terlalu memanjakan nya dek" kesal Felisa kepada Ella karena sikap lembut Ella yang sama dengan Mami mertua nya yang selalu membela putrinya.


"Apa yang Ella katakan benar dek, sudah lah jangan dia ambil pusing!! Mereka masih anak-anak"


"Sudah lah kalian selalu memanjakan nya apa lah daya Ibu tiri ini"


Ella dan Aula tertawa mendengar apa yang di katakan Felisa terhadap dirinya sendiri, saat dua perempuan tengah tertawa mereka mendengar suara barat pria yang sudah mereka kenali dan hapal suara siapa yang berbicara.


"Kenapa kamu?? Sudan tua juga masih saja cemberut mau bersaing dengan Amelia??" Arion duduk di samping Aula dengan Arion memeluk bahu Aula.


"Sudah lah kak jangan katakan apapun yang membuat ku ingin mencabik-cabik kamu"


Belum juga hilang rasa kesal Felisa dia mendengar keluhan keponakan nya kembali, yang tengah mengadu kepada kakak nya.


"Mimi, aku malas sekali dengan Amelia dia merebut mainan ku!! Ingin rasanya aku menenggelamkan Amelia ke kolam" Veronica yang baru saja datang dia marah kepada Amelia.


"Tuh lihat kalian selalu saja memanjakan dia menjadi kan dia menjadi" kesal Felisa.


Felisa beranjak dari duduk nya dia berjalan meninggalkan taman belakang masuk ke dalam Mansion untuk mencari putrinya yang entah di mana dia. Belum sampai dia ke ruang keluarga dia mendengar suara putrinya yang mengomel bak burung beo.

__ADS_1


"Kamu aja yang enggak bisa pasang" Amelia dengan sengaja membuat maina puzzle Venesia berantakan.


"Kamu..!!" dengan kesal Venesia menarik rambut Amelia yang panjang, Amelia yang memang lebih pendek dari Venesia kesusahan untuk membalas, apa lagi rambut Venesia yang di gulung ke atas oleh Aula.


"Lepasin.. Sakit Lepasin" Amelia memukul tangan Venesia yang terus menjambak Amelia.


"Aku sudah katakan jangan mengganggu ku tapi kamu ternyata punya nyali untuk menantang ku.. Rasakan ini" Venesia menarik rambut Amelia yang panjang dengan benar-benar kesal karena sudah dua kali Amelia merusak puzzle nya.


Amelia menangis karena merasakan kepala nya yang terasa sakit akibat jambakan Venesia yang dengan erat. "Mami..hiks..hiks..hiks sakit"


Felisa yang melihat putrinya kalah dengan Venesia mendengus, sudah tau kalau Venesia tidak suka di ganggu malah dia mengganggu nya.


Huufff...


"Sayang.. Hentikan nak!!"


Venesia yang melihat Felisa bukan nya takut dia malah semakin menguatkan cengkraman nya di rambut Amelia. "Sayang Vene Maafkan Amelia yah sayang"


"Aku akan memaafkan dia kalau dia berhenti mengganggu ku"


Dengan kesal Venesia melepas rambut Amelia dengan kasar, Venesia menatap nyalang adik nya yang tersungkur di lantai. "Dasar kakak jahat" pekik Amelia.


"Aku enggak peduli" Venesia berlalu dari kamar nya untuk mencari Mimi nya yang entah di Mana.


Sedangkan Felisa tengah merapikan rambut putrinya yang seperti singa. "Sudah Mami katakan jangan mengganggu kakak kamu"


"Mereka saja yang selalu saja serius"


"Sudah kamu ini kalau di bilangin enggak mau dengar, pusing Mami!! Kalau kamu masih saja tidak mau berubah Mami akan kirim kamu ke pesantren"


"Aku sudah memindahkan Amelia ke Pesantren, dua minggu lagi dia sudah akan masuk ke pesantren" Suara dingin dan tegas terdengar dari belakang Felisa.


Felisa dan Amelia menatap siapa yang ada di belakang, Dua perempuan cantik itu menatap Arvin dengan pandangan yang berbeda. Jika Felisa menatap Suami nya dengan lega karena sudah tegas dengan Amelia berbeda dengan Amelia yang menatap Papi nya dengan kesal.

__ADS_1


"Amel enggak mau masuk pesantren Pi" Pekik Amelia yang berlari ke arah lift.


"Amel.."


"Biarkan saja Mi"


"Tapi Pi"


"Sudah lah, Amel sudah bukan balita yang harus kamu kejar saat dia menangis"


Felisa mendengus mendengar perkataan suami nya, yang selalu saja tegas dan keras terhadap Amelia. Arvin menatap mendekat ke arah Istri tercinta nya dia memeluk Felisa dengan Erat.


"Jangan khawatirkan Amelia, kita sudah membekali semua dari dia masih bayi bersama saudara-saudaranya. Dia hanya perlu berubah sedikit saja perilakunya sayang"


Felisa menganggukkan kepala nya dia tau maksud suami nya seperti apa, dia juga berharap putri nya bisa berubah menjadi lebih anggun dan tidak terlalu jahil.


Arvin mengajak Felisa kembali ke taman belakang berkumpul dengan kakak dan adik nya yang ada di sana, untuk menikmati hidup. Sedangkan Princess dan Van menghabiskan masa tua mereka ada di desa di mana Ella, Aula dan Felisa di sembunyikan Princesa.


Di desa dengan di temani Roy yang masih setia dengan Princess dan Van, dia juga mengikuti pasangan suami istri itu ke desa untuk menikmati hari tua mereka di sana.


Princess, Van, Roy menjadi petani sayur di desa yang mereka tinggali sekarang, tidak ada lagi barang mewah dan sebagainya. Mereka hidup sederhana di hari tua mereka.


Sedangkan Di Mansion utama yang kini di tempati oleh anak, menantu dan cucu keluarga Alexander. Karena Aura, Jonie, Luwis dan Laudya sudah meninggal sejak tiga tahun yang lalu karena kecelakan pesawat yang akan membawa mereka pergi ke negera lain.


El dan Yuvi masih tidak ingin pulang dari negara orang sampai saat ini mereka memiliki empat cucu laki-laki dari Bulan dan Bintang yang sudah menikah dengan orang asing.


Kehidupan mereka jauh dari kata bahaya, mereka menikmati hidup mereka dengan tenang dan damai. Tidak ada lagi perang, tidak ada lagi senjata yang mereka pegang setiap hari nya.


Berbeda dengan kehidupan anak dan cucu Van dan Princess yang masih memegang senjata setiap hari nya, mereka juga mendidik anak-anak mereka menjadi kuat dan tak terkalahkan.


Vonny keturunan Aula dan Arion yang memiliki rambut panjang pirang yang mewarisi kekejaman ibu Mimi nya dan juga mewarisi sikap dingin Pipi nya, menjadikan dia sebagai pria kecil yang dingin, kaku, dan juga tak kenal ampun.


Sama hal nya dengan Venesia gadis kecil yang tidak suka banyak omong, tidak kalah ganas dengan sang adik. Berbeda dengan Veronica yang mempunya pribadi yang lemah lembut. Kalau sudah kesal dia akan berubah menjadi cerewet.

__ADS_1


Sedangkan Amelia putri Arvin dan juga Felisa yang sangat jahil dan julit, dia tidak menunjukan sikap kejam nya di keluarganya tapi luar dia akan membuat orang yang mengusili nya merasakan apa tidak seharusnya di rasakan.


Sherly putri Ella dan Yoga, sangat lembut, saking lembut nya tidak ada yang mengira kalau Sherly sudah berdarah dingin sejak dini. Semua keluarga nya tau kalau keturunan terakhir Alexander sangat mengerikan, memiliki mata merah seperti Nenek nya.


__ADS_2