
"Ella pulang..."
Ella pulang bersama dengan sang kakak tertua dan kakak kedua, Ella masuk dengan berteriak seperti bisanya. Sedangkan kedua kakaknya sudah siap untuk menutup telinga mereka yang merasa berdengung.
Princess mendekat kearah ruang keluarga setelah mendengar teriakan putrinya yang kini sudah duduk bersandar di sofa ruang tamu.
"Bagaimana nak hari hari kalian di kampus???"
"Seperti biasa Mi, tapi kali ini ada yang menarik" Celoteh Ella yang sudah menatap Princess yang duduk di samping nya
"Apa yang menarik Ell???" Princess menatap Putri nya sepertinya sangat antusias untuk menceritakan
"Tadi ada Senior yang ganggu junior Mi"
"Serunya di mana Sayang??? itu sudah biasa"
Ella menarik menghela napas mendengar perkataan Maminya. "Dengar kan dulu dong Mi"
"Iyah lanjut sayang"
"Satu cewek vs Empat, em no, no, hanya tiga karena yang satu hanya diam dan melihat. Dia dia menendang senior sampai terkapar Mi. Dan dia incaran kak Rion, Kak Ar saja sudah mecari biodata nya perempuan itu Mi" Ella bercerita dengan sangat antusias.
"Wah, benarkah nak dia gadis incaran kamu??? Anak Mami sudah besar" Princess menatap Arion dengan semangat dengan pandangan bertanya.
"Dia keturunan Alexander di bagian barat Mi"
"Alexander???" Princess mengulang kembali yang dia dengar
"Kenapa Mi???"
"Ah dia teman bisnis sih tukang selingkuh"
Tripel menatap Mami nya heran, siapa yang di maksud oleh Princess tukang selingkuh. "Itu Papi kalian"
"Emm, tanya saja sama tukang selingkuh" Princess memberi tahu tripel dan menyarankan Rion untuk bertanya kepada Van.
Van yang berniat duduk di sofa ruang keluarga mendengar Istrinya mengatakan tuka selingkuh penasaran siapa yang tukang selingkuh. "Siapa Mi yang tukang selingkuh??"
"Situlah siapa lagi" Princess menatap Van yang ingin duduk di samping dirinya.
Van menatap lelah sang istri tercinta, padahal dia tidak selingkuh tapi Princess enggak mau tau. Itu lah kenapa Van selalu bilang meeting di luar dengan siapa kalau enggak yah begini lah Van terima saja tuduhan Princess dari pada Mansion hancur karena teriakkan demi teriakkan Princess yang akan menghancurkan Mansion.
"Apa yang ingin kalian tanyakan kepada Papi???" Van menatap dua laki laki tampan yang mirip dengan nya ada di seberang nya.
"Aula Alexander"
__ADS_1
"Emm, gadis berambut pirang itu???"
"Hemm"
"Kau tertarik dengan nya Boy?? Apa kau tidak takut dengan nya???"
"Kenapa memang nya dengan dia Pi?? Tanya Ella yang mulai penasaran dengan sih pirang..
"Dua dijuluki Pirang dua pribadi"
"Hah???
Tripel ternganga mendengar sebutan untuk Aula, mereka menilai kalau Aula kepribadian ganda. " Apa maksud Papi???" Rion bertanya dengan tidak sabar.
"Dia itu berbeda dengan Aura, Aula sangat rama, ceria, dan juga terkadang bar bar. Di balik itu semua ada kekejaman yang dia turuni dari Dyah Oma nya dan juga Nisa Mommy nya, Jika Aura selalu menunjukan wajah datar dan dingin tapi dia memiliki belas kasih walau sedikit, tapi tidak dengan Aula" terang Van panjang lebar membuat ketiga anak nya tau kalau tidak wajah ceria kan selalu ceria.
"Kenapa dia dijuluki Pirang Pi??"
"Karena rambut Aula yang alami pirang sejak lahir"
"Apa???"
"Wah wah sungguh calon kakak ipar yang amazing"
"Hemz, dia yang akan seperti kucing nanti nya" Rion menatap Papi nya dengan sengit
"Elah Papi ngomongin diri sendiri" Ejek Ella yang kini sudah bermanja kepada Princess
"Hemm, ngaca Pi" Kini Ar kembali juga ikut mengejek Van.
Van menarik napas lalu membuang nya secara kasar, sungguh lelah dirinya harus berhadapan dengan anak anak nya yang semakin besar semakin menjadi laknat menurut Van.
"Kalian bertiga mending memotong rambut kalian biar adem itu kepala kalian" Van menatap tripel dengan malas
Tripel yang masih memiliki rambut panjang, hitam dna tebal, membuat mereka semakin tampan dan cantik. Rion yang memiliki rambut panjang yang selalu dia kuncir begitupun dengan Ar, mereka selalu mengikat rambut dengan gaya yang sama.
"Hemm, kenapa Papi bikin panjang rambut kami kalau tau panas??" Ella menyahut dengan menatap Papi.
"Itu karena Mami kalian, siapa yang berani menentang penguasa Mansion???"
"Badan aja gede takut Bini" Ella selau bisa membuat Van kesal.
Van beranjak dari duduk nya karena merasa kalah dengan anak anak nya di juga lelah terus membujuk Princess untuk mau memaafkan dirinya.
Setelah kepergian Van, Princess bertanya kepada tripel apa mereka beta kuliah dia di kampus yang mereka tempati. Atau memilih pindah keluar negeri, tripel mengatakan kalau mereka sudah nyaman di sana karena banyak yang menarik.
__ADS_1
"Ar, kamu jangan terlalu sering di Markas"
"Aku sudah menyelesaikan nya Mom, jadi aku akan jarang kesana"
"Apa yang kamu kerjakan nak???"
"Aku membuat senjata untuk Ella Mom"
"Aku tidak mau memakainya kak, terlalu mengerikan" ucap Ella dengan memandang Ar yang ada di samping Rion.
Princess mengerti kalau putrinya mungkin masih trauma dengan senjata buatan kakak nya. Ar yang di tatap adik nya paham kalau sang adik akan takut menggunakan senjata yang di buat. "Aku tidak mau yah kak, seperti cambuk kemari sekali di ayunkan metong"
"Jangan terlalu lembek dengan musuh"
"Kak Rion, lihat bedeba itu memaksa ku" Ella menatap adik nya mulai berkaca kaca mengeluarkan jurus jitu nya.
"Sudah lah jangan paksa dia Ar" Rion membela Ella
Huuufff....
"Manjakan tuan putri agar dia akan selalu manja walau di keadaan mendesak sekalipun" Ar menatap kakaknya dengan memberi kode
Rion tau kalau dengan kode yang di berikan Ar, Rion menatap Ella. "Kamu pakai saja senjata rakitan Kak Ar Queen"
"Lho lho lho kenapa berubah pikiran kak??."
"Mungkin, dia punya alasan sendiri"
"Mi, bujuk Putri kesayangan Mami. Aku enggak mau jadi tumbal kemarahan Grandma karena Queen terluka"
Aura akan mengomel bak beo yang belum makan kalau cucu perempuannya terluka, yang akan menjadi sasaran empuk adalah para laki laki, Jonie, Luwis, Van dan dua laki laki cucunya.
"Mi, jangan paksa aku"
"Sayang dengarkan kakak"
"DASAR KAKAK LAKNAT"
Pekikan Ella mampu terdengar sampai penjuru Mansion, Singa yang ada di taman belakang saja sampai mengaung karena mendengar suara Ella yang begitu melengking. Ar, Rion dan Princess sudah mengusap usap telinga mereka bertiga.
Ella bangkit dari duduk nya lalu mendekat kearah kakaknya. "aku tidak akan bantu kakak mendekati Aula sih pirang, usaha sendiri saja" Setelah mengatakan itu Ella berlalu dari sana meninggalkan Ar, Rion dan Princess yang masih mengusap telinga mereka. Terasa saat ini telinga mereka tuli mendadak.
Van yang ada di ruang kerjanya sangat terkejut mendengar suara putrinya yang menggelegar, sampai tidak Van sadari tablet yang di pegang terjatuh saking terkejutnya. Van mengusap dadanya perlahan.
Jangan lupa yah gaes like, komen, dan Subscribe.. dan terima kasih untuk yang sudah mendukung ceritaku..
__ADS_1