
Di Pan Lova,
"Misi, Mbak," ujar salah seorang karyawati di Pan Lova. Karyawati yang lebih tua dari Thalia ini minta ijin untuk pulang ke rumah. Sebab, sudah jam pulang kerja. Namanya juga kafe. Jam kerjanya agak berbeda dari kebanyakan jam kerja yang rata-rata berakhir di jam lima sore.
Kafe itu sendiri berakhir jam operasionalnya di jam delapan malam. Sementara, untuk Kezia, ia baru selesai bekerja di jam sembilan. Walau, itu tak menentu juga. Tergantung Beby, sang empunya kafe. Bagaimanapun Kezia bisa bekerja di Pan Lova karena peranan Beby. Kalau mau jujur juga, kafe itu didirikan oleh tiga orang. Perintisnya itu bukan hanya Beby, Kezia dan Ivy juga. Namun, untuk mempermudah prosesnya, mengingat mereka sudah bersahabat dalam waktu yang cukup lama, pendirinya cukup Beby saja.
Kezia mengangguk. Pandangan matanya beredar ke seluruh penjuru. Tampaknya hanya Kezia yang berada di kafe itu. Sejak dulu, Kezia memang sudah pemberani. Sudah cukup sering Kezia pergi ke mana-mana sendiri saja. Berbeda dengan Thalia, yang tak seberani Kezia.
Sepertinya sudah benar-benar kosong. Karyawati yang seorang ibu beranak dua itu adalah yang terakhir. Karyawati itu juga yang membantu Kezia membereskan kafe. Sekarang, benar-benar hanya ada Kezia di dalam kafe tersebut.
Kezia bersiap-siap untuk menurunkan rolling door-nya. Pintu utama kafe juga sudah dikunci. Pelan-pelan Kezia menurunkan rolling door tersebut. Tak sulit untuk menurunkannya. Rolling door itu bukan besi tua pula.
"Selesai juga," ujar Kezia tersenyum, lalu ia mengunci rolling door tersebut.
Sebelum memesan layanan taksi online, Kezia memilih untuk menelepon seseorang. Sudah pasti Matias. Ada yang mau Kezia beritahukan ke laki-laki yang belum jelas posisinya di hati Kezia.
"Halo, Ke, aku seneng banget kamu nelepon aku." ujar Matias yang terdengar sangat senang sekali.
"Aku udah baca pesan kamu yang panjang banget itu."
"Iya, Ke. Maaf, aku cuman berani kirim pesan. Bukan karena aku pengecut, tapi kalau aku telepon kamu, aku takut kamu reject."
Kezia nyengir, entah karena apa. Walau nyengir, wajah Kezia masih terasa masam. "Iya, kamu bener. Aku pasti reject, karena aku lagi sibuk di kafe."
"Kamu masih marah?"
"Aku udah denger dari Ivy."
"Kok Ivy, sih?"
__ADS_1
"Ivy nggak sengaja ketemu sama kamu dan Nabilah. Kamu--sabtu kemarin itu--ketemuan kan sama Nabilah di Rainbow Caffee?!"
Sempet ada jeda sebentar, yang akhirnya Matias berbicara juga. "I-iya, t-tapi a-aku ng-nggak ka-kayak yang kamu pikirin. Aku sama Nabilah pun nggak ada hubungan apa-apa. Murni ketemuan sebagai temen. Aku cuman cinta sama kamu, Ke."
Kezia spontan tersenyum. Air mata itu menetes pelan.
"A-aku serius, Ke. Segala pesan aku itu serius dan nggak bohong."
Kemudian, hening.
Ponsel itu agak dijauhkan sebentar dari telinga Kezia. Samar-samar Kezia masih mendengarkan suara Matias yang bertanya apakah Kezia tengah menangis. Yah, Kezia memang sedang menangis. Kezia juga tengah bingung. Jujur, Kezia sebetulnya masih mencintai Matias. Sulit bagi Kezia untuk membenci dan meninggalkan Matias. Dulu saja, Kezia hendak dijodohkan dengan Tobias saja, Kezia dengan tegas dan berani bilang ke Thalia, Kezia tak menyukai Tobias dalam artian romance. Dan, sekarang, apa harus Kezia berbalikan kembali dengan Matias?
"Ke,..." ucap Matias. "Kamu nggak nangis, kan?"
Kezia menggeleng. "Nggak, kok. Aku kebetulan lagi nggak enak badan. Agak flu berat."
"Oh, cepet sembuh, yah, Ke,"
Lagi-lagi, hening di antara Kezia dan Matias. Kezia menyempatkan diri untuk menggaruk lengannya karena digigit nyamuk.
"Ke,"
"Iya."
"Makasih udah mau angkat telepon aku."
"Iya."
Eh, hening lagi. Tapi, terdengar suara komat-kamit Matias.
__ADS_1
"Matias," Kali ini, giliran Kezia yang memecah keheningan.
"Iya, Ke."
Akhirnya, tak kuasa Kezia untuk meluapkan segala air mata. Kezia heran kenapa Matias seringkali mengeluarkan air mata dari pelupuk mata Kezia. Kezia ingat awal berkenalan dengan Matias. Dengan air mata pula. Di Gading Media itu, kedua mata Kezia sudah basah. Selanjutnya, tak lama berpacarannya, Kezia dibuat sedih karena Matias memilih untuk menyusul kedua orang tua Matias ke Jepang. Berlanjut di tahun 2013, Kezia bertemu kembali dengan Matias, lagi-lagi diawali dengan air mata. Dan, kini Kezia harus menangis lagi. Kenapa harus seperti itu? Padahal Kezia sangat mencintai Matias.
"Ke, sekali lagi, aku minta maaf. Maafin aku. Aku nggak pernah bermaksud buat nyakitin hati kamu." desis Matias yang ikut serta menangis.
Sembari menangis sesenggukan, Kezia berkata, "I love you so much. Still and still, and forever. I don't want to lose you, Matias Immanuel Sinaga!"
"Maksudnya?"
"Besok sabtu, mau nonton? Aku udah lama nggak nonton bareng kamu."
...TAMAT...
Terima kasih yang sudah mengikuti RAINY COUPLE hingga sejauh ini! Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Like, vote, dan share kalian adalah yang membuat RAINY COUPLE bisa bertahan hingga episode 150. Walau novel ini gagal masuk peringkat seratus besar, aku sangat bersyukur karena RAINY COUPLE ini bisa mencapai episode 150. Terima kasih banyak, Semua! 😄
Jangan lupa untuk menyimak novel-novel aku lainnya yang di-publish di NovelToon ini. Semuanya masih on going.
PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN
LIKA-LIKU ASMARA ALDO-THEA
DESTINY 41
HOKI RAME-RAME
GRACIA-ANIN-MAULIDYA: LOVE KNIGHT
__ADS_1
PARODI SPONS BOB
SALAH SAMBUNG STORY