Rainy Couple

Rainy Couple
Nabilah Berusaha Move On - 1


__ADS_3

Cici Fey tertawa. "Tuh, kan, apa Cici bilang. Untung belum Cici jualin kura-kura kamu itu. Hampir Cici mau kasihin ke orang."


"Gak lama, kok, Ci." balas Nabilah tersenyum. "Cuman bentaran. Lagian Miiko udah aku kasih ke Cici."


"Apa nggak sebaiknya kamu ambil aja Miiko? Kayaknya Miiko sangat berarti buat kamu, Nabilah. Terus, Miiko juga lebih sering murung kalo Cici lihat."


Nabilah tertawa. "Tahu dari mana, Ci? Kura-kura kan emang gitu. Susah ngebedain ekspresi mereka, mana lagi happy, mana lagi bete."


Cici Fey menunjuk hatinya. "Cici bisa ngelihatnya pake feeling Cici. Lagian, soal kura-kura, kamu yang lebih tahu dari Cici."

__ADS_1


Nabilah hanya tersenyum.


"Ya udah, masuk dulu, Nabilah. Eh, kamu yang semangat, dong. Cici tahu seminggu yang lalu, Bapak kamu baru meninggal, tapi jangan terus-terusan berduka gitu." sahut Cici Fey tersenyum, lalu membuka pagarnya.


Pagar dibukakan. Nabilah lalu berjalan mengikuti Cici Fey ke dalam rumah perempuan yang berwajah terlalu Oriental (pernah ada yang bertanya ke Cici Fey, apakah Cici Fey terlahir di RRC atau tidak). Karena Nabilah datang di atas jam delapan pagi, rumah Cici Fey begitu sepi. Cici Fey bilang, di jam-jam segini, memang hanya ada dua dan satu-dua pembantu rumah tangganya. Ketiga anaknya tengah berada di sekolah. Sementara suaminya bekerja di sebuah dealer mobil. Tampak dapur Cici Fey yang sangat berantakan sekali.


"Lagi banyak pesanan, Ci?" tanya Nabilah. Perempuan itu mendekati seorang pembantu yang tengah sibuk mengocok adonan.


"Wah, kasihan juga yah, Ci," jawab Nabilah dengan kata menerawang ke arah salah satu adonan kue. Yang dilihatnya itu adalah adonan kue nastar.

__ADS_1


"Eh, kamu jangan melamun gitu. Ntar kesambet loh." celetuk Cici Fey terkekeh-kekeh. "Kamu mau bantuin bikinin kue, nggak? Setahu Cici, kamu bisa kan bikin kue. Menurut Cici tuh, cewek yang bisa bikin kue itu spesial banget. Beruntung banget nanti cowok yang bisa dapetin kamu, Nabilah."


Setetes air mata mulai menetes dari pelupuk mata Nabilah. Matanya masih menerawang ke arah yang sama. Ingin rasanya Nabilah menangis. Tenggorokannya pun mulai terasa aneh. Seperti berusaha menahan sesenggukan.


"Eh, Nabilah," Tangan Cici Fey melambai-lambaikan tangan di depan wajah Nabilah. "Kok malah sedih gitu? Apa ada yang salah sama kata-kata Cici? Apa jangan-jangan benar dugaan Cici, kamu lagi patah hati?"


Nabilah tak menjawab. Lagi-lagi pandangan matanya masih tertuju ke adonan kue nastar yang siap dimasukan ke dalam oven.


"Nabilah, cerita aja sama Cici, kamu kenapa? Siapa cowok yang tega mainin perasaan kamu?"

__ADS_1


Nabilah menggeleng. Ia menggigit bibir bawahnya.


"Apa cowok yang bikin kamu sedih gini, namanya Matias? Kalo Cici nggak salah ingat, dia itu teman SMP kamu kan. Cici ingat kamu dulu suka merah mukanya kalo Cici nyebut nama Matias."


__ADS_2