
Setelah Van dan Princess masuk ke dalam kamar, Jonie dan Aura turun untuk makan siang. Mereka bingung melihat para pelayan membersikan bekas makan.
"Eva, siapa yang habis makan???"
"Maaf, nyonya. Yang habis makan tuan muda dengan nona muda"
"Maksud kamu Van dan Princess???"
"Iya, Nyonya"
"Sudah lah sayang, biarkan mereka menghabiskan waktu berdua. Lebih baik kita makan siang setelah itu kita harus pergi ke panti"
Di dalam kamar, Van sibuk dengan pekerjaan yang sempat tertunda di kantor. Sedangkan Princess sedang menikmati mimpinya.
Dentingan ponsel Van membuyarkan fokusnya. "Ada apa???"
"Maaf, tuan muda. nanti jam 3 ada pertemuan dengan tuan Rion"
"Hemm"
Setelah itu Van mematikan sambungan telpon, lalu menatap Princess yang terlelap dengan damainya.
Van beranjak ke dalam kamar mandi, sebelum dia akan berangkat kembali ke kantor.
Van keluar kamar, meninggalkan Princess yang sedang tidur.
"Eva, Nona lagi tidur. Jika dia bangun dan menanyakan saya, bilang saya ada urusan mendadak di kantor"
"Baik taun muda"
Van yang akan beranjak pun mengurungkan niatnya karena mendengar suara yang Van kenali, perempuan yang paling dia cintai.
"Kamu mau kemana nak???"
"Van mau kekantor mom, ada pertemuan dengan tuan Rion"
"Princess dimana???"
"Dia sedang tidur mom"
"Yah sudah kamu hati hati sayang"
Tanpa menyahut Van melangkah meninggalkan mansion menuju ke kantor, dimana pertemuan dengan tuan Rion.
Van keluar dari mobil mewah nya, yang langsung disambut oleh Roy, Asisten Pribadinya.
"Selamat sore tuan muda"
"Hemm"
Van masuk dan diikuti Roy dari belakang. "Apa ada kendala sampai tuan Rion datang???"
"Tidak ada tuan, hanya saja beliau datang tidak sendiri"
Van berhenti, lalu menoleh menatap Asisten nya dengan pandangan yang sangat tajam.
"Beliau datang dengan tuan maxs tuan"
Van melanjutkan langka nya memasuki ruang kerjanya. Van melihat dua orang yang duduk di sofa yang ada diruang kerja nya.
"Selamat sore tuan muda"
"Hemmm"
Tuan Rion menyerahkan berkas yang akan ditanda tangai oleh Van. Van membaca nya dengan sangat teliti, seakan tidak mau ada kesalahan didalam proyek yang menghabiskan milyaran.
"Maaf taun muda, tuan maxs ingin berbicara"
"Hemmm"
"Tuan muda saya setuju menjual lahan yang ada diujung barat"
"Roy, berikan berkasnya"
Van tidak mau menunda lagi, karena kawasan barat yang dia inginkan. Van dari dulu ingin memilik kawasan di sana karena ingin dibangun villa.
__ADS_1
Tuan maxs menanda tangani berkas yang Roy berikan, setelah itu berganti dengan Van yang menanda tangani.
Setelah pertemuan Van langsung pulang, karena takut Princess mencarinya. Entah kenapa Van tidak ingin terlalu lama meninggalkan Princess di mansion sendiri.
Meninggalkan Van, kini Jonie dan Aura sedang bermain dengan anak anak panti yang Aura dirikan saat dia masih muda dulu. Aura yang sangat suka dengan anak kecil memilih membuat panti buat anak anak yang orang tua nya tidak mau mengurus mau pun tidak ada orang tua.
Semua biaya panti ditanggung Aura sejak Aura muda, karena memang Aura juga dari kalangan atas.
"Dad, apa Van mau yah punya adik diusia nya sekarang???"
"Memang kenapa mom???" Erick balik bertanya
"Di sini ada bayi yang baru lahir dad, yang ibunya meninggal. Mommy ingin mengadopsinya".
Jonie bungkam dengan pertanyaan Aura, menurutnya mengadopsi anak diusia Van yang terbilang sudah sangat matang rasanya aneh saja.
"Kenapa daddy diam saja???"
"Bukan daddy tidak mau mom, tapi sebentar lagi kita akan memiliki cucu mom"
Aura diam, memikirkan apa yang diucapkan suaminya. "Apa Daddy takut jika cinta kita berpindah kepada cucu kita???"
"Bukan hanya itu saja mom, ibu pasti tidak akan setuju. Kita mengadopsi anak"
"Benar apa yang kamu bilang dad, ibu pasti menentang nya. Apa lagi kita membawa ke mansion utama"
"Lebih baik dia ada di sini mom, pasti banyak yang menyayanginya"
Dengan berat hati Aura tidak jadi mengadopsi malaikat kecil yang sempat dia gendong saat tadi sampai panti.
Kini kedua pasangan itu bermain bersama dengan anak anak yang ada di sana.
"Bu, Ano kemana???"
"Nona sudah bangun???"
"Hemmm"
"Tuan muda, ada urusan mendadak di kantor non, mungkin sebentar lagi pulang"
Princess kembali masuk kedalam lift, Princess ingin mandi setelah ke ingin tauan nya kemana Van sudah terjawab.
Princess masuk kedalam kamar Van, Princess langsung masuk kedalam kamar mandi, karena waktu juga sudah sore.
Van datang dengan langka lebarnya berjalan menaiki tangga, tujuan pertamanya kamar nya. Van membuka pintu kamar nya, Van masuk tidak melihat keberadaan Princess di ranjang nya.
Saat Van ingin keluar, suara gemericik air terdengar dari kamar mandi. Van mengurungkan niat nya yang akan mencari Princess ke bawah.
"Hemmm, enak banget selesai mandi"
"Ano, sudah pulang apa belum yah???"
Ceklek...
Princess keluar menggunakan kimono mandinya, rambut basa yang Princess usap dengan anduk terlihat menggoda dimata Van yang sedang menatap nya tampa berkedip.
"Ano!!!!! Kenapa kamu liatin aku kayak gitu???"
"Aneh saja, habis mandi bukan terlihat cantik malah terlihat makin jelek"
"Aaannnooooo" Teriak Princess yang tidak terima dibilang jelek oleh Van
Van menutup telinga nya dengan mata satu yang tertutup, Teriakan Princess seakan bisa membuat runtuh mansion.
Teriakan Princess terdengar dari luar kamar Van, yang kedap suara.
"Kamu ingin meruntuhkan mansion ku???"
"Apa, kamu bicara dengan ku????"
"Teriakan mu bisa membuat mansion ku hancur, berantakan" pekik Van
"Ganti baju kamu sana aku sudah siapkan di ruang ganti. Jangan menggoda ku dengan penampilan mu yang seperti itu".
Dengan perasaan kesal Princess masuk kedalam walk in closet, berganti pakaian yang sudah di siap kan.
__ADS_1
Princess menatap pantulan yang ada didalam walk in closet.
" Sungguh aku sangat cantik dengan dress mahal ini!!!!"
Princess keluar dari ruang ganti, tidak menemukan Van. "Kemana pergi nya sih mesum???"
"Apa??? Beraninya kamu bilang aku mesum!!!"
"Ya Ampun!!!! Kamu mengejutkan aku saja"
"Kamu mengatai ku apa tadi???" Van mendekat ke arah Princess dengan telanjang dada, karena Van baru selesai mandi.
"Kamu mau ngapain??? Mundur atau aku teriak!!!"
Van semakin mendekat, tidak menghiraukan ancaman Princess. Princess terus mundur sampai ke tepi ranjang, Van senyum miring khas Van, yang membuat siapa pun merinding hanya dengan senyumnya saja.
"Aaaahhhhhhhhh, Aaaannnnnnoooooo!!!!!!!"
"Aaayyyyaaahh, tolong Princesss!!!!!"
Van diam ditempat nya, dengan menutup telinga nya yang berdengung. Mansion yang awalnya sepi kini heboh karena teriakan Princess yang keluar kamar.
"Ada apa dad???" kenapa seperti ada gempa"
"Mungkin sedang ada gempa mom"
Mansion bergetar karena teriakan Princess yang melengking. Jonie dan Aura yang baru saja sampai merasa ada nya gempa dadakan.
Dikamar, Van mengusap usap telinganya yang terasa sakit. Van melihat Princess yang akan berteriak lagi, Van mendekat lalu membungkam mulut Princess agar tidak berteriak.
Mata Princess melotot, tidak lama Princess menutup mata nya dengan kasar nya Princess menyingkirkan tangan Van yang membekap mulut Princess.
"Aaaahhhhhhhh!!!!!!!!!"
"Aannnooo Mesum"
Jonie dan Aura yang baru baru keluar Lift terkejut dengan teriakan Princess.
Van yang belum sadar, akan kecerobohan nya masih menatap Princess heran. Van berkacak pinggang, tidak merasakan handuknya melilit pinggang nya, dengan pandangan yang masih menatap heran Princess.
Van meraba raba pinggang nya, tidak menemukan handuk nya, Van menghadap kebawah dan terkejut melihat handuk yang dia pakai sudah ada dilantai.
"Ahhhh, tutup mata kamu!!!" pekik Van dengan mengambil handuk yang ada dilantai.
Setelah Van membenarkan handuk nya dia berlalu meninggalkan Princess masuk ke dalam walk in closet. Dengan perasaan malu dan kesal.
Jonie membuka paksa pintu putranya karena takut, Van merusak anak orang. Saat pintu sudah terbuka Jonie dan Aura masuk melihat Princess yang menutup mata.
"Nak, kenapa kamu menutup mata sayang???" Princess membuka mata nya perlahan, tidak menemukan Van.
"Princess"
"Hah, iya tante kenapa??"
"Kekacauan apa yang membuat mansion bergetar???"
"Jonie menatap sang putra curiga"
"Tanyakan saja sama dia Dad" Van menunjuk Princess.
Jonie dan Aura menatap Princess heran, tapi setelah itu mereka melihat putra nya dengan pandangan yang tajam seakan ingin menerkam putra nya sendiri.
"Besok kalian harus menikah" ucap Jonie dan Aura kompak. Setelah itu mereka meninggalkan Van dengan Princess dengan rasa terkejutnya.
"Ini gara gara kamu tau tidak!!!"
"Salah kamu, kamu yang berteriak" Van tidak ingin kalah
"Kamu"
"Kamu"
"Kamu"
mereka bertengkar tidak ada yang mau mengalah dan entah sampai kapan pertengkaran mereka berakhir, atau mungkin tidak akan berhenti.
__ADS_1