
Arion menatap pantulan dirinya di depan Cermin besar yang ada di dalam walk in closet pria itu, dia memperhatikan penampilan nya. dia juga mengendus diri sendiri apa sudah wangi atau belum, belum juga sesekali menyunggar rambutnya dengan tangan nya.
"Apa gue udah tampan yah??" Lirih Arion menatap pantulan dirinya di Cermin.
Saat tengah memperhatikan dirinya sendiri Arion mendengar suara lembut perempuan cinta pertama Arion. Princess masuk kedalam Walk in closet melihat apa yang di lakukan putra nya di dalam kenapa sangat lama.
"Boy, apa yang kamu lakukan sayang???" Princess melihat Arion yang memutar memutar badanya.
"Mi, apa putra Mommy ini tampan??" Arion mendekat kearah Princess yang tengah menatapnya
"Tentu saja kamu tampan sayang, wajah kamu sangat mirip Papi" Princess menyahut dengan menyingkirkan rambut yang menutupi pelipis Arion.
Sedangkan di lantai bawah, tepatnya di meja makan Van sudah menggerutu karena Princess tak kunjung kembali memanggil putra nya. "Pasti dia menahan Istri ku??" gerutu Van di meja makan
"Dan anda tau istri anda Mami saya" Arion menyahut kalimat Papi nya yang tengah menggerutu.
Van yang mendengar suara dingin seperti dirinya mendongak menatap Princess yang tengah memeluk tangan kekar putra nya berjalan mendekat kearah meja makan.
Van beranjak dari duduknya mendekat kearah Princess dan Arion, Arion kini tengah menatap Papi nya dengan senyum mengejek. Arion tau kini Papi nya tengah kesal kepadanya.
"Awas jangan dekat dekat dengan dia Mi, nanti tertular bodoh" Van melepas tangan Princess yang tengah memeluk tangan kekar putranya
Arion mendengus mendengar apa yang dikatakan Van kepada dirinya. "Dasar posesif"
"Bodoh Amat, yang penting Papi enggak kena serangan jantung"
Arion mendahului Papi dan Maminya berjalan kearah meja makan dengan wajah yang sangat kesal, Van menarikan kursi untuk Princess dengan tersenyum miring kepada putra nya. "Apa kalian akan bodoh dengan kakak kalian??"
Ella dan Arvin menatap Papinya dengan bingung apa yang di maksud Papi nya. "Enak saja kami pintar yah Pi, aku saja calon dokter gimana sih" kesal Ella dengan menatap Papi nya.
"Sudah jangan dengarkan Papi kalian yang mungkin pagi ini kurang meminum obat" Princess melerai perdebatan anak anak nya dan Suami nya.
"Hahahhahahha"
Tripel tertawa mendengar apa yang di katakan oleh Princess, Van menatap Princess yang kini sibuk dengan mengambilkan makanan untuk tripel dan yang terakhir Van. "Mi, kan biasanya Papi dulu??"
"Karena Papi yang memulai perdebatan"
Van menghela napas lelah, Van menatap Arion yang kini tengah menahan tawa. terlihat bahunya terguncang pelan. Keluarga Van di pagi hari sarapan ditemani oleh perdebatan anak dan Van.
...****************...
__ADS_1
Tiga Mobil Sport masuk ke halaman kampus, tentu saja itu menarik perhatian penghuni kampus yang ada di sekitar parkiran, Ella keluar dari dalam mobil kesayangan nya, baru kedua kakaknya keluar dari dalam mobil.
Arion dan Arvin mendekat kearah Ella yang sudah menunggu nya di samping mobil nya, Arion menggandeng Adik nya berjalan masuk. Mereka bertiga menjadi pusat perhatian Mahasiswa yang mereka lewati.
"Gila tampan banget"
"Ah yang cewek bikin mimisan aja"
"Aku enggak nyangka kalau ada cowok tampan di kampus ini" bisik bisikan terdengar dari Mahasiswa yang merek lewati.
Selama ini mereka akan datang dan pergi saat belum ada Mahasiswa yang datang dan pulang, tapi entah apa yang merasuki tripel berangkat tanpa pengawal dan membawa mobil sendiri sendiri membaut heboh kampus.
"Selamat belajar Queen" ucap Arion dengan mengusap lembut pucuk kepala Ella.
"Belajar yang bener Princess" Ucap Arvin yang menepuk pelan pucuk kepala Ella
Perlakuan Manis Rion dan Ar kepada Ella membuat seisi kelas histeris, banyak bisik bisikan tentang mereka bertanya tanya siapa Ella kanapa di perlakukan sangat Manis oleh dua pria tampan yang mengantar Ella ke kelas.
"Gila, manis banget jadi ingin tuker posisi"
"Emm, sangat tampan dan manis"
Ella masuk kedalam kelas, banyak yang memandang iri banyak juga yang memandang kagum. Kalau kaum adam jelas memandang Ella dengan pandangan yang memuja, tertarik, kagum, berbeda dengan kaum hawa yang iri, ada yang mencibir.
Ella tidak memperdulikan itu yang Ella tau dia mau belajar dan menjadi seperti yang dia inginkan menjadi dokter muda dan cantik. "Biarlah orang berkata apa yang penting aku kaya" batin Ella.
"Kok enggak nyambung banget sih?? Sudahlah lupakan dan tunggu dosen datang" Batin Ella.
Di gedung yang sama di kelas yang berbeda Arion tengah menatap Aula dari jarak yang tidak jauh dari dirinya, Arion mengagumi ke cantikan Aula yang tengah duduk dengan buku di tangannya. "Sungguh sangat cantik, Manis dan menggemaskan jangan tinggalkan sangat imut" Batin Arion.
Belum puas mengagumi kecantikan Aula dosen masuk kedalam kelas, Arion sangat kesal karena waktu nya memandangi Aula harus beralih buku buku tebal yang ada didepannya,
Berbeda dengan Arvin yang menahan umpatan demi umpatan melihat perempuan yang ada di samping nya, bagaimana tidak terus mengumpat kalau dia terus menempel bak cicak di dinding.
"Elo ngapain nempel muluk sama gue njir" kesal Arvin menatap perempuan cantik dan bar bar di samping nya, sayangnya Arvin tidak bisa marah dengan nya.
"Aku mau nya berdekatan sama elo gimana dong" Felisa terus mendekat dan memeluk lengan kekar Arvin tidak mau melepaskan nya.
"Minggir kagak elo, gue jorokin mampus elo"
"Emm asal jatuhnya sama kamu, aku mau kamu jorokin" Fel malah semakin memeluk lengan Arvin.
__ADS_1
"Elo kayak nya cewek jadi jadian" Dengan mencoba melepas pelukan Fel,
Felisa perempuan cantik, bermanik coklat pekat, berambut coklat Alami, dia memang bukan keturunan asli indo. "Vin kamu aku cantik elo kenapa kamu enggak mau di tempelin orang cantik kayak aku??? Apa kamu belok Vin??"
"Kurang ajar aku masih suka sangkar sialan"
"Benarkah Vin, tapi aku enggak percaya gimana dong???" Fell malah semakin menguji jiwa sabar Arvin yang masih ada di dalam pelukan nya.
Arvin mencoba untuk tetap tenang dalam menghadapi perempuan cantik dan bar bar yang ada di samping nya. Arvin menatap Felisa dengan senyum miring.
"Apa elo perlu bukti???" Dengan senyum miring khas Arvin
"Apa elo mau buktikan, wah dimana di toilet, di sini atau di hot-..." kata kata Fell terputus saat ingin mengatakan hotel, Arvin dengan cepat menutup mulut Felisa dengan tangannya.
"Ehhmmmm" Felisa mencoba untuk berbicara tapi terhalang oleh tangan Arvin.
"Ngomong apaan elo anjir?? Ngomong yang jelas" Arvin belum sadar kalau tangannya masih menutup mulut Fell.
Fell memukul tangan Ar, agar Ar sadar kalau dia sedang menutup mulutnya dengan tangannya, Ar langsung melepas tangan nya saat Fel memukul tangannya, barulah Ar sadar.
"Maaf gue enggak sengaja"
"Kalau pun sengaja juga enggak apa apa kok Arvin sayang"
"Hiii, geli gue dengernya sialan"
"Minggir gue mau makan sialan, gue lapar mau ada kelas"
"Kan kelas kita sama Arvin"
Arvin menghela napas lelah mendengar jawaban Felisa, memang benar ada nya kalau dia dengan Felisa mengambil jurusan yang sama. "Kalau gitu elo minggir gue mau makan"
"Makan aja Vin aku tungguin atau mau aku suapi Arvin sayang???" dengan manja dan suara yang dibuat manja.
Arvin heran dengan dirinya sendiri kenapa dia tidak bisa marah dengan Felisa dan langsung membunuh Felisa yang sedari masuk kuliah sampai sekarang menempel pada dirinya. Dia bingung dengan dirinya sendiri kenapa enggak ada rasa marah hanya ada rasa kesal selalu di tempeli.
"Dia nempel muluk gue jadinya kayak orang yang ketempelan makhluk astral" Lirih Arvin yang masih bisa di dengar Felisa.
"Yah aku hantu yang suka sama cogan kayak kamu Vin"
Arvin meringis ngeri melihat senyum yang mengembang dari bibir Felisa, Senyum yang membuat Arvin semakin ngeri. Takut kalau Felisa benar benar makhluk astral.
__ADS_1