PRINCESS UNTUK TUAN MAFIA

PRINCESS UNTUK TUAN MAFIA
BULLY


__ADS_3

Penghuni Mansion utama di hebohkan dengan teriakan melengking dua gadis yang kini sudah duduk di sofa ruang keluarga, Bulan dan Bintang anak kembar identik El dan Yuvi.


Teriakan penghuni Mansion terasa berdengung mendengar teriakan Bulan dan Bintang, Aura dan Laudya yang sedang memasak terkejut dengan teriakan cucu mereka yang selalu saja membuat gempar Mansion utama. "Kak, kakak cek makhluk yang tengah berteriak itu"


"Mereka cucu kita tau" Aura sangat kesal dengan Laudya yang selalu saja tidak perna akur dengan kedua cucunya.


"Ah iyah aku lupa kak" Laudya cengengesan tidak jelas dengan menatap Aura yang menatapnya malas.


Aura keluar dari dapur berjalan kearah ruang keluarga di sana bukan hanya ada Bulan dan Bintang melainkan ada Ella, Ar, dan Rion. "Tumben sekali kalian akur??"


"Hanya kebetulan saja Grandma" Ella menyahut dengan wajah yang masih datar sangat mirip dengan Van, berbeda lagi jika ada di Mansion nya, Ella akan menjadi kucing yang penurut.


"Kenapa wajah ku datar sekali, males Grandma menatapnya" Keluh Aura yang memang sedikit kesal dengan Cucu perempuan nya yang selalu saja kaku seperti Papi nya.


Ella menatap Grandma nya dengan malas, Ella mencoba tersenyum walau sangat kaku. Aura yang melihat itu semakin kesal di buat cucunya, pasalnya Dia perempuan kenapa menuruni Papi nya yang seperti tembok. Begitulah yang ada di pikiran Aura. "Malas sekali Grandma melihat itu Queen"


Ella menarik napas lalu kembali menatap Grandma nya yang tidak jauh dari nya, Ella mencoba tersenyum sangat manis di depan Aura. Jika Aura senyum beda lagi dengan Bulan dan Bintang yang menatap ngeri Ella. "Kak, seram sekali jika kamu tersenyum seperti itu" Bulan mengomentari Ella yang masih menatap Aura dengan senyum yang sangat terpaksa.


"Ck, kamu ini mengganggu kakak kamu latihan senyum saja" Aura mantap kesal Bulan


"Aku sangat ngeri melihat nya??" Jawab Bintang dengan sangat jujur, jika biasanya Ella tersenyum miring kini malah senyum yang di buat semanis mungkin.


"Yah itu karena ketularan Papi nya kayak tembok jadinya"


"Kalian berdua juga sama saja, kayak Papi kalian semua enggak ada yang kayak Mami kalian ceria, selalu tersenyum dan ..."

__ADS_1


"Rama kepada siapa saja" Ella, Rion, dan Ar kompak meneruskan kata kata Aura yang sudah di ujung Lidah.


"Kami sudah hapal Grandma jangan di ulang terus kayak kaset saja"


Aura duduk di samping Bulan, yang kini Bulan sudah merebahkan kepalanya di paha Aura, Aura tengah mengusap lembut rambut cucunya. "Apa kalau lelah di hari pertama kuliah???"


"Iyah Grandma, mana lagi tadi haru adun bacot sama anak baru juga yang rambut nya pirang" Bulan mengadu kepada Aura yang kini masih menunduk menatap Bulan yang menyembunyikan wajah nya di perut rata Aura.


"Sih pirang??? Siapa nak??" Aura penasaran siapa yang di bilang sih pirang oleh Bulan.


"Entah lah Grandma, dia jalan enggak hati hati jadinya menabrak aku!! Mana lagi dia enggak mau di salahkan" Bulan menceritakan kejadian di kampus tadi pagi.


Aura terkekeh melihat Bulan yang tengah kesal dengan orang yang menabraknya, Aura menatap Cucunya bingung kenapa tampak mereka sangat lemas. "Kenapa, sedari tadi datang kenapa tidak ada yang semangat???"


"Kami sangat mengantuk" keluh Rion dan juga Ar dengan memejamkan mata mereka.


"Jam 4 subuh, dan Mommy sudah membangunkan jam 6 pagi" Dengan mata yang sudan terpejam karena kantuk yang benar benar melanda.


Aura tidak lagi mengajak mereka berlima berbicara seperti nya mereka sudah sangat kantuk, Aura membiarkan mereka tidur di sofa ruang keluarga yang lumayan besar dan cukup dua orang.


Aura yang merasa cucu nya terlelap, dengan sangat hati hati Aura menaruh kepala Bulan di atas bantal sofa, agar tidur nya nyaman. "Hah, kalian memang penerus yang tidak bisa di remehkan"


Aura berlalu dari ruang keluarga dia menghampiri Laudya yang kini sudah menyajikan makanan nya di atas meja makan. "Lho kak, mana Bulan dan Bintang??"


"Bukan hanya ada mereka berdua melainkan ada tripel" Aura membantu Laudya menyajikan makanan di atas meja.

__ADS_1


"Jadi twin sama tripel ada di sini?? Tumben sekali Kak??" Karena biasanya mereka akan selalu berdebat jika bertemu.


"Mereka seperti nya kelelahan, mereka pulang jam 4 subuh tadi" Aura duduk di meja makan dengan menatap makanan yang sudah tersaji.


Laudya memanggil Luwis dan Jonie untuk makan siang bersama, karena sudah waktu nya makan siang, Aura tidak membangunkan cucu cucunya karena merasa kasihan.


Luwis, Jonie dan Laudya mendekat kearah meja makan, Duduk di samping istri masing masing. Sedangkan Maharani sudah meninggal saat usia tripel 5 tahun. Mereka makan malam dengan membahas tentang anak anak, Aura menyarankan jangan terlalu keras kepada penerus berikutnya.


"Kalau tidak begitu bagaimana mereka akan bertahan dalam kedudukan tertinggi Mom" Jonie bertanya dengan masih makan dengan lahapnya.


"Kalian tau bukan kalau mereka tidak bukan anak anak lemah sedari kecil" Laudya terkadang merasa khawatir dengan para cucunya.


Setelah makan siang mereka kembali melanjutkan mengobrol di Gazebo samping Mansion. Laudya dengan Aura tetap menyarankan tidak terlalu keras dengan cucu cucu mereka, apalagi ketiga gadis itu.


Jika di Mansion utama membahas anak anak yang terlalu keras, di Mansion Van Princess tangah makan siang dengan Van. Dengan Van yang terlihat murung karena dari satu minggu yang lalu Princess masih saja marah prihal Van bertemu dengan perempuan Seksoi saat meeting.


"Mi, ini sudah satu minggu lho Mommy tidak mau gitu memaafkan Mommy???"


"Tidak, pasti Papi sudah di pegang pegang sama lontong nya???" Princess mengatakan dengan menatap tajam Van yang kini duduk di seberang Princess.


"Aku tidak di pegang pegang Mami yang cantik jelita" Van mencoba merayu Princess dengan kata kata


Princess beranjak dari duduknya lalu mendekat kearah Van, Princess mengendus ngendus Van seakan memastikan sesuatu. "Bau bau lontong"


Van yang gemas pun menarik pinggang sang istri membawa dalam pangkuannya, Princess menatap Van dengan sangat tajam seakan dia tidak mau di sentuh oleh Van. "Mi, sudah lah pii. tidak kasihan dengan Papi yang selalu di ejek anak anak Mi" Van mencoba memelas di depan sang istri berharap kalau sang istri akan luluh hatinya dengan menatap memelas istrinya.

__ADS_1


"Oh aku sangat suka mereka bully Papi nya" Princess mengatakan seakan tidak ada beban sama sekali, sedangkan Van sudah menggerutu tidak jelas.


Princess turun dari pangkuan Van, lalu berlalu meninggalkan meja makan. Van menatap Princess yang menghilang di balik lift dengan pandangan lelah. "Susah kan kalau dia ngambek kayak gini, udah enggak dapet jatah, tidur pun di ruang kerja" Van menggerutu dengan beranjak dari duduk nya meninggalkan ruang makan dengan perasaan yang kesal, karena gara gara wanita itu Princess marah dengan nya.


__ADS_2