
Yoga berjalan menyusuri lorong kampus dengan gaya cool nya, dengan wajah yang datar dan dingin, saat tengah berjalan kearah kelasnya, Yoga melihat Ella dengan kakak nya yang dari arah berlawanan.
"Siapa laki laki yang bersama dengan El??" Batin Yoga yang melihat Ella semakin dekat berjalan kearah kelas.
Sedangkan Ella sangat manja kepada kakak tertua nya Arion, yah Ella berjalan dengan Arion berwajah datar dan dingin sama dengan Yoga, Yoga tanpa sadar sudah ada di depan pintu kelas begitupun dengan Ella.
"El.." Yoga memanggil Ela yang tengah bermanja dengan Arion, Mungkin jika tidak tau hubungan Arion kakak beradik mungkin mereka mengira kalau mereka sepasang kekasih.
"Emm, hay kak"
"Siapa???" tanya Yoga to the poin
Sedangkan Arion tengah menatap Yoga dengan mata tajamnya yang menuruni sang ayah, Arion tersenyum samar. "Hemmm, kayak nya dia suka sama Queen" Batin Arion.
"Siapa, dia???" Ella menunjuk Arion yang ada di samping nya.
"Iyah"
"Oh ini kakak kembar tertua aku, Arion" Ella memperkenalkan kakak tertua nya kepada Yoga yanga juga menatap Arion tajam.
"Yah udah Queen, kakak ke kelas nya. Kamu belajar yang bener jangan main main pacar pacaran" Arion menyindir Yoga yang mungkin benar kalau Yoga menyukai Ella.
"Aku masuk dulu yah kak" Pamit Ella kepada Yoga yang masih ada di depan kelas Ella.
Ella masuk ke dalam kelas nya, sedangkan Yoga pergi dari depan kelas Ella. Yoga kembali berjalan menyusuri lorong entah mau kemana.
Tidak jauh dari kelas Ella, ada tiga perempuan yang menyaksikan pembicaraan tiga orang yang ada di depan kelas Ella, Wilona dengan kedua teman nya melihat semua dan mendengar apa saja yang mereka bicarakan.
"Jadi dia punya kembaran yang begitu sangat tampan???" Lirih Wilona yang masih bisa di dengar kedua teman nya.
"Bukan satu melainkan dua, dua laki laki kembar identik" Luna menyahut dengan memandang Wilona yang ada di samping nya.
"Maksud elo mereka kembar tiga???" tanya Wilona memastikan
"Iyah, Satu lagi juga berambut panjang. Mungkin kalau kita bertemu dengan adik nya mungkin kita akan mengira kalau dia itu Arion" Jelas Luna yang memang perna melihat kakak beradik itu bejalan bersama saat waktu pertama masuk kampus.
"Kalau enggak salah nih yah, Salah satu kakaknya dia selalu di tempeli sama Felisa" Kini Ria ikut menyahut.
"Kayaknya kakak tertuanya tidak menyukai Yoga???"
__ADS_1
"Iyah elo bener dari tatapan matanya aja udah kelihatan kalau dia emang enggak suka"
Wilona mencoba mengajak Luna dan Ria pergi dari sana, untuk mencari kembaran Ella satu lagi mungkin dia akan mendapatkan salah satu dari mereka, apalagi kata nya yang satu lagi selalu di tempeli cewek bar bar di kampus ini.
"Gue yakin salah satu kakak perempuan itu mau sama gue!! Dengan modal tubuh gue yang terbilang sangat menggoda gue bakalan dapetin dia, buat cadangan kalau Yoga enggak mau sama gue" Batin Wilona.
Tepat sekali saat ada di taman kampus Wilona, Luna dan Rian melihat Laki laki yang duduk di kursi yang ada di taman bersama Felisa, cewek bar bar itu menempel bak cicak di dinding.
Mereka bertiga mendekat kearah Ar yang tengah duduk bersama Felisa, lebih tepat nya Felisa yang tengah mengganggu Arvin yang tengah fokus dengan buku yang ada di tangannya.
"Hay..." Wilona menyapa Arvin, Arvin sendiri tanpa minat, dia masih fokus dengan buku yang ada di tangannya.
Sedangkan Felisa menatap Wilona dengan bingung siapa yang dia sapa, Karena saat ini Arvin cuek dengan sapaan Wilona. "Kakak menyapa siapa???" tanya Felisa dengan lembut
"Gue enggak ngomong sama elo" Wilona menyahut dengan sinis
"Dasar Babut kampus, di tanya baik baik malah gitu!! Kurang ajar banget emang" oceh Felisa menatap kesal Wilona.
"Elo diem aja, ngapain juga elo ada di sini???" tanya Luna dengan sinis
"Gue, mau nemenin calon dari bapak anak anak gue" Felisa menyahut dengan merebahkan kepala nya di bahu Arvin.
Memang dasar yah tiga cewek ini enggak ada malu udah enggak kenal malah main ngusir yang udah kenal. "Gue bakalan pergi kalau pacar aku yang nyuruh pergi" Felisa Menyahut dengan masih menempel di bahu Arvin.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, kamu boleh minta dia buat pergi" Suara yang di lembut lembutkan untuk menarik perhatian Arvin
Arvin bukan nya suka malah ngeri dengan suara Wilona yang di buat selembut mungkin, Arvin bergidik ngeri. "Gue kira cewek yang ada di samping gue udah bikin ngeri ternyata ada yang lebih ngeri lagi anjir" Batin Arvin.
"Elo kalau mau ngomong aja, enggak usah ngusir orang" Arvin menyahut dengan sangat dingin.
"Gue mau minta nomor ponsel elo" Wilona mengatakan dengan nada yang sama, di buat dengan semanja mungkin.
"Enggak boleh, elo kan tau di sini ada pacarnya malah mau minta nomor ponsel lagi" kesal Felisa yang dengan menatap Wilona.
"Tuh udah di jawabkan sama pacar gue" Lirih Arvin yang menekan kata pacar.
Tidak tau saja kalau Felisa sudah sangat kegirangan di bilang pacar sama Arvin di depan Wilona. Jantungnya seakan tumbuh bunga bunga yang banyak.
"Apa kamu pacaran sama cewek bar bar kayak dia itu sangat enggak cocok" Lirih Wilona.
__ADS_1
"Lalu siapa yang cocok?? Elo yang dandanan nya kayak Badut??" Ejek Felisa.
"Elo" Wilona mendekat ingin menarik rambut Felisa dengan kasar.
Arvin memegang tangan Wilona yang kini menarik rambut panjang Felisa. "Lepas atau tangan elo gue bikin patah" Desis Arvin yang sangat geram rambut Felisa yang indah di tarik oleh Wilona kasar.
"Vin, dia enggak pantas buat kamu" Cicit Wilona
"Terus siapa yang pantas elo *****?? Dengar baik baik kalau elo yang pantas sama gue, gue enggak mau sama elo yang bekas orang lain" Setelah mengatakan itu Arvin mengajak Felisa yang mengusap rambut nya karena tarikan Wilona.
"Vin, Arvin" pekik Wilona memanggil Arvin.
Arvin yang mendengar itu jangankan menoleh, menyahut pun tidak, jelas itu membuat Wilona sangat kesal dan juga marah. "Bagaimana dia lebih memilih Felisa yang kerempeng itu" kesal Wilona.
"Gue enggak nyangka kalau dia pacaran sama Felisa, gue kira kalau selama ini dia hanya menempel karena suka sama Arvin" jelas Luna yang masih enggak nyangka kalau Arvin benar benar memilih Felisa.
Jika Wilona kesal di taman kampus berbeda dengan Arvin yang kini tengah menatap perempuan yang ada di depan nya dengan bingung, karena Arvin sudah mengakui Felisa pacar. "gue kalau gue bilang enggak nyakitin dia dong, kata Mami kalau nyakitin cewek sama aja nyakitin Mami nya" Batin Arvin bingung.
"Vin elo beneran kalau gue sama elo pacaran???" Felisa mulai bertanya seperti apa yang ada di dalam pikiran Arvin.
"Gue, gue tadi hanya" Arvin bingung dengan apa yang harus dia lakukan
"Emm enggak apa apa kok gue ngerti" Felisa memang enggak memaksa kalau Arvin enggak mau, karena dia bisa dekat dengan Arvin aja udah seneng.
Arvin melihat ketulusan yang ada di mata Felisa merasa bersalah karena sudah memberi kenyataan yang enggak sama, tadi di bilang pacar sekarang berbeda dengan tadi. Pengakuan nya mungkin sekarang sudah menyebar di penjuru kampus karena tadi di taman bukan hanya ada mereka berlima tapi banyak Mahasiswa yang lain.
"Elo enggak marah sama gue???" tanya Arvin dengan hati hati
"Enggak ngapain marah gue, gue tau elo bilang gitu agar sih badut enggak ganggu kamu kan??" Felisa sangat mengerti itu.
"Emm, tetap lah di sisi gue" Lirih Arvin
"Elo enggak minta pun gue bakalan nempel sama elo Vin, gue suka sama elo!! Sejak gue kecil" Lirih Felis
Arvin mengerutkan kening nya mendengar apa yang di katakan Felisa, pasalnya selama ini Arvin enggak perna deket sama cewek mana pun setelah kepergian perempuan kecil yang dia temui di taman dekat Mansion nya pindah Mansion. "Elo kenal gue??"
"Gue perempuan kecil yang menangis di taman" Felisa kembali ingat dimana dia dulu bermain dengan Arvin kecil, di pertama bertemu Arvin menolong nya dari gangguan anak anak nakal.
Arvin menatap Felisa dengan pandangan bertanya dan mengingat perempuan kecil yang dia panggil sih cengeng. "Apa dia sih cengeng???" Batin Arvin.
__ADS_1
"Gue sih cengeng"