
Arion yang baru saja keluar dari dalam mobil melihat Aula yang juga baru keluar dari dalam mobil, Rion yang ada di belakang Aula berjalan santai kearah Aula.
Brukk..
"Ahh... Yah jatuh kan tuh buku"
"Maaf Maaf aku enggak sengaja" Arion melancarkan aksinya untuk mendekati Aula..
Aula mendongak menatap Rion yang kini sudah membawa buku nya, Aula menatap Rion tanpa berkedip. Rion menjadi salah tingkah saat di tatap Aula tanpa berkedip.
"Ghemm"
"Ah terima kasih sudah mengambilkan" Aula merasa malu saat ketahuan menatap Rion tanpa berkedip.
"Emm, aku Arion, kamu siapa??" Rion mengulurkan tangan nya.
"Maura" Aura juga mengulur tangan nya membalas uluran tangan Rion.
"Salam kenal Maura"
"Ah iyah"
Rion dan Aula merasa canggung, tidak ada lagi pembahasan apa yang akan menjadi bahan obrolan mereka.
"Ayo masuk"
"Emn Bisnis.. !!" Aula tidak menyambung saat Rion mengajak Aula masuk. Aula merasa aneh saat melihat Rion yang menatap nya sedari tadi, menjadikan Aula tidak fokus
"Sama bisnis" Rion yang tau Aula tengah tidak fokus pun menjawab yang sama.
"Ah iya ayo masuk, sebentar lagi ada kelas" Aula berjalan lebih dulu karena terlalu lama dekat dengan laki laki gondrong tadi membuat jantung nya meronta.
Begitupun dengan Rion yang kini dadanya bergemuruh saat dekat dengan perempuan yang dia incar. "Kenapa yah dengan dada ku apa aku kena serangan jantung ringan??? Aku harus mengajak Mami untuk ke rumah sakit untuk periksa jantung aku" Batin Rion dengan mengikuti langka Aula.
"Ya tuhan, ada gitu makhluk tampan seperti Siapa yah tadi nama nya??? Kok aku lupa??" Aula berhenti mendadak menjadikan Rion yang ada di belakang Aula menabrak punggung Aula.
Bhrukk....
"Anjir..!!!"
"Maaf kamu berhenti tidak bilang bilang"
Aula menatap Arion dari dekat, posisi Aula yang kini sangat dekat dengan Rion, Rion menahan punggung Aula agar Aula tidak jatuh.
Mereka saling pandang saling menikmati ketampanan dan kecantikan, Aula maupun Arion, sampai mereka berdua mendengar suara daheman yang dingin. "Ghemm"
Mereka menoleh ke sumber suara dan melihat David dan Aura yang sudah ada di belakang Aula dan Arion, Aula segera melepaskan dirinya dari Rion. Aula bersikap datar dan cuek, tidak dengan Aula yang kini cengengesan menatap Aula dan David.
"Ghemm.. Kakak cantik dan kakak tampan!! Kalian kenapa ada di sini??"
Pertanyaan bodoh Aula membuat Aura yang ada di depan nya menatap dingin dan malas, berbeda dengan David yang sedang menatap Arion yang ada di dekat Aula. "Tuan muda Alexander"
"Hemmm, anda Siapa???"
"Saya David, teman bisnis Tuan Alexander"
"Hemmm"
Arion tau sekarang siapa suami Aura kembaran perempuan yang ada di samping nya, dia tidak menyangka kalau suami Aura yang terkenal beda jauh usianya, malah terlihat seperti berusia sama dengan Aura. "Masuk"
Suara Aura sangat dingin mengalihkan Arion yang ada di samping Aula, Arion baru mendengar suara sangat dingin yang lebih dingin dari Daddy nya. "Dia benar benar jauh dari perkiraan"
"Siap bos, Ayo gondrong masuk"
Arion menatap Aula dengan alis yang terangkat sebelah. "Kamu mengajak aku???"
"Iyah siapa lagi?? Kan di sini yang gondrong kamu " Aula memanggil Arion gondrong karena tidak tau siapa nama nya.
"Hah iya, baik lah ayo" Arion mengikuti langka Aula yang ada di depannya, dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
Aula dan David yang ada di belakang mereka menatap Aula dari belakang sampai mereka menghilang dari pandangan mereka. "Siapa??"
__ADS_1
"Siapa??"
"Dia" Aura menunjuk ke depan, David bingung dengan Aura yang menunjuk depan padahal di depan tidak ada orang.
"Siapa sayang??"
"Tadi"
"Irit banget yank bicaranya"
Aura mendengus malas melihat suaminya. "Siapa yang bersama dengan Aula tuan David yang terhormat???"
"Itu dia anak dari Tuan dan Nona Alexander penguasa bagian utara"
Meninggalkan David dengan Aura, Aula dan Arion kini sudah ada di dalam kelas yang sama. Mereka saling melirik dan canggung, mereka merasa dada mereka bergemuruh hebat saat saling dekat..
Arion menatap Aura yang ada di samping nya dengan ragu ragu Arion mencondongkan memanggil Aula yang kini sedang makan bekal yang dia bawa dari rumah. "Ghemm, Aula"
Aula menoleh kearah Arion, dia menatap Arion dengan pandangan bertanya. Arion memberikan ponsel nya kepada Aula yang masih memegang sendok makan, Aula menerima ponsel yang di berikan oleh Arion.
"Emm, tapi aku enggak butuh ponsel aku sudah punya ini" Aula mengangkat ponsel yang ada di samping kotak makan nya.
"Tulis nomor ponsel kamu di ponsel ku"
"Oh, kamu mau minta nomor!! Mau ngajak malam mingguan yah???"
Arion sangat gugup mendengar pertanyaan Aula yang membuatnya menjadi salah tingkah, itu salah satu dari niat nya meminta nomor ponsel kepada Aula.
"Ah iyah kalau kamu tidak sibuk"
"Aku tidak akan sibuk kok" Aula menyahut dengan mengunyah makana yang baru saja Aula masukkan kedalam mulut.
"Nanti kita keluar yah, tapi ini kamu tulis dulu nomor ponsel kamu" Arion mengatakan dengan sangat gugup.
Aura menulis nomor ponsel nya di ponsel genggam Arion, setelah itu Aura langsung chat dari ponsel Arion. Menjadikan kini Aula dan Arion punya nomor ponsel masing masing.
"Aku sekarang juga sudah punya nomor kamu, pas kan aku punya kamu punya" Setelah mengatakan itu Aula tersenyum sangat manis kepada Arion.
"Ghemmm".
"Ghemm" Arion berdahem setelah itu menerima ponsel yang di berikan oleh Aula.
"Kak, sejak kapan kakak di sana???"
"Sejak kamu tersenyum lebar"
"Kapan aku senyum perasaan ini mulut dari tadi mengunyah" Elak Aula yang membuat Aura menatap adik nya sangat malas, bagaimana bisa dia mengunyah kalau bibirnya tersenyum lebar.
...****************...
Arion pulang ke Mansion setelah kuliah sendiri dan entah kemana dua adik nya, karena Arion mengambil bisnis sedangkan Ella mengambil kedokteran, Arvin mengambil Arsitektur.
Arion mencari Mami nya saat pulang ke Mansion dia ingin mencari tau tentang perasaan nya yang tidak karuan bertemu dengan perempuan incaran nya, dia juga akan mengajak Princess untuk pergi ke dokter jantung.
Arion mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya yang kini di dalam kamar sendang berkeringat, olahraga siang bersama dengan Van. Van yang masih belum menuntaskan kan, tidak mau melepaskan Princess yang ada di bawahnya.
Arion yang tau Mami nya di kurung oleh Papi nya dengan sangat kesal menggedor gedor pintu kamar kedua orang tuanya, Van yang di dalam mengumpat berulang kali mendengar gedoran pintu. "Mi, anak kamu menggangu saja"
"Mi, Mami butuh bantuan??"
Dor dor dor..
"Kalau Papi enggak mau buka pintunya aku robohkan pintu kamar Papi dan Mami" Arion terus menggedor pintu nya.
Brak brak brak..
Kini bukan hanya di gedor oleh Arion melainkan di dobrak oleh anak tertua Van dan Princess, Van benar benar kesal dengan putra satu nya ini selalu saja merebut Istrinya dari nya
Ceklek...
"Kenapa, kesurupan kamu???" tanya Van dengan kesal nya
__ADS_1
"Mana Mami???" Van menghalangi putra nya yang ingin masuk kedalam kamar.
"Enggak ada Mami"
"Mi, Mami"
"Kenapa?? Jangan teriak teriak nanti kucing tetangga takut dengar suara kamu"
Arion menatap Daddy nya dengan satu alis terangkat. "Enggak peduli"
"Kenapa sayang??"
"Ingin tidur Mi" buka Arion yang menyahut tapi Van.
"Mami tanya aku Pi"
"Panggilan sayang hanya untuk Papi"
"Bodoh Amat"
"Mi, temenin Rion ke rumah sakit"
Kedua orang tua Arion menatap putranya bingung karena Arion sangat baik, kenapa minta ke rumah sakit. "Kamu sakit nak??" tanya Princess heran menatap putranya
"Mana mungkin sakit Mi, orang bisa menggangu kita" ucap Van kesal memandang putra nya yang kini sedang ada di depan nya dengan Princess.
"Seperti nya Arion terkena serangan jantung ringan Mi" Arion memberi tahu kedua orang tuan nya dengan wajah yang sangat polos dan datar.
Van dan Princess ternganga mendengar perkataan Arion, setelah itu Van tertawa dengan mata memicing. "Sejak kapan tuan muda Alexander terkena serangan jantung???"
"Mi, lihat Papi mengejek ku" Arion mengadu kepada Princess.
Plak...
"Ahiss... Kenapa Mi??"
"Jangan mengejek putra ku"
"Dasar penggaduh"
"Suka suka" Arion tersenyum miring menatap Van.
"Apa yang kamu rasakan nak???"
"Dada ku berdetak lebih cepat Mi, saat bersama dengan Aula!! Belum lagi saat melihat senyumnya Seakan jantung ku berhenti Mi" jelas Arion
"Hahah, dasar wajah datar"
"Mohon anda mengaca tuan"
"Tapi Papi tidak sebodoh kamu"
"Dan aku lebih pintar dari Papi"
"Sudah kalian ini selalu saja berdebat!! Kamu juga Pi suka sekali mengejek putra ku" kesal Princess.
"Kamu enggak butuh dokter nak, itu hal wajar saat kamu suka, tertarik sama perempuan, itu tanda nya kamu ada beni beni cinta yang tumbuh"
"Hah, apa tidak bahaya Mi???".
"Tidak nak, itu hal wajar sayang"
"Jangan panggil dia sayang Mi"
"Dasar tua Bangka"
"Sialan, Papi belum tua kamu tau??"
"Tidak"
Princess kembali menghela napas melihat putra dan Papinya berdebat. Princess melerai mereka dan menyuruh Arion Mandi, berganti Baju setelah itu turun untuk makan siang bersama.
__ADS_1
Arion dengan patuh meninggalkan depan kamar kedua orang tuanya sebelum pergi Arion menyempatkan mencium seluruh wajah Princess, Van yang melihat itu sangat geram melihat nya. "Aaaarrriioooonnnnn" pekik Van frustasi dengan putranya.