
Tripel memasuki gedung kampus bersama dengan Ella yang selalu menempel di lengan Arion kakak pertama nya. "Kakak, bagaimana punya tunangan kak??" Ella yang penasaran akhirnya bertanya
"Kenapa memang nya Queen?? Kamu mau juga tunangan??" Arion bukan nya menjawab malah balik bertanya kepada Ella
"Iyah mau sih kak tapi aku enggak yakin sama Yoga, karena sampai saat ini onde onde eh maksud El Ondel ondel nya masih ngintil mulu sama Yoga"
Ella mengatakan bukan hanya karangan saja melainkan dia melihat nya sekarang kalau Yoga tengah di ikutin Wilona dengan dua teman nya bagaikan body guard nya Yoga.
Wilona yang melihat Ella bersama dengan kedua kakak nya mencoba untuk memanas manasi Ella dan mungkin saja salah satu kakak nya ada juga yang panas begitulah kira kira isi pikiran Wilona yang kini sidah memegang tangan Yoga dengan sangat erat.
"Hay sayang"
"Hay kak, apa kakak punya pengawal baru??"
"Jangan hiraukan mereka sayang"
"Kamu mau ke kelas mau aku antar??"
"Mau tapi tanpa onde onde"
Arion dan Arvin hanya mengulum bibir nya mendengar kata kata onde onde lagi dari mulut Ella. "Ondel ondel adek!!"
"Oh iyah lupa aku kak"
Wilona menatap tajam Ella, Wilona merasa iri dengan Ella yang di kelilingi oleh para cogan, saat Wilona dan Ella saling tatap menatap terdengar suara cempreng yang sudah jelas dan mereka ketahui.
"Beb"
"Ayang"
Arion dan Arvin menatap kedua perempuan cantik itu berlari kearah nya dengan terlihat senang, Felisa dengan Aula berlari dan sengaja menabrak punggung Ria dan Luna.
Brukkkk..
Ahhh
Sialan.
"Elo enggak punya mata??" pekik Ria
"Punya tapi enggak gue gunain" Felisa menyahut dengan santai nya.
"Elo.. Dasar cewek gila"
"Kalau gue enggak gila mana mau Ayang Arvin sama Adek gemes"
Felisa menatap Wilona dengan mengejek, Felisa dengan santai nya malah ada di gendongan Arvin sejak tadi datang. Berbeda dengan Arion yang kini di gandeng dua perempuan cantik di kanan dan kiri nya.
Ella menatap Aula yang juga menatap nya dengan saling kode entah apa yang mereka bicarakan lewat tatapan mata mereka. Yang jelas kini mereka saling pandang dan menaik turunkan kedua alis mereka.
Satu
Dua
Tig...
Lempar!!!!
Kedua perempuan cantik itu melempari kaki Wilona dengan kedua teman nya dengan petasan banting secara bertubi tubi.
__ADS_1
syet kratak kratak
Ahhh.. Ahhh
"Dasar perempuan gila, hentikan sialan" pekik Wilona
Wilona dengan ketiga teman nya melompat lompat bagaikan bermain lompat tali, dengan terus berteriak. Aula dan Ella terus melempari mereka dengan petasan yang entah dari mana dua perempuan cantik itu dapatkan.
ketiga cogan yang ada di sana bukan nya bantuin malah terkekeh melihat tingkah Aula dan Ella, penduduk kampus juga menikmati pertunjukan yang di buat oleh Aula dan Ella.
"Yoga, perempuan kayak gitu kamu jadiin pacar enggak berkelas sama sekali" pekik Wilona yang kini sudah menarik tangan Yoga untuk ikut dengan nya
Yoga melepas tangan Wilona dari tangannya secara kasar, sehingga membuat tubuh Wilona oleng dan menabrak tukang sampah yang mengambil sampah di setiap ruang kelas.
Brukk
Ahhhhh
Syuurr..
Sudah jatuh tertimpa sampa pula, gelak tawa memenuhi lorong kampus yang ramai oleh penduduk kampus, bukan hanya mereka melainkan cogan kini sudah tertawa ngakak melihat betapa miris nya Wilona, dua teman nya saja sudah ingin tertawa tapi mereka tahan.
Terlihat dari wajah memerah mereka menahan tawa, apa lagi di wajah putih mereka membuat terlihat jelas mereka menahan tawa.
Ria dan Luna membantu Wilona untuk berdiri, niat membantu malah mereka ikut terjatuh karena kulit pisang yang ada di samping Wilona.
Brukkk
Ahhhhh
Hahahahhaah,
Bukan nya mereda malah semakin menjadi tertawa mereka semua, Wilona dengan teman teman nya bangun dengan hati hati dan saling bantu. Mereka menatap tajam tiga perempuan yang kini masih tertawa ngakak bersama dengan para cogan.
"Pakai juga baju badutnya masak cuma dandanan doang yang kayak badut" kini giliran Aula yang mengejek Wilona, ejekan Aula kembali membuat tertawa Mahasiswa yang ada di sana.
"Kamu mau mencoba deketin para cogan kami oh jangan harap" kesal Felisa yang malah kini menyembunyikan wajah nya di leher Arvin.
Wilona dengan kesal mengambil kayu balok yang ada di samping tong sampah, dia mengangkat kayu balok itu lalu dia ayunkan kepada Felisa yang tengah terlelap.
Bhukk
Ahhh...
Bukan Felisa yang berteriak tapi Wilona yang kini sudah terpental jauh karena tendangan Arvin, Wilona terkapar di atas rumput hijau dengan memuntahkan darah segar dari mulut nya.
uhuk uhuk..
Wilona meringis kesakitan di dadanya karena mendapatkan tentangan dari Arvin yang tidak akan tinggal diam kekasih hati nya akan di pukul dengan kayu balok.
"Vin elo apa apan sih" pekik Luna yang tidak di tanggapi oleh Arvin.
"Mampus"
"Dasar enggak tau diri"
Ria dan Luna mendekat kearah Wilona yang kini sudah tidak sadarkan diri di rerumputan, tukang sampah yang sedari tadi melihat semuanya hanya diam tidak berani bersuara karena dia tau siapa ketiga gadis dan ketiga pria yang ada di depan nya.
Tukang kebun bukan sembarang tukang kebun, dia perna menjadi anggota bawa tanah yang sudah pensiun, menjadikan dia tau siapa saja yang Wilona tantang.
__ADS_1
Yoga mendekat kearah Wilona dengan teman teman nya, dia menatap Wilona dengan sinis dan tajam. "Bawah dia ke rumah sakit sebelum gue dempak dia dari kehidupan gue"
"Kenapa elo kejam banget sama Wilo, padahal dia selalu baik sama elo" Ria menatap tajam Yoga yang ada di depan nya, dia enggak terima kalau teman nya di buat mainan.
"Elo jangan anggap temen elo ini baik, sebelum elo tau kebusukan dia yang nusuk elo dari belakang" Yoga yang merasa kasihan dengan Ria yang selalu membela Wilona padahal Ria di tusuk Wilona berulang kali.
"Apa maksud lo Yog???" Ria penasaran kenapa Yoga berbicara seperti itu.
Yoga memberikan tablet yang dia ambil dari dalam tas kepada Ria, Ria yang dengan kebingungan nya menerima tablet yang di berikan oleh Yoga, Ria meneteskan air mata nya saat melihat rekaman cctv yang ada di Apartemen Wilona. Bukan bukan yang benar Apartemen Lusia yang di berikan kepada Wilona.
"Apa ini bener Yog?? Dia mengambil kekasih gue???" Ria bertanya dengan air mata yang bercucuran.
"Hemmz, bukan hanya merebut pacar elo tapi dia juga merebut tunangan elo, Bram tunangan elo udah enggak segel karena teman elo yang selalu elo bela" setelah memberi tahu kebusukan Wilona, Yoga kembali mendekat kearah Ella dan yang lain.
Yoga meninggalkan Wilona dengan Ria yang kini menatap benci Wilona, Luna mengusap punggung Ria setelah Ria tenang dia mengajak Luna pergi meninggalkan Wilona.
Wilona yang terkapar tidak sadarkan diri di biarkan begitu saja, Ria dan Luna memutuskan pertemanan nya dengan Wilona.
Di taman kampus Tripel, Aula, Felisa, dan Yoga duduk saling pandang. Mereka di landa keheningan, tidak ada yang memulai percakapan di antara mereka.
"Ghemm..."
kelima menatap Yoga yang baru saja berdahem, mereka bingung dengan Yoga apa yang sebenarnya yang ingin di katakan.
"Eh, muka datar kayak aspal, mau ngomong apa lo???" Felisa bertanya dengan memandang Yoga bingung.
"Gue, mau lamar Ela jadi milik gue"
Tripel menatap Yoga yang ada di samping Ella. "Gue enggak mau adek gue jadi sasaran empuk nyokap elo yang udah ketutup sama siluman itu" ucap Arvin dengan tegas
"Gue udah ngumpulin bukti yang bisa buat Mama gue buat Wilona pergi" ucap Yoga dengan yakin.
"Buat dia menjauh dari hidup elo baru gue lepasin adek gue" kini giliran Arion yang menegaskan bawa dia tidak mau adik nya merasakan sakit.
"Sayang kamu mau kan nunggu beberapa hari lagi??"
"Nunggu apa???"
"Nunggu aku buat Wilona jadi makanan para teman teman ku"
"Hemmm"
"Setelah itu aku akan melamar kamu jadi istri aku" ucap Yoga dengan menatap Ell dengan sayang dan cinta di mata nya
"Iya"
Suasana kembali hening, dengan pikiran masing masing, entah apa yang mereka pikirkan dengan menatap lurus ke depan. Sampai akhir nya suara Felisa membuyarkan keheningan yang melanda.
"Ayang, kamu kapan mau melamar aku??"
Arvin menatap Felisa yang ada di samping nya dengan alis satu yang terangkat keatas. "Gue enggak akan ngelamar elo" ucap Arvin yang to the poin.
"Lah kenapa Ayang??" Felisa menatap Arvin dengan mata yang mengembun
"Karena gue bakal langsung nikahin elo"
"What???"
"Ah, Ayang jadi melo"
__ADS_1
"Emang dasarnya elo cengeng"
Mereka akhirnya tertawa melihat Arvin yang dingin dan irit bicara malah kini menanggapi celotehan Felisa yang abstrak.