
Hari hari berlalu begitu saja, Arion yang masih berjuang mendapatkan cinta nya, Arvin yang tengah sibukkan dengan Felisa yang selalu mengikuti kemana pun Arvin pergi. Berbeda dengan gadis cantik yang tengah sendiri di taman kampus, duduk kursi bawa pohon yang rindang. Menatap perkumpulan anak anak yang sedang bermain basket.
"Wah, enggak nyangka kalau dia jago main basket" Lirih Ella yang sedang menatap kagum seorang laki laki tampan yang tengah memasukan bola kedalam ring.
Saat Ella tengah mengangumi nya Ella saling tatap dengan Rivano, laki laki tampan yang juga mengambil fakultas kedokteran. Ella memutuskan kontak mata dengan Rivano juga tengah menatap nya.
Saat tengah asik melihat permainan basket, Ella di kejutkan dengan suara twin yang tiba tiba saja datang. "Haaaa...!!!"
"Astaga..."
"Elo lagi ngeliatin siapa kak???" tanya Bulan yang tengah ikut melihat permainan basket di lapangan kampus.
"Enggak ada, gue lihat semua yang tengah main basket" Elak Ella yang enggak mau sampai dia menjadi omongan sang adik sepupu.
"Kalau gue mending liatin Yoga" ucap Bintang yang ada di samping Ella, Ella yang berada di antara twin.
"Yoga??" ulang Ella yang memang mendengar ucap Bintang walau sangat lirih.
"Iyah kah, elo liat cowok yang kekar tuh yang lagi memegang bola tampan bukan. Tapi sayang dia anti banget sama cewek" ucap Bintang Lagi.
"Maksud elo dia belok???" Ella menatap Bintang dengan bertanya. "Kan sayang taman taman belok" Batin Ella.
"Bukan belok anjir!! Dia itu cuek banget sama cewek dan kata nya dia udah punya tunangan yang juga kuliah di sini" Bintang menjelaskan kepada Ella agar dia tidak mengira Yoga suka pedang.
"Gue perna lihat dia di gandeng cewek yang pakaian nya kurang bahan, trs dandanan nya menor abis" Bulan menambahi.
Saat mereka tengah asik membicarakan Yoga dengan tunangan nya, mereka melihat ada perempuan pakai baju yang enggak layak di bawa ke kampus, apalagi dandanan nya menor banget. Mendekat kearah Rivano. "Sayang.."
Yoga menoleh kearah sumber suara, bukan hanya Yoga melainkan anak anak yang lain juga menoleh kearah sumber suara. "Ish, pandangan gue tiba tiba gelap woy, gue baik duluan yah" Lirih salah satu anak yang tadi bermain basket bersama Yoga.
"Ga gue balik dulu lah emak gue baru pulang dan nyuruh gue pulang lebih cepat" Akhir nya semua teman teman Yoga pergi satu persatu dari lapangan meninggalkan Yoga dengan ketiga perempuan yang ada di depan Yoga.
Yoga yang melihat itu menatap Malas teman teman nya, Yoga menatap datar perempuan yang ada didepan nya. "Ngapain elo kesini???" ucap Yoga dengan sangat kesal.
"Sayang, tante suruh aku buat nebeng kamu" Suara Wilona yang di buat semanja mungkin, dan kini Wilona sudah memeluk lengan kekar Yoga.
"Gue enggak Sudi pulang sama elo" Yoga menghempas tangan Wilona dengan sangat kasar
__ADS_1
Wilona masih saja tidak tau diri dia mencoba kembali mendekati Yoga. "Sayang kita ini sebentar lagi tunangan, kenapa kamu enggak mau lihat aku" Lirih Wilona yang kini sudah kembali memeluk Lengan Yoga.
"Gue enggak mau tunangan sama perempuan model kayak elo *****" geram Yoga yang selalu saja di ganggu oleh Wilona, apalagi teman teman nya enggak ada yang suka sama Wilona.
"Sayang apa maksud kamu???" dengan mata yang mulai berkaca kaca menatap Yoga, dia mulai mengeluarkan air mata kucing nya eh.. Maksud Mamak Air mata buaya.
"Gue enggak mau berlama lama sama perempuan kayak elo, gue juga udah ada janji sama kekasih gue" ucap Yoga, dengan menatap tajam Wilona. Mereka berempat kini menjadi pusat perhatian mahasiswa yang tadi melihat basket.
Wilona sangat terkejut saat Yoga mengatakan kalau dirinya sudah memiliki kekasih, Wilona menatap Yoga dengan penuh ingin. dan tatapan itu yang membuat Yoga sangat jijik dekat dengan Wilona. "Perempuan mana yang sudah kamu pacari akan bernasib sama dengan Cela"
Yoga mengeram saat dia kembali di ingatkan oleh Cela yang mati dengan keadaan yang mengenaskan, Yoga yang kesal akhir nya mencengkram kedua pipi Wilona dengan sangat kencang. "Tunggu gue bales rasa sakit gue kehilangan Cela, kalau gue udah nemuin kalau elo pelakunya gue enggak akan segan segan buat lempar elo ke kandang anggota gue yang haus akan belaian" setalah mengatakan itu Yoga menghempas kasar Pipi Wilona, sampai Wilona tersungkur.
Bulan, Bintang, dan Ella menatap cengo Yoga yang kini sedang mengambil tas nya yang ada di tepi lapangan, Wilona bangun lalu mendekat kearah Yoga dia memeluk Yoga dari belakang, Wilona yang tidak tau malu malah menggesek gesekan pepaya nya di punggung Yoga.
Mereka semakin menjadi tontonan Mahasiswa lain, banyak juga yang membicarakan mereka. Yogi seakan tuli dengan semua komentar yang tengah menatap mereka. banyak juga yang mengomentari Wilona yang tidak tau malu.
"Lepas"
"Enggak"
"Lepas"
"Enggak"
"Gue udah baik sama elo, tapi kayaknya elo enggak ngerti" Yoga mengatakan dengan nada yang ditekan.
"Yoga sakit"
"Hahah, elo tau sakit??? Tapi kenapa elo enggak mau dengerin gue"
"Gue tunangan elo wajar gue manja sama elo"
"Tunggu saat nya elo di dempang Mama gue dari Mansion Laundra" dengan melepas tangan Wilona.
"Gue enggak akan kemana mana Yoga Putra Laundra" pekik Wilona dengan sangat tebal muka.
Tiga perempuan yang melihat kepergian Yoga pun, juga ikut pergi dari sana karena pertunjukan nya sudah selesai, sedangkan Wilona menatap kepergian Yoga dengan Marah.
__ADS_1
Dua teman Wilona mendekat kearah Wilona yang memegang tangannya yang terasa perih dan sakit. Luna dan Ria dua antek antek Wilona yang masih waras tidak meniru gaya Wilona.
Meninggalkan Wilona dengan yang lain kini Bulan, Bintang dan Ella sudah ada di parkiran motor mereka. Ella naik keatas motor sport kesayangannya. Begitupun dengan Bulan dan Bintang
Mereka meninggalkan kampus, saat ingin membelokan motor mereka ke belokan persimpangan jalan. Ella menghentikan motor nya karena mendengar suara orang yang tengah berkelahi. Bulan, Bintang yang melihat Ella berhenti juga iku berhenti. "Kenapa???"
"Ada yang berkelahi"
"Dimana??"
Ella turun dari atas motor, dia berjalan mencari suara pukulan tendangan. Dan benar saja tempa di belokan yang tengah berkelahi, satu Vs sepuluh orang, Ella memanggil bulan dan Bintang.
Mereka bertiga bukannya membantu malah hanya melihat pertarungan yang tidak seimbang, sampai ada salah satu yang ingin menikam dari belakang, Ella melempar pisau kecil yang selalu ada di saku jaket kulitnya.
Syuuttt jleb..
Ahhhhh....
Pisau itu menancap cantik di tangan orang yang memegang pisau di tangannya, pisau yang di pegang pun jatuh. Yoga menoleh kebelakang saat ada musuh yang kini tangannya ada pisau kecil, dia menatap tiga perempuan cantik yang tidak jauh dari tempat Yoga berkelahi. Yoga menendang orang yang ingin menikam nya sampai terpental jauh.
Yoga mendekat kearah tiga perempuan yang masih berdiri mematung di tempat nya, karena melihat wajah tampan Yoga dengan sangat dekat. "Terima kasih sudah membantu"
"Dia yang membantu" ucap twin kompak dengan menunjuk Ella
"Emm, terima kasih"
"Ah iya, kalau begitu kami pergi dulu"
"Tunggu..!!"
Tiga perempuan yang sudah berbalik kembali menatap Yoga dengan pandangan bertanya. "Iyah kenapa???" tanya Ella
"Gue Yoga" dengan mengulurkan tangan nya.
" Gue Ella" Ella juga membalas uluran tangan Yoga baru Bulan dan Bintang yang berkenalan.
Setelah perkenalan Ella dan twin kembal ke motor yang mereka tinggalkan, sedangkan Yoga juga kembali ke mobil yang ada di tempat yaga berkelahi. Mereka kembali pulang ke Mansion masing masing.
__ADS_1