
"Elo sih cengeng yang ada di taman???"
Arvin menatap perempuan cantik yang ada di samping nya dengan pandangan yang sulit di artikan, Arvin bener bener enggak nyangka kalau gadis kecil yang ada di taman sekarang mengikuti nya kemana saja, menempel bak cicak di dinding.
"Elo sih cengeng" ulang Arvin yang enggak percaya kalau gadis yang ada di depan nya sih cengeng.
"Iyah, elo enggak percaya sama gue?? Gue kasih lihat yah ayang Alpin" ucap Felisa dengan mengedip ngedipkan matanya.
"Kenapa elo cacingan???" Arvin bergidik ngeri melihat Felisa yang ada di depannya..
Felisa enggak memperdulikan Arvin yang mengatakan kalau dirinya cacingan, dia mengambil photo yang sedari dia kecil dia simpan baik baik di dalam dompet nya.
Photo di mana dirinya dengan Arvin tengah bermain di taman bersama saat itu, kami photo menggunakan ponsel Arvin. "Kalau deket elo bawaan gue emang cacingan mulu tau enggak" Felisa menyahut saat sudah mengambil photo nya dengan Arvin.
"Ini liat wajah gue yang ada di sini sama yang ada di depan elo, sama kan sama sama cantik" ucap Felisa dengan menaik turunkan alis nya.
Arvin enggak nyangka kalau teman nya yang dulu kalem kini menjadi bar bar yang suka bikin dirinya pusing tujuh keliling. "Kenapa elo ada di sini bukan nya elo ada di Singapura???"
"Iyah, gue balek mau kuliah di sini dan nyari elo Alpin" jawab Felisa dengan jujur.
"Yah kalau gue Arvin kalau bukan???" elak Arvin yang benar benar enggak percaya sama perempuan yang ada di depan nya.
"Eh anak singa, gue sebelum masuk kuliah di sini udah ngintipin elo tau enggak dari gerbang Mansion yang sedari dulu elo tinggali!! Elo enggak percaya elo cek aja di cctv di depan gerbang elo, gue lambai lambai di situ tepat nya beberapa bulan yang lalu" jelas Felisa dengan panjang kali lebar.
"Ngapain elo lambai lambai depan cctv, gila elo??" Arvin menatap heran Felisa.
"Udahlah capek gue ngomong sama elo, gue mau nya deket sama elo gini aja enggak apa enggak pacaran gue udah seneng" Felisa bergelayut manja di lengan kekar Arvin.
Arvin sendiri menatap Felisa dengan cengoh bagaimana gadis kecil yang dia temui di taman di ganggu teman yang lain hanya bisa menangis, malah sekarang bisa membalas dan juga sedikit julit.
__ADS_1
"Elo kenapa enggak main ke Mansion gue kalau elo pulang?? Elo bilang kalau elo pulang elo bakal main???" tanya Arvin yang menagih janji nya kepada Felisa, nampak nya Arvin kini sudah percaya kalau dia memang Felisa.
"Gue udah ke Mansion elo pas gue dari bandra anjir, malah gue di usir penjaga Mansion elo. Kata nya kalau enggak ada janji enggak bisa ketemu" kesal Felisa saat mengingat dirinya di usir oleh penjaga Mansion Van.
"Salah elo sendiri kenapa enggak hubungin gue??"
"Aji gile nih anak gue kagak tau nomor ponsel elo anjir"
"Kenapa elo kagak minta???"
"Udahlah ayang Alpin, kita makan di kantin aja yuk gue sebentar lagi masuk"
"Bukan elo aja tapi gue juga"
Mereka akhirnya pergi ke kantin buat makan, setelah perdebatan panjang akhirnya Arion mau di ajak ke kantin, dengan Felisa yang memeluk lengan kekar Arvin.
Arvin yang biasanya kesal, tapi sekarang Arvin terlihat sangat biasa. Dia tidak mempermasalahkan lagi Felisa yang bergelayut manja di lengan kekar nya, Arvin dengan Felisa menjadi pusat perhatian pasalnya Arvin yang selalu terlihat kesal dengan Felisa, kini dia malah terlihat cuek bebek.
Arvin dan Felisa masuk kedalam kantin, mereka membuat heboh para kaum hawa yang melihat. Ada yang iri, ada yang julit, ada yang mengagumi, ada yang enggak suka.
Banyak bisik bisikan yang terdengar di kantin, Arion dan Felisa seakan tuli, mereka mencari tempat duduk untuk mereka duduki.
Felisa memesan makanan setelah Arvin menemukan tempat duduk, Saat tengah memesan makanan dia melihat Wilona tengah mendekat kearah nya bersama dua antek nya, Luna dan Ria akan mengikuti kemana saja Wilona pergi, mungkin sampai ke liang lahat kali yah. Wkwkwkwkwk..
"Eh, ada perempuan enggak tau malu di sini" ucapan Wilona yang di buat kerasa menjadikan dirinya dan Felisa menjadi pusat tontonan.
Yang awal nya mereka kembali fokus ke makanan mereka setelah bisik bisik tentanh Arvin dan Felisa, kini kembali teralihkan oleh ucapan Wilona.
Felisa yang enggak merasa pun tidak menyahut, dia tetap mengantri makanan yang ingin dia pesan, tapi lagi lagi Wilona membuat ke ributan. Wilona langsung menjambak rambut Felisa sampai kepala Felisa tertarik kebelakang.
__ADS_1
Arvin yang melihat Felisa kembali di jambak oleh Wilona sengat geram, Arvin mendekat kearah Wilona dan Felisa, sedangkan Felisa sudah menancapkan kuku jarinya di tangan Wilona.
"Elo apa apaan sih main jambak aja" ucap Felisa menahan sakit di rambut nya, begitupun dengan Wilona yang menahan sakit karena kuku Felisa yang menancap di tangan nya.
"Jauhin Arvin"
Felisa yang sudah kesal dengan ucapan Wiloan dia menarik rambut Wilona dengan sangat kasar, Felisa membenturkan kepala Wilona di etalase milik penjual makanan yang ada di kantin.
Syett... Dukkk.. Pyar..
Semua orang yang ada di kantin sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Felisa kepada Wilona, mereka tidak menyangka kalau Felisa berani melakukan itu.
Memang Wilona yang memulai terlebih dahulu pertengkaran dengan Felisa, Felisa yang melihat Wilona tidak sadarkan diri menatap nya dengan sinis. "Elo lihat baik baik temen elo, mungkin sebentar lagi dia akan di jemput malaikat!!! Gue peringatin jangan usik ketenangan gue" ucap Felisa memandang sinis Luna dengan Ria
Sedangkan Arvin sungguh sangat tekejut dengan apa yang di lakukan oleh Felisa, kepergian nya ke singapura membawa dampak besar di purubahan sikap Felisa. "Fell, tangan kamu enggak apa apa enggak sakit kan???" tanya Arvin khawatir dengan melihat tangan Felisa
"Elo perhatian sama gue Alpin??" Senyum mengambang di bibir Felisa
"Karena elo pacar gue" ucap Arvin menghebohkan kembali suasana kantin
Syeet bruk..
"Anjir.. Fell elo enggak usah bercanda yah" Pekik Arvin yang melihat Felisa enggak sandarkan diri setelah mendengar Arvin mengatakan kalau dia pacarnya.
Arvin melihat anak anak yang mengurus Wilona memiliki tanda api di belakang telinga mereka. "Siapa mereka??" Batin Arvin dengan menggendong tubuh Felisa ala Bridal style keluar kantin.
Arvin membawa Felisa ke rumah sakit karena dia takut kalau terjadi seseuatu dengan Felisa, yang baru saja mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya.
Setelah setengah jam berlalu dokter keluar mengatakan kalau Felisa tidak apa apa, dia hanya kecapekan saja. Arvin merasa lega mendengar apa yang di katakan oleh doketer, Arvin masuk kedalam Iga di mana Felisa berada.
__ADS_1
Arvin duduk di samping Felisa dia memandangi wajah cantik Felisa yang tengah tertidur pulas. "Siapa kamu sebenarnya.