Rainy Couple

Rainy Couple
Sulit Melupakan


__ADS_3

Shanelle kini berada di sebuah kafe. Kafe yang didatangi Shanelle ini lumayan sering didatangi oleh anak muda, khususnya remaja-remaja SMA. Posisinya juga sangat strategis. Salah satunya, jalan di depan cukup ramai oleh kendaraan. Kafe itu juga dekat dengan sebuah kampus. Tak jauh dari kafe tersebut, pun ada sebuah SMA.


Di depan Shanelle, tak jauh dari ia duduk, ada sebuah band tengah manggung. Bukan band terkenal, namun band ini seringkali menerima tawaran manggung untuk menyanyikan beberapa lagu. Sekarang ini saja band ini tengah menyanyikan lagu yang pernah dipopulerkan oleh Zivilia.


Tanpa sadar Shanelle menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Pandangan mata Shanelle tertuju ke arah gitarisnya. Menurutnya, gitaris itu merupakan salah satu contoh dari definisi cogan yang sesungguhnya. Lihatlah, wajah si gitaris. Rahangnya yang kokoh. Potongan rambutnya yang acakadut (yang setiap jeda, si gitaris suka memainkan ujung-ujung rambutnya macam model iklan sampo pria saja). Sorot matanya yang tajam seperti Jerinx SID yang tengah menggebuk drum. Aaaaah... Shanelle mengentak-entakan kedua kakinya.


Lupa sudah alasan Shanelle kenapa ia membawa laptop ke dalam kafe tersebut. Hari ini ia berencana membuat slide-slide presentasi untuk ditunjukan kepada calon customer.


Sayangnya kesenangan Shanelle hanya sebentar. Usai sudah pertunjukan band tersebut. Band penggantinya segera naik ke atas panggung. Shanelle langsung cemberut.


Shanelle langsung mengambil sekotak rokok mild. Ia ambil sebatang dan mengisapnya. Ia pelototi lagi laptop-nya. Dengan merokok, penatnya hilang. Kepalanya tak terlalu tegang lagi. Ia bisa relaks.


PING!


Ternyata kakaknya yang menge-PING dari Tokyo. Shanelle menyalakan messenger-nya.


Julia: Gimana kabar, Shan?


Shanelle: Baik.


Julia: Nyalain webcam kamu. Udah lama Kakak gak webcam an sama kamu.

__ADS_1


Shanelle: Ya.


Shanelle dan Julia saling mengobrol via webcam.


"Astaga, Shan. Kamu ngerokok lagi?"


Shanelle nyengir. Ia langsung mengenakan headset agar obrolannya dengan kakaknya tak terdengar ke mana-mana.


"Kamu lagi di kafe?"


"Iya, Kak. Suntuk abisnya di apartemen mulu."


"Hehe... jangan sering ngerokok kamu itu. Kalo kenapa-napa, gak ada yang ngurusin kamu."


Julia nyengir. "Oh iya, kamu tahu gak? Beberapa hari lalu yang lalu, Kakak ketemu Matias. Kamu masih ingat sama teman SD kamu itu?"


Shanelle langsung tegang. "Serius?"


"Iya, tapi dia sekarang udah balik ke Indonesia. Haha... ternyata kamu gak sia-sia menanti, yah, Shan. Semoga aja Matias segera nyamperin kamu di Indonesia sana."


Wajah Shanelle samar-samar langsung memerah. "Gak juga, sih."

__ADS_1


Asal kakaknya tahu Shanelle juga tak sengaja bertemu Matias di Soekarno-Hatta. Pertemuan dengan Matias di DD itu sangat berkesan untuk Matias. Apalagi kejadian saat Matias mengajak Shanelle ke club, mabuk bareng, curhat bareng, hingga akhirnya tidur bareng. Membayangkannya saja, pipi Shanelle langsung memerah. Sekujur tubuh Shanelle bergetar. Darah Shanelle terasa panas di dalam tubuh. Jantungnya ikut berdebar-debar.


"Wajah kamu sampe merah gitu,"


Adik dan kakak itu bersama-sama tertawa terbahak-bahak. Sesekali Shanelle mengisap rokok mild-nya. Sementara Julia kembali mengisap oolong tea-nya.


"Oh iya, kamu masih mikirin Mama?"


"Gak terlalu, sih. Perlahan-lahan aku udah mulai bisa nerima kepergian Mama."


"Biasanya Mama sih yah yang ngurusin kamu. Nyuciin baju kamu, nyetrika, masakin sesuatu buat kamu, ampe... ah, kamu itu, Shan, coba aja kamu--"


Julia tak meneruskan kata-katanya barusan. Ia berhenti karena melihat ekspresi Shanelle yang bermuram durja. Bagaimanapun Shanelle itu satu-satunya keluarga yang ia miliki. Julia tak mau Shanelle kenapa-napa, yang membuat Shanelle pada akhirnya harus menyusul Mama ke alam sana.


Sementara itu, di pihak Shanelle, perempuan itu sangat merasa bersalah. Kalau saja ia bisa bersikap lebih hormat, kalau saja ia tak seenaknya sendiri, kalau saja ia mau meringankan pekerjaan Mama, mungkin Mama masih ada. Shanelle menggigit bibir bawahnya, dan rokok itu ia sumpalkan ujungnya ke asbak yang tak jauh dari laptop.


"...semangat, Shanelle. Ya udahlah, Mama udah lumayan lama pergi ninggalin kita."


Air mata Shanelle hampir saja mau meledak. Tenggorokannya tercekat. "Iya, Kak, makasih."


Di benak Shanelle, terbayang-bayang wajah Mama yang selalu mengomel untuk membangunkannya tiap pagi. Yang Mama suka melotot kalau Shanelle bilang masakan Mama tak enak. Ah, Shanelle tak kuasa untuk tidak menangis. Ia sampai terbatuk-batuk.

__ADS_1


*****


Terimakasih yang sudah mengikuti RAINY COUPLE hingga sejauh ini! Jangan lupa like, vote, dan share nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.


__ADS_2