PRINCESS UNTUK TUAN MAFIA

PRINCESS UNTUK TUAN MAFIA
PERDEBATAN


__ADS_3

Setelah kepergian Dokter keluarga Yuvi, Aura dan Laudya pergi dari kamar Van, mereka tidak mau mengganggu waktu mereka berdua.


Apalagi Princess dalam keadaan terluka karena menyelamatkan Van, Andai Princess tidak tepat waktu mungkin sekarang Van yang tertusuk pisau itu.


Van menatap manik indah milik Princess yang juga menatap nya, Van membelai pipi Princess dengan lembut. Van tidak perna melakukan hal ini kepada Sinta dulunya.


"Sayang terima kasih atas apa yang kamu lakukan untuk aku"


Princess tersenyum menatap Van, senyum yang tulus untuk Van. Van yang melihat itu seakan terhipnotis dengan senyuman Princess.


"Kamu yang pilih aku buat jadi istri kamu kan, jadi tugas aku membantu kamu dalam kesusahan, suka dan duka aku selalu sama kamu Ano"


"Tapi jangan bahayakan diri kamu lagi yah sayang, aku tidak mau melihat kamu terluka walau hanya lecet saja"


"Ano, kamu harus percaya kalau aku akan baik biak saja. Bukan kah selama ini kamu juga melindungi aku"


"Beda sayang aku sudah terbiasa dengan senjata sedangkan kamu tidak sayang"


"Yuvi sudah mengajarkan ku banyak hal Ano, mulai dari semua rasa sakit yang ada Yuvi sudah ajarkan bagaimana cara menyembuhkan nya. Aku memang terkena senjata tapi obat yang paling ampu itu dukungan dan kepercayaan kamu"


"Yuvi itu sesat sayang jangan dengarkan dia"


"Sialan banget kamu kak"


Teriakan seseorang menggelegar dikamar Princess dan Van. yang berani melakukan nya hanya ada dua gadis di mansion Van. Yaitu Princess dengan Yuvi, penguasa mansion.


Jika dulu Yuvi sekarang bertambah satu gadis lagi dan Van tidak akan bisa menghentikan gadis satu ini. Siapa lagi kalau bukan Princess.


"Telinga ku akan tuli mendengar teriak kamu, pulang sana"


"Enggak mau, aku akan ada disini sampai Princess sembuh"


"Tidak akan aku ijin kan kamu mendekati Princess, kamu mengajarkan dia yang sesat"


"Oh jadi kakak selama ini mengajari hal sesat kepada ku???"


Princess menatap Van yang sedang menatap Yuvi, karena guru Yuvi selama ini Van. Jadi secara tidak langsung Van yang mengajari Princess.


Plak..


"Sayang jangan dengarkan dia"


"Asal kamu tau Prin semua yang aku ajarkan ke kamu itu ajaran sialan calon suami kamu"


"Sayang kamu percayakan mana mungkin aku mengajarkan hal sesat sama adik aku sendiri"


Perdebatan mereka kembali menggemparkan mansion Van, bagaimana tidak gempar. Teriakan Yuvi sampai keluar kamar.


"Ada apa lagi dengan mereka kak"


"Kalian seperti tidak hafal dengan kelakuan anak anak kalian"


"Tapi Dad"

__ADS_1


"Jika kalian penasaran ayo kita lihat anak anak sedang berdebat masalah apa, bukan kah tadi Yuvi mengantar obat untuk Princess kenapa sekarang teriakan nya membaut getar mansion"


"Yah kan tujuan kita kesana Dad"


"Oh yah aku lupa sayang"


Ketiga orang yang mendengar apa yang Jonie katakan memutar bola mata mereka malas, Mereka berempat dua pasang paru baya itu melangka ke arah kamar Van.


"Apa yang terjadi???"


Suara berat Luwis menghentikan perdebatan mereka Van dan Yuvi yang ingin aduh mulut.


"Kenapa kalian diam???"


"Dad, kak Van yang memulai dulu"


"Kalian berdua daddy tendang ke langit baru tau rasa kalian"


"Metong dong dad!!!"


"Biar daddy dan mommy akan buat lagi"


"Tttiiiiddddaaaakkkkkk"


Semua orang yang ada didalam kamar Van menutup telinga mereka masing masing, karena teriakan Yuvi yang tidak main main.


"Daddy tampol baru tau rasa kamu"


"Sudah lah dad, kamu juga suka sekali membuat anak kamu yang cempreng ini berteriak"


"mommy" Yuvi merengek kepada Laudya.


"Iya sayang"


"Kenapa mommy bilang anak sendiri cempreng"


"Ah tidak sayang, maksud mommy anak mommy yang cantik"


Huuffff


"Terserah mommy saja"


Mereka menatap Princess yang menatap tajam Van seolah mereka akan segera aduh kekuatan.


"Lihat putra kakak, seperti kucing yang patu pada majikan nya"


Aura terkekeh mendengar adik ipar nya, dia pawang singa jantan. "Kita lihat keadaan menantu kakak, setelah itu kita kembali ke kamar, aku sangat capek kak"


mereka berempat melewati Yuvi begitu saja yang ada didepan mereka, Yuvi tentu tidak akan terima. Yuvi menatap satu satu orang yang melewati nya.


"Apa manusia sebesar aku transparan???"


Keempat orang tua itu menengok kebelakang menatap Yuvi yang menatap mereka dengan wajah melas.

__ADS_1


"Oh ada orang kami tidak lihat" Aura menjahili keponakan nya satu satu nya.


"Oh jadi kalian tidak lihat gadis cantik ini di sini??? Baik, kita lihat sekarang apa yang akan kalian lakukan kalau aku mengadu sama oma"


"Gemm, sayang anak mommy"


"Apa??? Katanya tadi tidak lihat anak nya ada disini???"


"Kami lihat nak"


Mereka sangat takut saat mendengarkan ibu mereka. Jelas mereka takut selain Van, Maharani sangat mencintai Yuvi.


Kalau para orang tua menjahilinya dia akan selalu mengadukan nya kepada Maharani. Maharani sendiri akan langsung membuat telinga yang menjahili cucu kesayangannya rasanya terlepas dari tempatnya.


"Sudah lah aku mau mengantar obat untuk Princess setelah itu aku mau mandi lalu bobok cantik"


Yuvi melewati keempat orang tua itu begitu saja, keempat orang tau itu ternganga melihat Yuvi melewati mereka begitu saja.


"Apa yang kalian lakukan dikamar ku???"


"Jas mommy mau melihat keadaan menantu.mommy"


"Cepat, karena Princess harus segera istirahat"


"Posesif sekali kamu"


"Kenapa memang nya???"


Mereka berempat mendekat ke arah ranjang. "Apa kamu baik baik saja nak???"


"Yah sudah lebih membaik mom"


"Baik lah nak kamu istirahat, karena sudah malam, mommy akan kembali ke kamar kami"


"Iya mom"


Setelah kepergian keempat orang tua, Van membersihkan dirinya dikamar mandi, setelah 40 menit Van sudah dengan baju tidur nya.


Van mendekat ke arah ranjang, Dia melihat Princess yang sudah terlelap dalam mimpi nya, Van naik ke atas hamparan empuk itu.


Van memeluk perut ramping Princess, Princess yang merasa nyaman didalam pelukan Van. Princess semakin mendekatkan dirinya kepada Van.


Princess menghadap ke dada bidang Van, Princess menyembunyikan wajah nya di dada bidang Van.


Van belum tidur, Van mengusap lembut rambut Princess, menyalurkan rasa nya lewat peluk dan belaian dair Van.


"Kamu gadis yang sangat biasa menjaga diri kamu sendiri, kamu mandiri, layak menjadi istri seorang Rivano" Van membatin.


Tidak terasa Van mulai memejamkan mata nya iku Princess ke alam mimpinya. Berbeda dengan Yuvi, gadis itu melihat rakitan nya yang ada dilayar tablet yang dia pegang.


Yuvi sudah kesekian kalina merakit senjata khusus Princess yang nanti nya dia gunakan saat dalam kesulitan, dan tidak ada yang menjaganya.


Yuvi terus mengotak atik rakitan nya, dia tidak mau ada masalah didalam senjata yang dirinya buatkan.

__ADS_1


__ADS_2