PRINCESS UNTUK TUAN MAFIA

PRINCESS UNTUK TUAN MAFIA
PRINCESS


__ADS_3

Matahari sudah berganti Bulan dan Bintang, Van tidak beranjak dari duduk nya. Duduk di samping ranjang Princess.


Van menatap Princess, menatap wajah cantik nya. Bulu mata lentik, hidung mancung, bibir pink alami, kulit putih.


"Om pulang lah istirahat"


"Saya tidak mau meninggalkan Princess di sendiri"


"Aku akan menjaga nya"


"Pulang lah didepan sudah ada pengawal yang akan mengantar om pulang"


"Tapi saya-"


"Percayakan putri om kepada saya, saya akan menjaga nya. Dan om akan diantar ke rumah baru yang saya sediakan"


"Untuk apa tuan muda, saya tidak apa apa pulang ke rumah saya sendiri"


"Tidak demi menjaga keamanan om, saya tidak mau sampai putri om bersedih"


"Terima kasih tuan muda"


Yuda beranjak dari duduk nya melangka meninggalkan ruang rawat Princess dengan berat hati.


Yuda masih sangat bersalah, merasa diri nya tidak bisa menjaga putri satu satu nya. Putri yang dia besarkan sendiri setelah kepergian istrinya.


Tidak lama Yuda pergi, dering ponsel Van terdengar. Van menatap layar ponsel nya sebelum mengangkat nya.


"Hemm"


"Pastikan mereka aman sampai besok"


"Aku ingin bermain main dengan mereka"


Van mematikan sambungan telpon nya. Van kembali menatap Princess yang tertidur setelah meminum obat.


Entah sejak kapan Van tertidur duduk ditepi ranjang, tangan yang dibuat bantalan kepalanya dengan masih posisi duduk.


Princess yang baru bangun merasa kasihan dengan cara tidur Van. "Pasti nanti kalau bangun badan kamu sakit semua"


"Ano"


Princess menggoyang kan bahu Van pelan, berharap Van akan bangun dan menyuruh nya pinda di sofa yang ada di ruangannya.


"Hemmm"


"Bangun lah"


Van bangun dari tidur nya, menggosok mata nya pelan. "Kenapa???"


"Kamu pinda ke sofa saja tidurnya agar lebih nyaman"


"Hemmm"


"Kalau butuh apa apa bangun kan aku, aku baru tidur"


"Iya, kamu tidur lah dulu"


Princess menatap Van yang beranjak dari duduk nya pinda ke sofa membaringkan tubuh nya di sana.


Van sangat mengantuk karena tidur yang menjelang subuh tadi. Van menatap Princess yang tertidur memastikan Princess akan baik baik saja.


Princess menatap sekeliling kamar nya tidak menemukan Yuda. Ayah nya yang dari kemarin menatap nya sendu, merasa bersalah.


Ceklek ..


Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Princess yang memikirkan Yuda. Yuda masuk ke dalam ruangan putri nya dengan wajah yang lebih segar.


"Selamat pagi Nak"


"Pagi yah"


"Kenapa datang pagi sekali???"


"Karena ayah merindukan putri ayah"


"Gombal"

__ADS_1


"Selalu saja kamu tidak percaya dengan ayah"


"Jangan mendrama yah, putri ayah lapar"


"Baik lah, ayah akan menyuapi kamu tuan putri"


Yuda membuka kotak makan yang dia bawa dari rumah. Yuda memasakan Princess makanan kesukaan nya.


"Ahhh"


Princess membuka mulut nya, memakan makanan yang Yuda suap kan hingga makanan habis.


Van yang mendengar obrolan ringan Yuda dan Princess membuat hati nya menghangat. Van tidak kembali tidur, dia hanya memejamkan mata nya saja.


"Nak, tuan muda sangat baik kepada kita"


"Dia, sih biang resek ini yah"


"Tidak boleh kamu bicara kasar begitu nak"


"Sudahlah yah apa yang dia lakukan sehingga ayah membela nya???"


"Tuan muda memberikan rumah untuk kita nak, jauh dari rumah kita yang sebelum nya"


"Maksud ayah gimana???"


"Tuan muda memberikan kita rumah besar nak, tidak hanya itu dia juga menyediakan pelayan di rumah"


"Hah"


"Siapa yang akan membayar mereka ayah???"


"Ayah tidak tau"


"Aku yang akan memberi gaji mereka"


Van bersuara tapi tidak membuka mata nya, Dia masih memejam kan mata nya.


"Kamu tidak tidur Ano"


"Kalau kamu tidur kenapa bisa kamu mendengar kami berbicara???"


"Tidak tau"


"Kamu berlebihan sekali Ano, rumah besar, pelayan"


"Princess"


"Iyah Ano!!!!"


"Kamu lupa kamu siapa??? Ayah kamu siapa????"


"yah aku ingat lah Ano, Aku Princess Manofo dan ayah aku Yuda Manofo"


"Apa aku harus mengingatkan kamu setiap menit, detik, jam"


Princess mendengar kan ucapan Van yang ambigu membuat nya semakin bingung saja. Apa lagi mata Van yang masih terpejam, Princess ragu bicara dengan Van.


"Apa kamu Ano???" pertanyaan konyol itu membuat Van kesal.


Van bangun dari tidur nya menatap Princess dengan tajam. "Kenapa??? kamu bukan Ano???"


"Ppprrrinncccesss"


Suara Van yang tertahan, agar tidak menggelegar di penjuru Rumah Sakit. Van berjalan mendekat ke arah Yuda dan Princess.


"Kamu baik baik di sini, aku ada urusan sebentar"


"Baik lah"


"Saya pergi dulu om"


"Iya tuan muda terima kasih"


Van tidak menjawab, Van melangka meninggalkan ruangan Princess. Melangka keluar meninggalkan rumah sakit.


Tujuan Van saat ini markas, karena lima tawanan Van sudah menunggu dari kemarin. Van tidak akan menyianyiakan waktu yang ada sebelum kembali menjaga Princess.

__ADS_1


Van melihat ada mobil yang dia kenali, Mobil yang digunakan mommy nya saat datang ke markas.


Aura ibu Van yang lemah lembut akan menjadi sangat berbahaya jika ketenangan nya diusik orang.


Didikan Jonie untuk Aura dari mulai belah diri sampai menggunakan segala jenis senjata Aura sudah sangat menguasai.


Semua Jonie ajarkan karena untuk menjaga diri Aura saat tidak bersama nya. Banyak musuh yang ingin menumbangkan keluarga Jonie keturunan Alexander.


Mobil yang selalu Aura gunakan saat sedang marah besar. Sekarang terparkir cantik di depan markas.


Van keluar dari dalam mobil, melangka masuk kedalam markas. Semua pengawal menunduk hormat.


"Apa mommy ada disini???"


"Iya tuan muda"


"Apa yang mommy lakukan disini???"


"Saya tidak tau tuan muda, karena tadi nyonya besar tidak memboleh kan saya mengikuti nya"


Van melangka lebih dalam masuk ke dalam markas tidak menemukan Aura. Saat Van sampai didepan pintu masuk ruang bawa tanah, Van samar samar mendengar teriakan.


Van membuka pintu lalu masuk kedalam ruang bawa tanah. "Dimana mommy???"


"Ada dipenjara lima tawanan yang kemarin malam tuan muda"


"Mommy pasti tau dari orang yang mengawasi Princess" Batin Van


Van melangka masuk mencari dimana mommy nya melampiaskan ke marahan nya. Van menatap satu tawanan berlumur darah dan disaksikan empat teman nya.


"Mommy"


Aura berhenti menyiksa tawanan Van, lalu menoleh ke arah sumber suara. Aura melihat putra nya mendekat.


"Sayang"


"Mommy sudah puas???"


"Mommy sudah puas, karena manusia keji ini yang melukai menantu mommy"


Van menatap orang yang ditunjuk Aura dengan Pisau panjang Dia pegang. Pisau yang digunakan Aura untuk menusuk seluruh tubuh tawanan Van.


Pria yang Aura masuk kini keadaan nya sangat menyedikan, Tubuh penuh dengan tusukan, merintih kesakitan.


"Pengawal ambilkan katana"


Pengawal yang tadi berjaga di sana berlari memasuki ruang senjata mengambil katana yang Aura minta.


"Inu nyonya besar"


Aura menerima katana itu, pisau yang tadi dia berikan kepada pengawal yang memberikan dia katana.


Ke empat teman nya menatap ngeri Aura, mereka menyesal dengan tindakan mereka kemarin. Yang tidak tau Princess menantu keluarga Alexander. Keluarga tidak kenal ampun.


"Thak.. Thak.."


Terpisah sudah kedua kaki nya. "Phastt" kini giliran kepala nya yang terpisah dari tubuh nya.


Aura memberikan katana yang sudah dia gunakan kepada pengawal yang mengambilkan nya tadi.


Pengawal itu menatap ngeri, meskipun setiap hari melihat nya tapi tetap membuat pengawal itu ngeri.


"Seret ke empat orang itu, masukan kedalam kadang kucing ku"


"Ayo mommy bersihkan dulu badan mommy"


"Mommy akan bersih bersih di kamar mommy, setelah itu mommy kan menjenguk mantu mommy"


Van mengantar Aura ke kamar nya yang ada di markas. Niat awal ingin bersenang senang gagal karena Aura tau lebih dulu.


Aura tanpa ampun membunuh nya. Ke empat teman nya juga bernasib sama. Akan dicabik cabik peliharaan Van.


"Mommy tau dari mana???"


"Bawahan mommy yang memberi tahu Robby"


Van langsung paham apa yang dimaksud Aura. Aura memiliki orang kepercayaan sendiri sejak dia belum masuk ke dalam keluarga Alexander.

__ADS_1


__ADS_2