
Matias terbangun oleh sebuah dering. Kebetulan ponsel Matias terhubung ke aplikasi e-mail. Ada sebuah email masuk. Dari Kezia.
Matias tak benar-benar membaca e-mail Kezia tersebut. Hanya selintas. Karena membaca nama e-mail itu saja, Matias merasakan sesuatu yang aneh. Dirinya seperti habis kepergok selingkuh.
Spontan Matias memegangi bibirnya. "Ya Tuhan", desis Matias komat-kamit tanpa nada. "Yang kemarin itu,....."
Lama Matias terdiam. E-mail itu dibacanya sekali lagi. Kezia mengirimkan sebuah puisi. Matias sedikit tersenyum. Meskipun demikian, sebut senyuman belum bisa menghapuskan rasa bersalah tersebut.
Ponsel Matias berdering. Dari Kezia lagi. Kezia bertanya kapan dirinya pulang. Tanpa pikir panjang, Matias menjawab bahwa dirinya berencana pulang ke Indonesia minggu depan. Ini minggu terakhir dia di Tokyo.
__ADS_1
Dering lagi. Kali ini dari aplikasi Line. Matias sepertinya lupa bahwa dirinya saling bertukar akun Line dengan Julia. Dering tadi dari pesan Line Julia.
Sebetulnya Matias masih merasa tidak enakan dengan Kezia. Namun, ada semacam dorongan tersendiri yang mengharuskan Matias membuka pesan tersebut. Jantung Matias berdebar-debar. Dia menelan air liur.
Aplikasi Line yang terpampang di layar. Julia yang mengirimkan pesan. Kakak kelasnya saat SD dulu itu meminta Matias untuk menemaninya ke bioskop. Julia bilang yang biasanya menemani itu mendadak berhalangan. Sementara tiket sudah terbeli dua.
Lagi-lagi, tanpa pikir panjang, terlepas dari rasa bersalah tadi, Matias main terima saja ajakan Julia tersebut. "Boleh, Kak," begitu jawab Matias.
Untuk menghilangkan rasa tak nyaman tersebut, Matias bergegas menuju kulkas. Kalau tak salah, Matias membeli sekotak sari buah minggu lalu. Mungkin masih tersisa sedikit.
__ADS_1
Ternyata masih ada. Sari buah itu masih tersimpan di kulkas. Matias langsung saja minum untuk menghilangkan ketegangannya. Sehabis meneguk sari buah tersebut, Matias menggigit bibir bawahnya. Pandangan matanya teralih ke arah langit-langit yang berwarna putih. Lampunya unik, yang seperti sebuah lampion.
Matias sempat berpikir apakah dia harus membatalkan saja ajakan tersebut. Namun, terpaksa Matias urungkan buat tersebut. Sebab, Julia itu kakak kelas Matias. Mereka sudah lama tak berjumpa. Masa sekalinya bertemu, main tolak ajakan? Matias takut dipandang negatif oleh Julia. Di luar itu, Matias memang ingin sekali merasakan suasana bioskop di kota sebesar Tokyo.
Tolak, tidak, tolak, tidak. Matias dalam persimpangan jalan. Kalau menolak ajakan tersebut, Matias sudah menjaga perasaan Kezia. Perasaan bersalah itu terhapuskan sudah. Namun, resikonya Julia mungkin saja tersinggung. Sementara kalau menerima ajakan tersebut, hubungan baik tetap terjaga, tapi rasa bersalah itu akan terus merongrong.
Matias kembali menyentuh ponselnya. Dia mengernyitkan dahi. "Eh, ini samping Kak Julia, siapa?"
Layar ponsel didekatkan ke arah wajahnya. Kedua matanya dipicingkan. Matias seperti kenal dengan perempuan bertopi pantai warna biru muda yang berdiri di samping Julia. Perempuan itu menjulurkan lidahnya seolah-olah si perempuan baru saja melakukan suatu keisengan. Sorot mata si perempuan membuat Matias teringat dengan seseorang. Itu adalah seorang perempuan jahil di kelas 4B dulu.
__ADS_1
"Ini kayak Shanelle. Cuma dia, nih, yang hobi melet-meletin lidah. Terus, antara si cewek ini sama Shanelle ini juga sama-sama punya lesung pipit. Shanelle bukan ini, yah?" terka Matias.