
Maharani melihat Mobil anak buah Van yang mendekat ke arah nya, beberapa orang mendekat ke arah Maharani. "Nyonya besar dimana orang itu???" tanya salah satu anak buah Van.
"Di sana kamu urus aku mau pulang punggung ku sakit melawan dia"
"Mari saya bantu Nyonya besar"
Yogi membantu Maharani untuk ke mobil nya, yang ada di dekat dengan mayat yang Maharani bunuh dengan sangat muda, memang preman yang di sewa Sinta hanya preman biasa yang biasanya ada di pasar untuk memalak sedangkan Maharani mantan Queen Leon King.
"Saya akan memanggilkan salah satu anak buah saya Nyonya untuk mengantar anda pulang"
"Kamu saja, biar orang ini jadi urusan anak buah kamu"
"Baik Nyonya besar"
Yogi membuka pintu mobil untuk Maharani, setelah Maharani masuk Yogi berlari ke sisi mobil. Yogi masuk ke dalam mobil Maharani duduk di kursi pengemudi, Yogi melajukan mobil nya menuju Mansion utama di mana Maharani tinggal selama ini.
"Gi.. Punggung ku sakit!! Apa aku sudah tua yah???"
"Ghmm!! Nyonya masih belum tua hanya kelebihan usai nya terlalu banyak"
"Kurang ajar!! sama saja kamu bilang aku tua"
"Saya tidak bilang anda tua Nyonya besar"
"Lalu apa???"
"Hanya banyak umur"
"Sesuka kamu lah Gi"
Maharani yang memang dekat dengan Yogi selama ini, karena selama ini Yogi menjadi pengawal pribadi nya tapi setelah Van menjabat sebagai ketua Leon king menjadikan Yogi ketua ke dua di Markas, dan pengawal Maharani langsung Aura atau Jonie langsung.
Karena Van lebih percaya ke dua orang tua nya untuk menjaga Maharani yang sudah tau, Apalagi keahlian Yogi dalam Leon king tidak bisa di ragukan lagi. Yogi bukan tangan kanan Van, Van mempunyai tangan kanan sendiri yang selama ini dia tugas kan di Markas selain Roy orang kepercayaan Van.
"Gi"
"Iyah Nyonya besar"
"Kamu enggak mau nikah???"
"Dengan siapa??? Saya tidak punya kekasih Nyonya besar"
"Hahaha wajah saja tampan, badan aja kekar, uang banyak ternyata enggak menjamin laku kamu"
"Bukan saya tidak laku Nyonya besar tapi belum ada yang mau saja"
"Hahaha, Anak kurang ajar kamu mau membuat ku sakit perut karena banyak tertawa"
__ADS_1
Maharani tertawa dan berhenti mengajak Yogi yang ada di depan nya sedang mengemudi mobil nya menuju Mansion, Maharani menatap Yogi yang ada didepan nya dengan mengejek tentu saja Yogi tau kalau Maharani masih mengejeknya soal belum memiliki ke kasih.
Meski begitu Yogi tidak sakit hati dengan perkataan Maharani yang, dia tau kalau Maharani sedang menggoda nya tidak berniat mengolok atau mengejek Yogi.
Yogi memasukan Mobil Maharani kedalam gerbang Mansion yang menjulang tinggi dan terlihat sangat koko itu, Yogi memarkirkan mobil nya di depan garasi Mobil.
Yogi keluar dari dalam mobil setelah itu ke sisi mobil untuk membuka pintu Mobil Maharani, Maharani keluar dari dalam mobil di bantu oleh Yogi, dia membantu Maharani masuk masuk ke Mansion nya.
Yogi membuka pintu utama Mansion dia dengan Maharani masuk ke dalam Mansion, Semakin masuk ke dalam Mansion Yogi dan Maharani melihat Van yang duduk di ruang keluarga dengan laptop di tangan nya.
"Selamat sore tuan Muda"
Van mendongak dia melihat Maharani yang di di gandengan Yogi tengah mendekat ke arah nya, Van bangun dari duduk nya dia berjalan mendekat ke arah Maharani dan Yogi. kini Van mengambil Ahli Maharani, sedangkan Yogi mengikuti dari belakang.
Van membantu Maharani duduk di sofa ruang keluarga, lalu dia menatap Yogi yang tidak jauh dari sofa di mana Maharani duduk. "Ada Apa???"
"Saya sudah menyiapkan nya".
"Tunggu sampai penerus Alexander lahir, baru kita bergerak"
"Baik tuan muda, kalau begitu saya permisi dulu tuan muda, Nyonya besar"
"Hemm"
Van duduk di samping Maharani dia menatap Maharani dengan sendu dan lega karena nenek nya yang dia sayangi pulang dengan selamat tanpa ada luka. "Apa Grandma baik baik saja???"
"Yah sangat baik!! Jangan terlalu cemas dengan Grandma"
"Grandma baru sampai nak, jangan salahkan kakak kamu"
"Baiklah Grandma jangan ulangi lagi kalau tau di bukan supir Grandma kenapa Grandma tidak urungkan niat untuk ke rumah sakit???" Yuvi mengomel dengan duduk di sofa yang ada di seberang Maharani.
"Lihat lah gadis ini terus saja mengomel, apa dia terlalu banyak makan pisang Ano???"
"Seperti nya begitu Grandma".
Yuvi yang mengomel menghentikan omelan nya mendengar Maharani menggoda nya dengan mengatakan kebanyakan makan pisang, Yuvi mengerucutkan bibir nya membuat Maharani sangat gemas dengan tingkah manja cucu perempuan nya.
"Lebih baik kakak diam, dan persiapkan mental kakak untuk nanti malam"
Seketika Van ingat kalau nanti malam Princess mengundang Ervan untuk datang kemari makan malam dengan Princess, Van seketika bangun dari duduk nya berlari ke arah lift.
Sedangkan Maharani bingung dengan ke dua cucu nya, hal apa yang membuat Van frustasi, apalagi setelah mendengar apa yang dikatakan Yuvi, Van langsung berlari kencang ke arah lift.
Maharani yang penasaran mantap Cucu perempuan nya dengan bingung. "Kenapa nak???"
"Kak Princess mengundang Kak Ervan untuk makan malam dengan nya"
__ADS_1
"Ervan Rival Van???"
"Iyah Grandma???"
"Kenapa Princess mengundang musuh???"
"Kak Ervan menyukai kak Princess"
Maharani melupakan kalau selama Princess ada di kampus Ervan yang selalu melindungi nya, Maklum salah orang tua terkadang pikun dalam hal apa saja. "Hah nanti di Mansion akan terasa panas saat makan malam kalau begitu"
"Iyah kita lihat saja Grandma!! Apa kak Van berhasil membujuk Kak Princess untuk membatalkan undangan makan malam dengan Ervan"
"Itu lah ibu hamil keinginannya selalu saja aneh aneh"
Maharani menceritakan saat Mommy nya mengandung nya, dan juga menceritakan bagaimana Aunty nya mengandung kakak nya Van, Yuvi sesekali tertawa mendengar penderitaan Daddy dan Uncle nya. Maharani sangat bahagia melihat cucu nya tertawa sangat lepas.
Saat Maharani sudah selesai menceritakan saat Mommy dan Aunty nya mengandung diri nya dengan Van, Maharani menyuruh Yuvi untuk mandi barang kali tamu nya memang datang. Mereka harua menyambut hangat tamu yang di undang khusus oleh Princess.
Waktu cepat berlalu tapi Van belum juga bisa membujuk istrinya untuk membatalkan undangan makan malam untuk Ervan, dia tidak mau kalau Ervan makan malam dengan Princess. Terlihat kini Van tengah Frustasi di samping istrinya, Sedangkan Princess tidak menghiraukan Van yang sedang Frustasi berat memikirkan dirinya.
Sedangkan Ervan sudah dalam perjalanan ke Mansion Maharani, dia mulai teringat bagaimana dirinya dulu dekat dengan Maharani dan juga sering main ke Mansion utama. Ervan tentu saja tidak akan berangkat sendiri dia di temani oleh Asisten pribadi nya Devan.
"Tuan Apa anda yakin pergi ke sana???"
"Iyah untuk apa aku tidak yakin"
"Saya takut ini jebakan tuan muda"
"Sudah lah kalaupun jebakan aku akan mati dengan melihat Princess"
"Apa anda benar menyukai istri tuan muda Van???"
"Iyah Dev, dia berbeda dengan yang lain!! Dia sangat apa ada nya dan sederhana"
"Anda mencintai istri tuan muda Van akan semakin membuat anda sakit taun muda"
"Hah selalu saja seperti ini Dev"
Devan berhenti di depan gerbang Mansion utama, Devan menekan klakson Mobil agar penjaga tau kalau ada yang datang ke Mansion nya, tidak lama gerbang di buka dari dalam, penjaga menghampiri mobil yang masih ada di depan gerang.
Tok tok tok..
Devan menurunkan kaca Mobil nya, tentu saja mereka tau siapa Devan. "Ada apa tuan Devan datang kemari???"
"Mengantar tuan muda Devan bertemu dengan Nona muda Princess"
"Saya akan menghubungi Nona dulu mohon tunggu sebentar tuan Dev"
__ADS_1
"Baik lah"
penjaga menghubungi orang yang ada di dalam untuk memastikan kalau memang benar Nona mereka mengundang Tuan muda Ervan. Setelah mendapat perintah untuk memberi akses Ervan masuk ke dalam, penjaga depan mempersilahkan Devan untuk memasukan mobil nya ke halaman luas Mansion utama.