
"Kamu pikir kamu siapa?? Hanya lalat kecil bagi kami keturunan Alexander" Arion mengejek Herry.
"Kurang ajar, bunuh boca ingusan itu" pekik Herry kepada bawanya.
Siapa sangka orang-orang yang ada di pihak Herry selama ini ada lah anak buah yang ada di bawa perintah Princesa.
"Kenapa kalian hanya diam, bunuh dia" pekik Herry.
"Tangkap pria sialan itu!!" teriakan perempuan yang begitu sangat dingin terdengar di Aula besar Markas perkumpulan.
Princess yang menggandeng Van dengan anggun nya berjalan mendekat ke arah putra yang yang tadi pagi mengerjai nya.
Dua orang mendekat ke arah Herry yang tengah kesal dan marah saat ini terlihat jelas wajah nya memerah. "Apa-apaan kalian hah!!! aku bos kalian bodoh"
"Anda yang bodoh tuan Herry yang terhormat!! Di sini hanya tersisa anak buah ku sedangkan anak buah mu sudah sedari tadi aku lenyapkan"
"Kalian semua penghianat"
"Bukan mereka yang berkhianat kamu yang bodoh!! Mereka semua anak buah ku tentu saja mereka tidak mematuhi kamu"
"Kamu perempuan sok pintar di bawa belakang suami mu!!"
"Hahahahaha..."
"Bawa dia, masukan laki-laki bodoh ini ke dalam jeruji markas!!! Ingin mencoba membodohi ku dan menyerang anak dan menantu ku akan berakhir di neraka" Mata Princess kembali merah, semua yang ada di sana menatap ngeri apa lagi nada bicara nya sangat mengerikan.
Waran merah mata Princess membuat ketua dan wakil yang berkumpul percaya bawa keluarga Alexander memang tidak akan perna di tumbangkan.
Di hari itu juga Herry di bawa ke Markas Leon king bersama dengan Sinta, satu komplotan yang membuat hidup keluarga Van tidak tenang. Pada akhirnya Keluarga Alexander yang menjadi perkumpulan Mafia yang masih di takuti di penjuru dunia.
Keluarga Van kembali damai tidak ada yang mengejar, mengintai setelah Herry dan Sinta berada di markas Leon king. Kedua anak Sinta tidak berani memohon untuk melepaskan ibu mereka karena ibu mereka jelas-jelas yang salah.
Arion menatap tawanan nya yang ada di dalam Markas, dia tersenyum mengejek dua tawanan yang setiap hari berteriak di dalam penjara Leon king. "Kalian berdua berteriak lah sesuka hati kalian!! Karena itu membuat suasa di sini menjadi berbeda dari biasa nya" Ejek Arion yang tengah bermain games di ponsel nya.
"Anak ku akan menghabisi kalian berdua lihat saja mereka akan membunuh kalian"
"Benarkah begitu tante?? Sungguh mereka akan datang?? Bahkan anak mu tunduk di bawa kaki Leon king"
__ADS_1
"Brengsek.."
"Hahahahah.. Tunggu sampai anak ku lahir aku akan membuat kalian berdua pergi ke neraka"
"Lepaskan aku brengsek"
"Apa lepaskan??? Hahaha kalian ingin di lepaskan dan ingin bebas setelah kami menangkap kalian dengan berbagai drama??? Bodoh"
Princess dan Van datang ke dalam penjara markas Leon King, Markas tempat tawanan nya yang tidak akan perna selamat dari tangan Leon King. "Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu menyerang putri ku!! Di kampus?? Kamu pikir aku tidak tau kamu menyuruh orang mengintai putri kecil ku!!! Hahahaha bahkan semut ingin menggigit putri ku saja aku tau apa lagi Manusia bodoh seperti kamu"
Princess memainkan cambuk yang selalu ada di pinggang nya, cambuk yang tidak perna lepas dari pinggang nya. Bahkan di Mansion saja cambuk kesayangan nya selalu melingkar cantik di pinggang Princesa.
"Mi, ngeri sekali anda!!"
"Tutup mulut kamu anak kurang ajar!! Mami masih sangat kesal dengan kamu"
"Kenapa Mi??"
"Ini anak kamu masak dia pura-pura pingsan di saat aku tengah memarahi nya dengan Adik nya!! Tentu saja aku sangat panik melihat anak kurang anjar ini jatuh tidak sadarkan diri"
Plakkk..
"Kamu sudah tau Mami kamu sudah tegang kamu malah membuat nya semakin panik"
"Yang jelas dua orang yang sudah mengancam Queen sudah kita masukkan ke dalam kandang Leon King"
Sedangkan di tempat lain di pedesaan tiga perempuan cantik tengah menanam bunga yang entah dari mana mereka dapatkan. Roy yang menemani tiga perempuan yang tengah hamil itu harus pusing setiap hari nya karena selalu ada saja yang di minta tiga anak majikan nya.
"Uncle, lihat apa ini sudah benar??" Ella berteriak memanggil Roy yang ada di teras rumah.
"Iyah Nona, sudah ini sudah semakin sore ayo masuk dan cuci tangan kalian tidak baik perempuan hamil di jam segini berada di luar"
"Di Mansion tidak apa Uncle"
"Nona kita ini ada di desa orang, bukan di kota yang tidak percaya hal seperti itu"
"Apa mereka kudet Uncle"
__ADS_1
"Mereka tidak kudet Nona kecil, mereka menganut tradisi yang turun- temurun dari leluhur mereka"
"Kenapa leluhur Grandma tidak Uncle??"
"Sama saja saat dulu Nyonya besar hamil tuan dan noda muda menganut aturan dan tradisi leluhur, tapi dulu saat Eyang masih ada"
"Eyang??"
"Sudah kalian bertiga masuk atau kepala Uncle lepas dari leher Uncle karena pertanyaan kalian yang tidak ada henti nya"
Akhirnya dengan menggerutu mereka masuk ke dalam Rumah kecil dan nyaman di pedesaan yang jauh dari kata mewah. Bahakan mereka bertiga tidak di sediakan pembantu oleh Princess, mereka hidup di sana berdampingan dengan penduduk desa yang ada di desa terpencil.
Di samping Rumah mereka terdapat sumber mata air yang sangat jerni dan juga dingin, mereka terkadang bermain layaknya anak kecil yang bermain di perairan. Hidup di kota dengan keras, di didik sedemikian rupa, banyak memegang senjata berbagai macam bentuk nya.
Mencuci baju mereka dengan tangan dan di perairan sungai kecil yang ada di samping rumah mereka. Terkadang mereka akan menanam bunga yang mereka ambil dari belakang rumah yang banyak bunga yang tumbuh.
"Uncle kami lapar"
"Makan angin saja biar kembung kalian bertiga"
"Uncle.."
"Iyah nona muda"
"Lapar"
"Iyah nanti saya akan membelikan makanan untuk kalian bertiga"
"Tidak mau kami ingin Uncle yang memasak"
Hufff....
Dengan malas Roy masuk ke dalam dapur yang ada di rumah sederhana yang kini di tempati empat orang dengan satu laki-laki dan tiga perempuan hamil.
Roy mulai memasak yang di bisa dengan memasak nasi setelah itu Roy akan menggoreng telur yang selalu ada di dalam kulkas, lalu dia akan menumis sayur kangkung. Tidak lupa sambal.
Menu masakan yang dia pelajari lewat artikel yang dia baca, tidak mungkin dia akan memasak yang aneh-aneh di desa, yang mungkin akan sulit untuk mencari bahan untuk memasak.
__ADS_1
Setelah selesai dia menyajikan makan di meja makan di mana para perempuan hamil tengah menunggu nya. Mereka berempat makan dengan nikmat, menikmati suasa desa yang sangat tenang dan aman.
Mereka menikmati tempat baru, tidak ada hal mewah yang mereka gunakan, tidak ada kendaraan mewah yang mereka tunggangi, bahkan semua serba sendiri tanpa mengandalkan seorang pelayan seperti di Mansion.