
Arion menjemput Aula di Mansion Dion, di bertemu dengan Aura yang tangah hamil tua di duduk di sebrang meja. "Kak, apa hamil sebesar itu tidak merasa nyeri??" Arion merasa ngeri melihat perut kakak ipar nya.
"Haha, Apa yang nyeri ini berisi bayi bukan landak"
"Kak aku serius"
"Aku seribu rius dek"
Saat tengah mengobrol dengan Aura, Nisa datang dan ikut nimbrung di sofa ruang keluarga. "Apa yang kalian bicarakan nak??"
"Arion itu Mom aneh aneh saja"
"Aku beneran bertanya kak, kok aneh"
"Apa yang kamu tanya kan nak??" Nisa menatap menantu nya dengan lembut
"Perut kak Aura apa merasa nyeri atau tidak karena sangat besar" Arion mengatakan apa yang membuat nya penasaran.
"Mungkin Kakak kamu tidak nyeri tapi kak David yang nyeri sayang"
Arion menatap calon mertua nya dengan bingung yang hamil Aura kenapa jadi David yang nyeri, Arion bertanya tanya di dalam hati apa mungkin bisa nyetrum begitulah isi hati Arion dengan menatap Nisa.
"Mom, apa bisa nyetrum??" Arion bertanya dengan wajah yang datar tapi terkesan sangat polos.
"Nanti kalau kamu sudah menikah akan tau nak, Mommy susah kalau jelasin" Nisa menatap Calon mantu nya dengan bingung, apa lagi pertanyaan Arion sangat polos.
Arion menatap Nisa dengan acu tak acu karena Nisa sendiri bingung bagaimana menjelaskannya kelapa Arion. Arion masih menatap perut buncit Aura dengan heran, perut yang awal nya ramping kenapa bisa ada janin di dalam perut ramping.
Arion yang terkenal genius sekarang mendadak bodoh hanya dengan menatap perut buncit Aura. "Mungkin nanti aku akan tanya Mami setelah pulang dari rumah kakek" Batin Arion.
Saat tengah menatap perut buncit Aura dengan pandangan bingung, lamunan nya harus buyar karena mendengar suara Aula yang baru saja keluar dari dalam lift. "Yank kanapa lihatin perut kakak?? Kamu mau dedek bayi juga??" Aula bertanya dengan polosnya.
"Enggak gitu yank, aku merasa ngeri lihat perut kak Aula yang terlihat membesar seperti balon yang di tiup"
"Aku kira kamu mau juga dedek bayi yank"
"Kenapa yank kalau mau??"
"Kita buat lah yank banyak"
Plakkk..
Nisa memukul pelan lengan Aula yang berbicara tanpa di saring terlebih dahulu, sedangkan Aula menatap Mommy nya dengan cengengesan. "Sudah yank kita pergi aja sekarang mumpung belum ada badai" Aula mendekat kearah Arion yang duduk di sofa ruang keluarga.
"Hah..!!!"
Arion ternganga mendengar perkataan Aula, bagaimana bisa ada badai di dalam Mansion, mungkin kalau di luar Mansion Arion percaya tapi ini di dalam Mansion bagaimana bisa. Arion menatap kekasih nya tidak percaya.
__ADS_1
"Ayo yank"
"Iyah iyah yank"
Arion pamit kepada Nisa dan juga Aura yang sibuk dengan ponsel genggam nya tanpa memperdulikan sekitar. Begitupun dengan Aula yang pamit dengan Nisa dan Aura, setelah itu mereka berjalan keluar Mansion.
Arion membukakan pintu mobil untuk Aula, setelah itu Arion mengitari mobil nya masuk ke sisi mobil, Arion melajukan mobil nya meninggalkan Mansion Dion.
Selama dalam perjalanan Aula banyak bercerita entah menarik atau tidak, entah menyambung atau tidak yang jelas Aula banyak bercerita, sampai Arion yang ada di samping nya merasakan kantuk.
Tapi dia tahan karena dia masih sadar kalau mereka tengah di jalan, Arion tidak berani untu menghentikan Aula yang tengah mendongeng menurut Arion.
Setelah empat puluh lima menit Arion membelokan mobil mewahnya kedalam gerbang yang yang mewah, Arion memarkirkan mobil nya di halaman Rumah Yuda.
Arion dengan Aula masuk kedalam Rumah yuda yang sudah di tempat puluhan tahun, para pelayan membungkuk saat melihat tuan muda nya datang. Arion mengajak Aula langsung ke taman belakang untuk mencari Kakek nya yang selalu memperhatikan hewan peliharaan nya.
"Kakek" Arion memanggil Yuda yang tengah memberi makan kucing putih yang sangat gendut dan berbulu lembut
Yuda berbalik dia melihat Arion dengan Aula yang ada di ambang pintu taman belakang. "Cucu nakal kakek yang sudah melupakan pria tua ini" ucap Yuda dengan berjalan mendekat kearah kran air untuk mencuci tangan dan kaki nya.
"Ah kakek, Rion sangat sibuk" elak Rion dengan menatap kakek nya yang berjalan mendekat kearah nya.
"Bohong sekali kamu pemuda" Yuda pura pura kesal dengan Rion, Yuda tidak mempermasalahkan tripel yang jarang mengunjungi nya.
"Hahaha..." Arion terkekeh dengan memeluk Kakeknya yang sudah sangat renta.
"Pagi cucu ku" Yuda tersenyum melihat Aula yang mau di ajak ikut Arion mengunjungi nya di rumahnya.
"Yang cucu kakek Rion kek, bukan Aula" Arion menatap kakek nya dengan malas, kalau dengan Aula, Yuda sering kali menggoda Rion
"Ah kakek lupa kalau kakek punya cucu laki laki"
Arion ternganga mendengar apa yang di katakan oleh Yuda, bagaiman bisa kakek nya lupa dengan cucu tampan seperti diri nya.
"Lalu kakek ingat nya Rion siapa??"
"Pemuda nakal yang selalu membuat kakek kesal"
Aula sudah tertawa melihat wajah bodoh tunangan nya, jika dengan orang lain mungkin wajah bodoh Arion tidak akan diperlihatkan jika dengan keluarga nya Arion bisa merubah raut wajah nya.
Yuda semakin membuat kesal Arion dengan menanyakan Aula sudah makan atau belum, Yuda tidak bertanya kepada Arion yang ada di samping nya. "Kek, Kakek enggak tanya gitu sama Arion??" Arion bertanya dengan menatap kakek nya.
"Bukan nya tadi kakek sudah bertanya nak??"
"Kapan kek?? Orang yang kakek tanyain hanya Aula"
"Benarkah?? Kalau begitu kakek Amnesia"
__ADS_1
Arion mendengus menatap Yuda, berbeda dengan Aula yang sudah tertawa sejak tadi di samping Yuda, sedangkan Yuda tersenyum melihat cucunya yang kesal dengan nya.
Yuda mengajak Aula dan Arion untuk makan bersama di meja makan, lebih tempat nya sarapan yang telat karena Yuda sengaja menunggu cucu cucu nya datang ke Rumah nya.
Mereka sarapan yang telat dengan berbagai obrolan ringan Yuda, Aula dan Arion, Yuda semakin gencar menggoda Arion.
"Arion, kamu beruntung punya calon istri yang cantik seperti Aula"
"Yah Arion sangat beruntung kek"
"Yah, Andai Kakek masih muda Aula pasti memilih kakek dari pada kamu"
Arion menatap cengoh kakek nya, Yuda sendiri sangat santai memakan makanan yang ada di depan nya tanpa memperdulikan Arion yang tengah kesal dengan nya.
"Sudah lah kek, jangan mengandai andai"
"Kenapa?? Kamu takut kalah saing??"
"Mana mungkin kek"
"Kamu tanya aja sama cucu cantik kakek"
"Sayang kamu pilih Kakek apa aku??"
"Emm... Kayaknya kakek sayang"
Arion menatap Aula dengan tidak percaya bagaiman bisa tunangan nya memilih kakek nya dari pada dirinya.
Obrolan mereka berlanjut di ruang keluarga dengan canda dan tawa, Yuda yang semakin senang membuat Arion kesal dengan dirinya, Arion sendiri tidak benar benar kesal dengan Yuda, Arion sangat tau kalau kakek nya sangat menyayangi nya.
"Kek.." Aula memanggil Yuda yang ada di samping nya.
"Kenapa nak??" Yuda menatap Aula dengan bertanya.
"Ikut lah tinggal di Mansion Papi" Aula menatap Yuda dengan memohon agar Yuda mau menerima ajakan Aula
"Tapi nak, kakek enggak mau kalau sampai kakek menyusahkan Nak Van"
"Kek, Aula mohon sama kakek"
Dengan segala bujukan Akhir nya Yuda mau ikut Arion dan Aula pulang ke Mansion Van, Arion sangat bersyukur memiliki Aula yang tulus menyayangi keluarga nya sampai dengan kakeknya.
Arion menatap Aula dengan sayang, cinta yang begitu sangat besar, Aula yang merasa di tatap tersenyum menatap Arion. Yuda beranjak dari duduk nya untuk mengemas barang barang nya untuk dia bawa ke Mansion menantu nya.
Setelah kepergian Yuda, Aula mendekat kearah Arion yang yang ada di sofa, Aula duduk di pangkuan Arion, Aula menatap Arion dengan cinta, dengan menyelipkan rambut Arion di belakang telinga.
Setelah dua puluh menit Yuda kembali ke ruang keluarga mengajak cucu nya untuk segera ke Mansion Van, Agar Arion bisa menghabiskan waktu berdua dengan Aula.
__ADS_1