
Driiiin!!!
Matias cengar-cengir sendiri menatap layar ponselnya dari kejauhan. Pikir Matias, mungkin Nabilah yang menghubunginya lagi. Tanpa melihat layar ponselnya baik-baik, Matias main menjawab panggilan telepon.
"Apa lagi, Nabilah? Kangen yah?" seru Matias hampir mau tertawa lebar.
"Nabilah? Ini aku, Kezia, Yas." balas seseorang yang memiliki suara yang Matias sangat kenal dekat orangnya.
Matias kaget. Dia pucat pasi. "Oh, k-k-kamu, Ke,..."
"Iya, aku, ehem,..." Dari suara dehamannya, terdengar Kezia mendadak kesal, yang awalnya mungkin belum. "jadi, kamu suka ngehubungin teman SMP kamu itu? Terus, nggak kasih tahu aku? Lalu, kalian diem-diem ketemuan ampe cium-ciuman?"
******! Apa yang Matias harus jawab ini? Kedua telapak tangan Matias jadi basah karena keringat dingin.
"Kok kata-kata aku nggak dibales?" ujar Kezia sinis. "Iya, iya, aku cukup tahu aja. Bilang aja, kamu lebih menyukai Nabilah. Pas pertama ketemu Nabilah, mungkin kamu serasa CLBK, yah."
Astaga, dugaan Kezia tepat. Matias makin grogian. Pintar sekali kakak kelas Matias ini menganalisa seluruh alur ceritanya. Haruskah Matias berbohong, walau Matias sebenarnya belum yakin siapa yang ia pilih? Kezia atau Nabilah?
Kalau pilih Nabilah, Nabilah memang cinta monyet pertama Matias. Nabilah itu cinta pada pandangan pertama. Begitu bertemu Nabilah saat MOS, Matias sudah jatuh hati. Sementara Kezia, kakak kelasnya itu, Matias dulu merasa perempuan itu pengganti yang dikirimkan Tuhan untuk dirinya yang tengah limbung karena ditinggal saat lagi sayang-sayangnya.
"Padahal tadi aku mau ngabarin kalo besok malem, Kak Thalia ngajakin kamu ke rumah aku. Jam tujuh. Tapi kalo kamu lebih pengin ketemuan sama CLBK kamu itu, yah terserah aja. Aku gak maksa."
Hening.
"Kok diem, Yas? Jadi, gimana?"
"Eeee..." Matias menelan air liur. "Y-y-ya,... aku pasti pilih ajakan makan malam kamu itu."
"Kok jawabnya nggak mantap gitu? Ragu-ragu? Apa mungkin kamu curiga nanti bakal dibentak-bentak Kak Thalia? Makanya kamu lebih milih ketemuan sama Nabilah? Gitu?"
Hening lagi.
"Yah, aku pilih kamu,"
"Seriusan?"
"Iya,"
__ADS_1
"Aku tanya lagi, kamu mau gak makan malam di rumah aku besok?"
"Mau, Ke."
"Bagus. Ya udah, besok jangan lupa, jam tujuh. Tapi kalo mau dateng lebih cepet, yah gapapa. Aku malah seneng banget. Kamu udah lama banget nggak main ke rumah aku sejak perang dingin sama Kak Thalia."
"Iya, Ke."
"Oh iya, Yas, bukannya cemburu yah, tapi aku pengin tahu aja, ada perlu apa kamu nelepon Nabilah?"
"Eeee... bukan aku sih yang nelepon, Ke. Aku ditelepon. Dia mau ngabarin aja ke aku, dia mau berangkat ke Jepang. Gitu, Ke?"
"Seriusan? Kamu gak bohong kan?"
Matias spontan mengangguk. "Iya, dia sendiri yang ngasih tahu."
"Berangkatnya kapan? Terus, kamu ada niat mau nganterin dia ke bandara? Kalo iya, aku boleh ikut?"
Astaga, Kezia benar-benar cemburu berat. Tapi, Matias sedikit geli juga sebetulnya. Perempuan itu terlihat lucu kalau lagi merasa cemburu.
"Kayaknya sih minggu depan. Besok Nabilah mau ke Imigrasi dulu buat ngurus segala persiapannya."
"Yah, tadinya gitu. Apalagi teman-teman SMP lainnya pada datang juga." ucap Matias yang berbohong sebetulnya. Faktanya, Matias itu satu-satunya alumni SMP Mandala yang tahu mengenai rencana keberangkatan Nabilah.
"Jadi, ada teman-teman kamu yang lainnya juga? Ya udah deh, mungkin sekalian reunian juga. Gak enak juga kalo ganggu."
"Makasih, Ke, buat pengertiannya. I love you so much!"
"Love you, too."
Belum ada setengah jam, ponsel Matias berdering lagi. Kali ini Nabilah yang menelepon lagi.
"Yah, Nab, ada apa?" sahut Matias yang masih pucat.
"Lu kenapa sih? Gugupan gitu?" tanya Nabilah terkekeh-kekeh.
"Ng-nggak ada apa-apa,..."
__ADS_1
Nabilah tertawa. "Oh, ya udah, gue nelepon lagi karena gue mau minta temenin lu ke Imigrasi. Takut nyasar gue. Karena gue belum hapal jalan-jalannya. Makanya lebih baik bareng temen. Lumayan ada temen ngobrol gue selama nunggu."
"Oh, gitu."
"Gimana? Bisa nggak? Ada waktu kosong kan besok? Keperluannya sih jam sembilan pagi."
"Eee... bisa sih..."
Nabilah tertawa lagi. "Lu dari dulu nggak pernah berubah, tetap aja grogian. Ya udah, besok pagi gue ke rumah lu, yah? Jam tujuh pagi?"
"Apa gak di Rainbow Caffee aja?"
"Gimana sih? Kafenya mana buka jam tujuh pagi."
"Eh iya, gue lupa..."
"Kalo lu keberatan, mending jangan. Gue mendadak punya firasat nggak enak." ujar Nabilah yang sebentar berhenti bicara. "Tadinya gue minta lu temenin karena Nabit lagi ada urusan. Kerjaannya gak bisa ditinggal. Terus, gue gaptek gitu soal GPS. Agak buta map juga. Makanya gue minta tolong lu. Tapi kalo lu keberatan, gue minta tolong orang lain aja--ato bela-belain nyasar deh."
"Gue bisa, kok."
"Udah, gak usah. Gue baru inget, mungkin Ci Fey bisa nemenin gue. Eh, masih inget Ci Fey nggak?"
"Yang dulu punya usaha kue kering kan."
"Kue basah sama bolu juga."
"Hehe."
"Jadi, gimana? Kalo lu keberatan, mending gak usah."
"Bisa, kok."
"Yakin?"
"Iya."
"Besok gue ke rumah lu jam tujuh."
__ADS_1
Begitu selesai, Matias langsung menepuk jidat. ****** ini, bisa lama di Imigrasi nanti. Nanti kalau ketahuan Kezia, Matias harus bilang apa? Apa Matias bilang saja ada keperluan dengan dosen pembimbing? Eh, tapi Kezia sudah tahu Matias hanya tinggal menunggu waktu sidang saja. Pusing sekali kepala Matias!