PRINCESS UNTUK TUAN MAFIA

PRINCESS UNTUK TUAN MAFIA
LUVIER


__ADS_3

Felisa berjalan kearah kantin di mana Arvin selalu ada di kantin, di setiap jalan ke kantin dia selalu menjadi perhatian setiap penghuni kampus. dia yang awal di kenal karena bar bar nya kini dia terkenal ke ganasnya.


"Felisa..!!"


"Ah iyah.."


Felisa banyak mendengar sapaan dari banyak penduduk kampus, Felisa dengan bar bar nya membalas sapaan mereka.


Di ambang pintu kantin, dia mencari sosok tampan yang selalu ada di hati nya, tapi tidak menemukan nya di kantin. Felisa berbalik arah berniat untuk mencarinya di tempat lain.


"Anjir, setan.."


Felisa mengusap dada nya, Felisa terkejut akan sosok tampan yang ada di tepat di belakang tubuh nya. "Pin elo mau bikin gue Mampus??? Elo mau cewek lain yah??" Felisa menatap kesal Arvin yang kini ada di depan nya.


"Ngapain elo celingukan di sini?? tanya Arvin dengan menatap.datar Felisa


"Mau cari cowok tampan" ucap Felisa dengan ketus


"Enggak ada cowok tampan di sini, orang paling tampan di sini itu gue" Arvin mulai menunjukan rasa kesal nya saat mendengar Felisa ingin mencari cowok lain.


"Sok banget elo jadi orang" Felisa melangkah meninggalkan Arvin dengan kekesalan di hatinya, Arvin mengikuti langkah Felisa dengan menggerutu dongkol.


Saat Felisa dengan Arvin ingin berbelok ke taman kampus, mereka di hadang wanita setengah baya yang masih sangat cantik, penampilan nya juga uwau. "Kamu yang nama nya Felisa??" pekik Lusia Mama Yoga


"Iyah kenapa???" Felisa bertanya dengan sangat santai


"Kamu berani menganiaya tunangan anak saya, saya akan jebloskan kamu ke penjara sialan" pekik Lusia mengundang penduduk kampus untuk melihat apa yang tengah terjadi.


"Penjara...??? penjara pun takut dengan saya" Lirih Felisa dengan nada dingin dan kaku nya


"Siapa kamu ha?? Orang penting, orang terpengaruh??"


"Felisa Luvier"


Arvin yang mendengar mana Luvier dia mengingat Mafia kejam tanpa ampun, dan juga sangat licik. "Jadi dia keturunan Luvier" Batin Arvin


"Luvier...??? Hahaha tuan Luvier tidak punya anak perempuan dia hanya punya anak laki laki!! Kamu jangan mengada ngada" pekik Lusia yang memang mengenal Luvier, siapa yang tidak kenal ketua Mafia Zebra.


"Saya enggak peduli, kalau anda masih saja mau bertemu dengan Papi Saya silangkan datang ke kediaman nya" Felisa ingin masuk kedalam kelas tapi tangan nya di pegang oleh Lusia, Lusia berniat menampar Felisa tapi Lusia lebih dulu menampar Lusia sampai tersungkur.


Felisa mendekat kearah Lusia yang terduduk di lantai. "Dengar gue enggak mau kasar kalau elo kasar duluan. Jangan salahkan gue buat kirim elo ke bertemu dengan Malaikat" Felisa menekan kata kata nya di akhir kalimat.

__ADS_1


Tidak jauh dari sana ada Yoga yang melihat Mama nya ada di lantai, dia berjalan mendekat kearah Lusia. "Ada apa Ma??" Yoga bertanya dengan membantu Lusia bangu dari duduk nya.


"Dia nampar Mama Ga" Lusia menunjuk Felisa


Yoga menatap keturunan Luvier itu dengan pandangan yang sulit diartikan. "Jauhi dia Ma, atau Mama akan tau akibat nya dan Yoga enggak mau bantu karena yang Mama belah bukan anggota kelurga" terang Yoga kepada Lusia.


"Dia tunangan kamu nak"


"Cukup Ma"


"Kenapa kamu takut sama dia Ga??" Lusia bertanya dengan memandang Felisa sinis.


"Bukan kah Mama sudah di beri tahu kalau dia anak dari tuan Luvier??" Yoga mengingatkan Lusia, kalau Felisa bukan orang sembarangan.


"Yoga kamu percaya dia anak tuan Luvier?? tuan Luvier hanya punya anak laki laki"


Felisa tidak menghiraukan perdebatan antara Yoga dan Lusia yang memperdebatkan hal yang enggak penting. Sebelum Felisa benar benar pergi dia mengingatkan Lusia kembali agar tidak mengganggu nya.


"Gue ingatkan jangan ganggu gue tan, kalau enggak mau menyesal" Lirih Felisa


Felisa mengajak Arvin meninggalkan Lusia dengan Yoga yang memperingatkan Lusia agar tidak menggangu Felisa kembali. Kalau sampai terjadi sesuatu Yoga tidak akan mau membantu Lusia apa lagi menyuruh anggota nya untuk membantu nya.


"Jika Mama mau membela Wilona jangan bawa bawa Anggota Merah"


Sedangkan sekarang Felisa tengah ada di taman dengan Arvin yang terus menatap Felisa tidak berkedip, Felisa yang sedari tadi menatap Arvin menjadi bingung kenapa Arvin menatap nya dengan tidak berkedip. "Kenapa lo?? Gue emang cantik dan elo juga udah terperosok dalam pesona kecantikan gue" Ucapan Felisa mampu membuyarkan lamunan Arvin.


"Elo adik bang Raga beneran???" Arvin menanyakan ketidak percayaan nya, mana mungkin Felisa yang bar bar ini adik dari Raga Luvier, sedangkan Raga pria yang sama dengan nya, apa lagi tuan Luvier juga irit bicara bagaimana bisa adik nya kayak ulat kepanasan.


"Elo kagak percaya?? Sama gue juga kagak percaya anjir" Felisa menyahut dengan gaya tengil nya.


"Sayang.. Gue nanya bener anjir" Arvin sangat kesal mendengar jawaban kekasih nya.


"Ahhhh.. Anjir anjir anjir elo manggil gue sayang?? Sayang donk.. Wasek" Felisa malah berceloteh tidak jelas.


"Elo bikin gue kesal aja"


"Iyah iyah, gue adik bang Raga sih kaku sialan itu"


"Kok sialan??? Gue bilangin dia lo"


"Bodoh amat, gara gara dia gue pindah ke Singapura anjir"

__ADS_1


"Memangnya kenapa???"


"Dia yang mau sekolah di sana, malah ngajak gue"


"Jadi elo bener adik bang Raga" pekik Arvin.


"Astaga naga bau mulut naga!!! elo mau bikin gue mampus anjir, iyah gue adik bang Raga Levier anak dari Arif Levier dan Luluk Levier"


"Kenapa beda bangat anjir??"


"Apanya???"


"Nyonya Luluk Levier itu sangat anggun dan sangat sopan kenapa anak nya kayak ulat bulu gini???"


"Sialan lo, gini gini istri elo bangsat" Felisa sangat kesal mendengar perkataan Kekasih nya.


Mereka tertawa bersama berbeda dengan Lusia yang ada di rumah sakit menunggu Wilona yang baru sadar, Wilona kemarin menjalani operasi karena benturan di kepalanya sangat keras menjadikan tulang tengkorak bermasalah.


"Sayang apa ada yang sakit??" tanya Lusia kepada Wilona


"Kepalaku saki Ma"


"Mama akan panggil dokter untuk kamu nak, sebentar yah"


"Iyah Ma"


Lusia keluar dari ruangan Wilona dia memanggil dokter untuk melihat keadaan Wilona yang dia anggap akan menjadi menantu nya. Tidak berselang lama Lusia kembali dengan dokter, doker memeriksa Wilona, setelah menjelaskan semua sang dokter pergi dari ruangan Wilona.


Lusia duduk di samping ranjang Wilona, dia menatap Wilona dengan sayang. "Lona kamu tau siapa perempuan itu?? Apa dia anak dari tuan Luvier???" tanya Lusia


"Tidak tau Ma"


"Yah sudah kamu istirahat saja, Mama akan menelpon Papa sebentar"


"Iyah Ma"


Lusia menghubungi suami nya untuk menanyakan apa benar kalau tuan Luvier punya anak perempuan. Setelah tau dari suami nya, Lusia memperingatkan Wilona agar tidak mengganggu Felisa lagi.


Tapi Wilona tidak menghiraukan peringatan Lusia, setelah keluar dari rumah sakit dia akan membalas dendam kepada Felisa.


"Gue enggak peduli anak siapa yang jelas gue bakalan balas perbuatan nya sama gue" Batin Wilona

__ADS_1


"Sayang kamu dengarkan Mama bilang apa?? Dia buka lawan kamu" Lirih Lusia memperingatkan Wilona.


Wilona tersenyum menatap Lusia degan wajah polosnya, wajah kepura puraan yang beluk Lusia ketahui sampai saat ini. Lusia selalu mandang Wilona sangat polos dan juga selalu membenarkan tindakan yang salah, menjadikan Wilona tumbuh dengan sangat sombong, egois, mau nya menang sendiri.


__ADS_2