
Yoga sudah sampai di rumah mertua nya yang ada di kampung, dia sebenarnya tidak masalah di mana anak nya akan tinggal dan menempuh pendidikan, karena menurut nya sama saja.
Hanya saja mungkin lingkungan nya yang berbeda, tapi di sini Yoga tidak mau bertengkar dengan istrinya yang terkadang suka berlebihan masalah anak.
Yoga, Ella dan Sherly bersiap pulang ke kota dengan sherly yang merasa kesal kepada Mommy nya yang selalu egois dan selalu ingin di penuhi semua keinginannya.
Sedangkan Princess berulang kali mengajarkan Sherly untuk tidak muda Emosi, begitupun dengan Van. Walau rasa kecewa ada untuk sang putri yang dia besarkan dengan Princess, malah tidak percaya dengan nya.
"Cucu Nenek yang cantik jangan lupa pesan Nenek yah sayang!! Jangan muda marah, harus tetap tenang" Bisik Princess di telinga Sherly.
Sherly mengangguk-anggukan kepala nya mengerti apa yang di ucapakan oleh Princess, Ella dan Yoga yang melihat itu hanya saling pandang tanpa berminat untuk bertanya.
Mereka yakin Princess tidak akan mengajarkan hal buruk kepada Sherly Cucu kandung nya. Princess menyayangi semua cucu nya tanpa kecuali tapi dia paling menyayangi Sherly karena kelebihan nya yang membutuhkan perhatian ekstra untuk selalu membuat perasaan nya tenang.
Van mendekat ke arah Sherly dan Princess, Van memberikan boneka kelinci yang sangat lucu. Boneka besar yang akan menemani Sherly pulang ke kota.
"Apa Kakek membeli nya??" Sherly menatap boneka yang terlihat sangat menggemaskan dan besar yang ada di tangan nya.
"Iyah, jangan kamu pegang hal yang akan membuat tangan lembut ini kasar, pengang boneka saja yang akan membuat kulit tangan Cucu Kakek akan selalu halus"
"Iyah Kek, terima kasih boneka nya!! ini boneka pertama yang akan mengisi kamar Sherly" ucapan Sherly membuat Van dan Princess menatap Ella dan Yoga bergantian.
Yoga menghela napas sedangkan Ella menunduk mendengar ucapan putrinya yang memang benar ada nya, tidak ada boneka, tidak ada mainan perempuan yang ada di dalam kamar Sherly.
Hanya ada kamar yang membosankan saat masuk kedalam kamar nya, Sherly tidak seperti saudara-saudara nya yang selalu punya mainan untuk di mainkan. Jika dia ingin bermain Vene dan Vero yang akan meminjamkan.
"Apa seperti ini kalian mendidik anak??" Princess bertanya kepada Ella dan Yoga setelah Van mengajak Sherly untuk masuk ke dalam rumah.
"Kami, kami tidak mau kalau sampai Sherly lemah" Ella menyahut dengan menunduk.
"Apa Mami perna merebut masa kecil kamu?? Apa tidak ada boneka yang mengisi kamar kamu?? Apa tidak ada ruang khusus di kamar kamu dengan berbagai macam mainan dan boneka!! Yang kecil sampai yang besar!!"
__ADS_1
"Mi, Ella dan Sherly berbeda"
"Tidak ada yang berbeda Ella, kamu merenggut masa kecil nya, kamu jadikan putri mu robot yang kamu peralat untuk keegoisan kamu" Bentak Princess yang merasa geram dengan putrinya.
"Dan kamu Yoga, kamu Daddy nya kamu berhak memberi semua yang di butuhkan anak kamu yang masih sangat kecil!! Kamu juga merenggut masa kecil nya, kalian orang tua yang tidak bisa mengerti mau anak seperti apa. Mami pikir kalian sangat baik mengurus putri kalian tapi Mami salah kalian membuat Cucu Mommy seperti mainan kalian" Princess sangat kecewa dengan anak dan menantu nya.
Ella dan Yoga tidak berani mengangkat kepala mereka yang menunduk, karena bukan hanya Princess yang mengatakan ini dulu Mama Yoga perna mengatakan hal yang sama dengan apa yang di katakan oleh Princess.
Tapi Ella tidak memperdulikan itu, sedangkan Kakak nya tidak mau ikut campur dengan cara Ella mendidik anak nya. Mereka tidak ingin bertengkar dengan Ella yang berubah mengerikan setelah Sherly dulu saat berusia lima tahun di culik.
"Kalian berdua orang tua gila yang mengasuh anak, pantas saja kalau Sherly tidak menganut sama kalian berdua yang seharusnya menjadi pelindung, teman, dan juga sahabat tapi kalina tidak memberinya" Princess berlalu dari hadapan Ella dan Yoga yang kini masih menunduk mendengar makian Princess yang baru mereka dengar.
Ella dan Yoga saling tatap setelah beberapa Menit setelah kepergian Princess. "Apa aku salah ingin putriku menjadi kuat dan tak terkalahkan" Lirih Ella bertanya kepada Yoga.
"Mungkin tidak salah tapi cara kita yang salah, menekan Sherly sampai Sherly terkadang hilang kendali" Yoga menyahut dengan memegang kedua bahu Ella.
"Apa aku harus menuruti nya membelikan dia mainan seperti Amelia, Vene dan Vero?? Mereka begitu di manja oleh kakak dan kakak ipar"
"Tapi boneka tidak akan membuat musuh tunduk kak" pekik Ella yang frustasi.
"Musuh juta tidak akan tunduk dengan senjata, mereka tidak akan tunduk kepada siapa pun termasuk kepada dirinya sendiri" Van menyahut saat dia tidak sengaja mendengar apa yang di katakan Ella.
"Apa yang Papi tau tantang Sherly"
"Papi tidak tau sama sekali yang Papi tau Papi menyesal telah berjuang untuk melindungi anak-anak Papi sampai rela mengorbankan nyawa Papi buat anak-anak Papi"
"Jadi Papi menyesal menyelamatkan Ella begitu Pi??"
"Iyah, Iyah Papi menyesal, kamu tumbuh besar dengan banyak kasih sayang, semua yang kamu inginkan Papi dan Mami penuhi, Papi tidak perna merenggut hak kamu sebagai anak. Papi menyesal telah mempunyai anak yang tidak tau cara mendidik anak nya sendiri padahal anak-anak Papi tidak perna kekurangan cinta dan Sayang apa lagi sampai tidak bermain dengan anak seusia nya dulu" ucapan Van begitu sangat dingin dan tegas membuat Ella dan Yoga bungkam.
Van masuk kedalam rumah untuk memanggil Sherly dan Princess,Van mengatakan kalau Ella dan Yoga buru-buru pulang karena mereka ada urusan yang mendadak.
__ADS_1
Padahal sebenarnya Van sangat kecewa dengan Ella dan Yoga yang tidak perna bisa mengerti Sherly yang masih butuh kasih sayang yang lebih, menjadi teman untuk bercerita, menjadi sahabat untuk berbagi, menjadi orang tua untuk mendidik dan menjadi pelindung.
"Kek, kenapa Kakek terlihat sedih??"
"Tentu saja Kakek sedih cucu Kakek meninggalkan Kakek" Van mengatakan hal yang tidak sama sekali yang membuat nya sedih tapi hal yang membuat nya sedih adalah hal yang tidak dapat oleh cucu nya nanti saat di Mansion utama.
"Jangan bersedih Kek, kan masih bisa Kakek menghubungi Sherly dengan panggilan Video"
"Emmm.. Cucu Nenek ini sudah sangat canggih rupa nya"
"Tentu saja Uncle mengajarkan Sherly banyak hal"
"Benarkah Uncle yang mengajarkan??"
"Tentu saja dia selalu marah kalau Sherly tidak belajar, kalau marah selalu mengatakan seperti ini Kek!! Anak nakal satu ini selalu saja membuat Uncle kecewa dan sedih lalu dia akan pura-pura batuk Kek.. Seperti ini uhuk.. Uhuk"
Van dan Princess tertawa melihat Sherly menirukan David saat Sherly menolak belajar tentang teknologi.
"Yah sudah sana kamu di tunggu Mommy dan Daddy kamu Nak" Van mengingatkan Sherly untuk menemui Ella dan Yoga.
Sherly menganggukkan kepalanya dia berjalan keluar dengan menyeret dua koper yang di tangan nya. Ella dan Yoga merasa kalau Van dan Princess sudah sangat kecewa dengan nya sampai Van secara tidak langsung mengusirnya.
Ella dan Yoga menatap putrinya yang terlihat bahagia bersama dengan Van dan Princess, setelah menatap Sherly mereka menatap Princess dan Van.
"Jangan perna membuat batu yang nanti nya tidak muda terbelah" Van mengucapkan kalimat yang sulit di mengerti Ella dan Yoga.
"Kenapa Kakek mengatakan itu??"
"Tidak ada pulang lah jadi lah anak baik yah nak"
"Iyah Nenek"
__ADS_1
Princess dan Van memeluk Sherly dengan sayang dan memberikan ciuman di seluruh wajah cantik Sherly. Setelah itu Ella, Yoga dan Sherly meninggalkan rumah sederhana Princess.