
Devan memasukan mobil nya ke dalam gerbang Mansion Ervan, Devan keluar membuka pintu untuk Ervan, setelan itu Devan pamit pulang kepada Ervan. Ervan masuk ke dalam Mansion nya untuk menenangkan diri nya yang kembali mengingat ke jadian belasan tahun yang lalu di mana Mommy nya harus meninggal di medan perang dengan tembakan yang di berikan Van untuk Habib yang musuh.
Ervan masuk ke dalam kamar nya yang ada di lantai tiga, di mansion Ervan tinggal hanya dengan para pengawal dan pelayan, tidak ada canda tawa di Mansion nya, tidak ada teriakan, tidak ada perdebatan, tidak ada juga jeritan, Mansion Ervan terasa hampa. Sekali ada suara, tapi bukan suara kebahagiaan melainkan suara pukulan, tendangan, tembakan.
Sebagai ketua Mafia jelas saja Ervan selalu di kejar banyak musuh yang tidak menyukai nya, ada yang merasa kalah saing dengan dunia bisnis, Ervan sejak kecil tumbuh di lingkungan berbahaya bersama teman yang lain, seperti El, Axelo, Dav dan Yuvi.
Ervan menatap diri nya di kaca besar yang ada di kamar mandi nya dia menatap badan kekar nya yang bekas luka, mulai dari tembakan sampai sayatan. Ervan merebah semua bekas luka yang ada di depan nya merasa miris melihat nya, buka hanya Ervan yang memiliki melainkan keempat teman nya juga sama memiliki.
Mereka berlima perna berjuang bersama, tapi setelah kejadian di mana perang besar yang terjadi menewaskan sang Mommy dia menjadikan Ervan mendirikan perkumpulan Mafia sendiri. Mafia yang kekuatan nya di bawa satu tingkat dengan Ervan, bagaimana tidak satu tingkat dulu nya Ervan dan keempat teman nya di didik sama oleh para orang tua untuk menjadi kuat dan paling terkuat,
Ervan menyelesaikan acara mandi nya dengan perasaan bercampur aduk dimana dia teringat kebersamaan dengan keempat teman nya dan juga kebersamaan dengan sang Mommy. Hanya dengan sang Mommy, karena selama ini sang Mommy Lidia tidak perna menunjukan dan memberi tahu siapa ayah Ervan, dimana Ayah Ervan, kenapa identitas nya seakan di tutupi oleh semua orang sehingga membuta Ervan tidak mengetahui di mana Ayah kandung nya.
"Aku rindu Mom, Er kesepian tanpa Mommy" tanpa terasa buliran bening menetes dari pelupuk mata Ervan.
Ervan menatap photo diri dengan Mommy nya dan juga bersama dengan keempat teman nya, Mommy nya selalu menganggap teman teman Van anak nya apalagi setelah kepergian Bunda dan Ayah nya El, Mommy selalu memperlakukan El sama dengan Er.
Flashback..
"Aunty Er mengambil mobil mobilan El"
Lidia mendekat ke arah El dan Er dia menatap kedua putra nya yang ada di depan nya, dia mensejajarkan dirinya dengan ke dua putra nya. "Sayang anak baik jangan bertengkar, tidak baik!! Kalian tau anak yang suka nya bertengkar itu teman nya hantu"
"Apa benar itu Aunty???"
"Apa benar itu Mom???"
"Iyah, apa kalian mau menjadi teman hantu???"
Dua anak yang ada di depannya menggelengkan kepala nya, setelah itu saling tatap. "Maafkan aku" kedua boca itu meninta Maaf bersama setelah itu Er mengembalikan mobil mobilan El.
"Pintar anak-anak Mommy!!! Yah sudah kalian lanjut bermain dengan yang lain yah nak, jangan bertengkar lagi".
__ADS_1
" Iyah Mom"
"Iyah Aunty"
Mereka bermain bersama kembali, setelah bosan berdua menghampiri Axelo dan Van yang sedang berenang di kolam renang khusus Anak yang ada di Mansion Utama. "Van, Axelo"
Dua boca itu memanggil Van dan Axelo yang tengah asik berenang, setelah itu El dan Er mendekat ke arah Van dan Axelo. "Aku dan Er mau ikut berenang apa boleh???"
"Boleh, semakin rame semakin seru" Axelo menyahut pertanyaan El kecil.
Akhirnya El dan Er ikut berenang dengan Van dan Axelo, mereka bermain bersama bercanda dan tawa bermain air dengan saling mencipratkan air kepada satu dengan yang lain. Setelah bosan bermain air mereka naik ke atas, langsung membersihkan dirinya masing masing. Setelah semua selesai mandi mereka masuk ke dalam Mansion terlihat Dav baru datang dengan ke dua orang tua nya, Dav ikut dengan Mama, dan Papa nya pergi keluar negeri untuk mengurus cabang perusahaan Alexander grup.
"Dav" semua teman teman nya memanggil Dav yang bersama dengan ke dua orang tuanya, setelah memanggil bersama, mereka berlari ke arah Dav.
Dav yang kesenangan bertemu dengan teman teman nya dia langsung memeluk teman teman yang secara bersama. "Kamu lama sekali Dav???" Van bertanya dengan masih memeluk Dav kecil.
"Iyah Mama dan Papa ku seperti nya senang ada di sana" Dav mengerucutkan bibir nya. Setelah melepas pelukan nya dengan teman teman nya.
"Tidak aku selalu merindukan kalian yang ada di rumah"
Sedangakan Mama dan Papa Dav tengah mentap anak anak nya dengan gemas, mereka tidak membiarkan duduk lebih dahulu dan mereka langsung bertanya banyak kepada Putra nya sendiri. "Ah Mama lelah sekali berdiri" Amira mengelu lelah" Dengan wajah Amira yang di buat memelas, dia ingin tau bagaimana anak anak kecil yang ada di depan nya bersimpati.
"Mama lelah??? Duduk lah Ma kenapa Mama tidak duduk saja???"
"Kalian menghalangi jalan kami???"
"Ah benar kah, baiklah Ma silahkan lewat!!!" Er menunduk seperti pengawal menyambut Raja nya.
"Hahahaha" Amira tertawa melihat Er yang sangat lucu!! Dia antara yang lain Er memiliki badan yang berisi dari yang lain membuat Amira gemas lalu mencubit pipi Er pelan.
Setelah itu Amira dan Danu berjalan masuk ke dalam ruang keluarga dan duduk di sana dan entah kemana semua orang tua tidak ada yang menyambut mereka. "Kemana penghuni Mansion utama yah Pa???"
__ADS_1
"Papa juga tidak tau Ma"
"Apa mereka ada di ruang kerja Jonie dan ada yang mereka bicarakan???"
"Mungkin saja Ma!! Lebih baik kita di sini lelah aku harus ikut kedalam pembahasan mereka"
"Kamu ini selalu saja!!"
"Hehehe"
Akhir nya Amira dan Danu Menunggu semua teman teman nya datang dengan bersantai di ruang keluarga dan mengawasi anak anak mereka yang tengah bermain. Amira sangat bahagia melihat anak anak nya yang akur hampir tidak perna bertengkar. Walau terkadang ada yang tidak mau mengalah.
Setelah menunggu tiga puluh menit akhirnya semua teman teman nya terlihat keluar dari dalam lift berjalan ke arah Amira dan Danu dengan senyum yang menghiasi bibir mereka semua.
"Lihat pahlawan kita pulang berjuang" Goda Lidia yang ada di samping Laudya.
"Dan kamu tidak menyambut kami" Amira membalas candaan teman nya.
"Mari kita sambut kawan pejuang kita"
Mereka serempak membungkukan bandan nya. "Selamat datang kembali Ratu dan Raja"
Setelah itu mereka tertawa bersama, Jonie dengan yang lain duduk di sofa yang ada di ruang keluarga, membahas masalah senjata yang baru atau rakitan baru dari Laudya. dan banyak yang mereka bahas bukan hanya senjata saja, mereka juga membahas anak anak mereka.
Sedangkan anak anak tengah bermain kamera yang Dav bawa dari luar negeri, dia menunjukan kamera nya kepada teman teman nya. Setelah puas mereka meminta tolong kepada para orang tua untuk mengambil gambar mereka dari kamera Dav yang baru.
Setelah itu Aura mengambil gambar mereka di ruang keluarga, Lidia juga ikut dengan anak anak berfoto karena permintaan Er. Dengan senang Lidia ikut pengambilan gambar bersama sama.
Flashback off...
Foto yang masih terpajang di kamar Ervan begitu pun dengan yang lain, tapi tidak dengan Van, Van menyembunyikan di tempat paling aman karena menurut Van photo itu sangat berharga bagi Van.
__ADS_1