
Hembusan angin malam, tak membuat Princess beranjak dari balkon kamar Van. Princess menikmati dingin nya malam, dengan memandang langit yang cerah. Bintang yang berkemelip di langit.
"Ibu, apa ibu tau aku di sini sangat merindukan mu"
"Apa ibu tau aku bertemu dengan pria sialan, yang selalu membawaku kedalam kesulitan. Pertama aku bertemu dengan nya, hingga sekarang bu"
Princess tersenyum saat mengingat kejadian dimana dia dengan Van bertemu. Tanpa Princess sadari Van menatap nya dibalik jendela kamar yang langsung terhubung dengan balkon.
"Entah kenapa aku merasa nyaman berada didekat mu. Senyum mu , tawa mu , mata indah mu membuat tenang hati ku"
Van mendekat ke arah Princess, berdiri di sebelah Princess. Van memandang langit yang cerah.
"Apa kamu menyesal telah bertemu dengan ku??"
"Menyesal pun tidak ada guna, mungkin ini sudah jalan yang diberikan kepada ku. Agar aku bisa merubah nasib ku dengan ayahku"
"Bagaimana bisa kamu merubah nasib mu dengan mengenalku???"
"Karena kamu mau memberi gaji aku dengan sangat mahal, dengan pekerjaan yang hanya menikah kontrak dengan mu"
"Kamu tidak menyesal??? Kamu tidak takut aku membohongi kamu???"
"Bagaimana bisa kamu membohongi ku, disaat kamu sendiri yang menyuruh ku menandatangani surat kontrak itu!!!"
Van menatap Princess dengan pandangan yang sulit diartikan, pandangan nya seakan menyimpan banyak pertanyaan yang sulit Van tanyakan.
"Apa kamu tau, ibu ku selalu berkata. Jangan perna berpikir negatif kepada orang, karena pikiran kita sendiri yang akan membuat hal buruk itu sendiri terjadi"
"Ibu kamu benar!!! Sekarang sudah malam tidur lah, karena besok kamu harus kuliah"
"Apa kamu tidak tidur???"
"Apa kamu ingin tidur dengan ku???"
"Sudahlah mari kita tidur bersama, toh hanya tidur tidak lebih dari itu"
"Kamu tidak takut aku menodai mu saat kamu terlelap???"
"Aku percaya dengan kamu"
Van dan Princess memasuki kamar, Princess menutup jendela lalu menguncinya. Van berjalan ke sisi ranjang dengan Princess yang ada di sisi lain ranjang.
"Selamat malam Ano"
"Malam Princess"
...****************...
Jika kemarin malam akan tidur di sisi masing masing dengan pembatas guling di tengah tengah mereka, kini entah siapa yang memulai kini Van dengan Princess saling berpelukan.
Princes merasa sangat nyaman didalam pelukan Van, begitu pun dengan Van yang nyaman memeluk tubuh ramping Princess.
Sama sama merasa nyaman, sampai tidak terusik dengan sinar matahari yang masuk melewati jendela kamar.
Hari yang mulai siang tidak membuat penghuni kamar sadar jika waktu mereka melakukan aktivitas sudah sangat terlambat.
"Apa masih belum turun Va mereka berdua???"
"Belum nyonya"
"Sudah mulai siang tapi kenapa mereka belum turun, apa mereka semalam bergadang???"
"Suru putra mu cepat menikahi Princess mom, sebelum terjadi yang tidak diinginkan"
Eva dengan Aura menoleh ke arah sumber suara, Dimana Jonie berjalan mendekat ke arah mereka.
"Kami akan kembali ke mansion utama Va, jika nanti Van dengan Princess bertanya"
"Baik nyonya"
Jonie dan Aura melangka keluar mansion, karena mereka akan kembali ke mansion utama. Karena merasa kasih dengan Maharani ibu Jonie yang sendirian di mansion.
Dikamar Princess mulai menggeliat, karena merasa perut nya yang lapar. Princess merasakan berat yang melingkar di pinggang nya. Princess juga merasa guling yang berubah sangat besar.
Princess terus bergerak, dan meraba raba tubuh Van yang tertutup baju tidur. Van merasa terganggu dengan gerakan kecil Princess.
__ADS_1
"Emmmm, Princess kamu jangan bergerak terus. Aku tersiksa" wajah Van yang memerah , suara yang serak, seakan menahan sesuatu.
Princess yang sadar dengan suara Van seketika berhenti bergerak. Princess perlahan membuka matanya. Mata Princess melotot saat dirinya berada dalam pelukan Van, bukan itu saja dirinya yang juga memeluk tubuh kekar Van.
"Ahhhhhhhh"
Princess berteriak lalu menendang Van dengan sekuat tenaga, Van yang tidak memiliki kesiapan terjatuh ke lantai.
"Ahhhh"
"Kenapa kamu menendang ku???" Van berdiri dengan mengusap pantat nya yang habis berciuman dengan lantai
"Maaf maaf aku tadi terkejut, saat melihat kamu ada didepan mataku"
Van duduk ditepi ranjang, dengan menatap Princess kesal. Van saat melihat wajah polos Princess tidak bisa marah. Entah apa yang terjadi dengan Van yang terkenal berdarah dingin.
"Apa masih saki???"
"Hemmm"
"Maaf yah Ano!!" Princess memperlihatkan puppy eyes nya.
"Huufff" Van membuang nafas nya.
"Mandilah lebih dulu, aku akan turun sebentar"
Princess beranjak dari ranjang, setelah Van beranjak berjalan keluar. Princess masuk kedalam kamar mandi.
Van yang turun ke lantai bawah menyuruh Roy menghubungi butik langganan keluarga nya. Agar datang ke mansion membawa koleksi terbaru.
Setelah itu Van naik lagi ke lantai atas, melihat Princess sudah mandi apa belum. Van masuk ke dalam kamar, melihat Princess sudah memakai celana jins panjang dengan kemeja lengan panjang. Dengan mengikat kuda rambut panjang nya.
Van, tanpa menyapa Princess masuk kedalam kamar mandi, karena waktu yang sudah sangat siang. Van harus segera ke kantor.
Tidak berselang lama Van keluar kamar mandi, tidak menemukan Princess ada. Van tidak memikir kan itu, Van masuk kedalam walk in closet.
"Apa yang kamu lakukan dengan baju ku???"
"Ini aku menyiapkan untuk kamu, sebagai tanda permintaan maaf ku"
"Ano, aku boleh ikut kamu ke kantor???"
"Kenapa???"
"Aku kesepian disini aku juga tidak kuliah, karena waktu sudah sangat siang"
"Baik lah, tunggu sebentar keluar lah dulu"
Princess diam lalu keluar dari walk in closet dengan wajah sumringah, Tersenyum senang.
...****************...
Kini di kantor sudah sangat heboh dengan teriakan Sinta yang ingin masuk ke dalam kantor, ingin mencari Van.
"Lepaskan aku!!!!!"
"Kalian tidak tau, siapa aku??? Aku akan minta Van memecat kamu
Van dan Princess yang ingin masuk kedalam kantor, melihat Sinta yang berteriak, memberontak saat security memegang tangannya.
"Van tolong aku Van"
"Lepaskan aku, kalian akan dipecat Van jika berani bersikap kurang ajar dengan ku"
"Tidak akan ada yang bisa memecat pegawai disini termasuk Van"
Semua mata menatap Princess yang baru datang dengan menggandeng tangan tuan mereka.
"Tante kita bertemu lagi di sini"
"Hey, lepaskan tangan busuk mu itu dari tangan kekasih ku"
Princess menatap Sinta dengan pandangan mengejek, setelah itu Princess membelai rahang koko Van.
"Sayang, dia sudah berani mengatai ku busuk!!" ucap Princess dengan nada manja nya.
__ADS_1
"Jangan kamu dengar perempuan gila ini sayang"
"Van, aku tau kamu hanya membuat perempuan ini pelampiasan saja"
"Tutup mulut bau mu tante sialan, aku tegaskan jangan ganggu Ano lagi. Atau aku buat mulut bau mu itu robek"
Semua orang yang ada di sana terkejut dengan pekikan Princess. Dan berhasil membuat Sinta diam. Sinta menatap Princess dengan ngeri sendiri
"Pak, tolong seret orang gila ini pergi dari sini, bila perlu buang dia ketempat yang sesuai dengan pakaian kurang bahan nya"
"Ba-ba-ik Nona" Dua Security yang memegang Sinta lalu menyeret keluar dari lobby kantor. Sementara Van dan Princess meninggalkan kekacauan di lobby.
"Ano, dia seperti nya masih sangat mencintai mu"
"Aku tidak peduli dengan nya"
"Aku hanya peduli kamu dan aku saja"
Seketika pipi Princess memerah seperti tomat, Princess lalu memalingkan wajah nya, agar Van tidak melihat nya.
Tapi usaha Princess hanya sia sia karena Van lebih dulu melihat nya.
"kenapa pipi mu memerah???" Goda Van
"Sudahlah ayo masuk, kerjakan semua yang akan pekerjaan mu sebelum semakin menumpuk"
Van membuka pintu ruangan Van, setelah itu Princess merebahkan dirinya di atas sofa yang ada didalam ruangan Van.
"Ano, aku nanti ingin pulang"
"Nanti akan aku antar kamu ke rumah emak"
"Terima kasih".
Princess menatap Van dari sofa ruang kerja Van, Van begitu menarik dimata Princess saat sedang fokus dengan pekerjaan nya.
"Kaca mata yang bertengger di hidung mancung nya menambah Ano terlihat sangat tampan" Batin Princess
"Apa sudah selesai mengagumi ketampanan ku???"
Princess tersadar dengan suara dingin Van, yang sekarang sudah menatap nya.
"Apa kamu mulai terpesona denganku???"
"Siapa yang terpesona dengan wajah jelek mu"
"Benarkah aku jelek??" Van mengangkat alis nya sebelah
Brakk...
Princess dan Van terkejut dengan suara pintu yang terbuka dengan kasar. Mereka berdua menoleh ke arah pintu.
"Van jangan seperti ini!!! Aku tau kamu hanya menjadikan perempuan murahan itu pelampiasan" pekik Sinta dengan menunjuk Princess
Princess berdiri dari duduk nya berjalan mendekat ke arah Sinta yang berjalan mendekat ke arah Van.
Plak...plak...Bruk
"Ahhh" Sinta meringis saat tubuh nya terhempas ke lantai karena tamparan Princess
Van hanya menatap Sinta dengan senyum miring
"Sialan, kamu berani menamparku!!!!" pekik Sinta tidak terima
Sebelum Sinta merai tangan Princess tubuh nya sudah dipegang oleh dua pengawal Van yang bertugas di kantor Van.
"Seret, buang dia ditempat yang seharusnya"
"Baik tuan muda"
Dua pengawal menyeret Sinta dari ruangan Van. Setelah itu Princess mendekat ke arah Van.
"Lihat lah dia mantan kamu, kurang ajar sekali"
"duduk lah, aku akan mengurus dia, yang sudah membuat mu terganggu.
__ADS_1