
"Gimana sih, Nabilah, awal mula kamu bisa kenal dan berhubungan sama cowok yang namanya Matias itu?" tanya Cici Fey, yang kembali menghampiri Nabilah yang asyik bermain dengan Miiko.
Nabilah meletakan Miiko sebentar di sebelahnya. Sementara Cici Fey duduk di sebelah Nabilah. Nabilah spontan mengambil sepotong nastar yang tersaji di atas nampan tersebut. Sejak kecil, Nabilah itu penggemar berat kue-kue buatan Cici Fey.
Sambil makan beberapa nastar dan minum jus melon, Nabilah terngiang-ngiang masa lalunya. Kenangan indah saat masih menjadi murid SMP Mandala. Sampai sekarang, dirinya tak bisa melupakan upacara pertama di hari pembukaan Masa Bimbingan Siswa SMP Mandala. Upacara itu dipimpin oleh kepala sekolah SMP Mandala, Aris Silaban. Lalu, sehabis upacara, Nabilah dan murid-murid lainnya masuk ke dalam ruang kelas yang sudah ditentukan. Khusus untuk anak kelas 7, ada empat ruangan dan itu terletak di lantai tiga. Dan, Nabilah kedapatan ruang kelas yang terletak di ujung.
Ruang kelas itu begitu berisiknya. Gurunya belum datang pula. Hanya ada dua orang mentor di dalam ruangan. Nabilah tak pernah lupa siapa namanya: Jimmy dan Riko.
"Untungnya kita masih satu sekolah lagi, yah, Nab,"
"Iya, Nao,"
"Tapi, banyak juga anak SD Mandala yang ngelanjutin sekolah ke SMP Mandala. Gue kira, dikit. Secara, yang gue denger, masuk SMP Mandala itu udah susah, apalagi buat lulusan SD Mandala itu sendiri."
"Iya, kali. Gue nggak meratiin, Nao, hehe."
"Yah, lu nggak bakal meratiin. Secara lu kan lu lebih sering ijin buat syuting atau casting daripada belajar di kelas, yah."
Nabilah menyikut Naomi, nyengir dan tersipu malu. "Apaan sih lu, Nao? Gue sebetulnya juga meratiin situasi kelas walau lebih sering syuting."
"Haha. Meratiin situasi kelas atau meratiin gebetannya, si Ferdy?"
"Dih! Amit-amit jabang bayi, gue sama si Ferdy! Gak ada cowok yang bagusan dikit napa?"
"Lu bukannya naksir Ferdy, yang gue denger?"
"Bukan naksir, sih. Gue cuman kagum sama kepintarannya aja."
"Sama ajalah."
"Yah, bedalah. Kagum yah kagum. Naksir yah naksir. Secara susunan huruf, keduanya udah beda jauh."
"Apa kata lu, deh, Nab."
💜💜💜💜💜
"Oh, jadi Matias itu murid pindahan? Cici ngiranya dia dari SD Mandala juga." ujar Cici Fey sembari ikut makan kue buatannya. "Oh iya, cobain deh, bolu pandan buatan Cici. Enak banget!"
Nabilah mengangguk dan tersenyum. "Iya, Ci. Cici aku ini emang jago banget bikin kue, apalagi kue bolu."
Cici Fey nyengir lebar. "Gitu dong, Nabilah, kamu tersenyum itu jauh lebih baik. Kamu itu lebih cantik kalau lagi tersenyum."
__ADS_1
💜💜💜💜💜
Naomi tertawa lagi. Nabilah terheran-heran. "Kenapa lu, Nao? Ketawa sendiri gitu?"
"Oh iya, hebat lu, Nab. Belum apa-apa udah menjadi pusat perhatian. Dari tadi kita dilihatin mulu sama anak-anak sekelas."
Nabilah langsung mengedarkan pandang ke seluruh isi kelas. Benar saja dirinya dari tadi diperhatikan banyak calon murid SMP Mandala. Walau sudah terbiasa dengan ketenaran sejak balita, Nabilah tetap merasa risih juga.
Murid yang duduk di depan Nabilah sekonyong-konyong menengok ke belakang. Seorang laki-laki berkacamata dan berambut berantakan seperti tokoh Son Gohan di Dragon Ball.
"Kayak pernah lihat wajah lu. Kayak yang suka muncul di iklan susu itu." ujar anak laki-laki tersebut.
"Emang dia orangnya." Naomi terkekeh-kekeh. "Dia Nabilah Angela Siregar, yang juga pernah jadi presenter di turnamen tamiya. Juga yang pernah tampil di banyak FTV yang suka tayang tiap bulan puasa. Pernah nonton sinetron "Mahkota Hati" nggak? Dia tampil juga di sana."
"Ya ampun, pantes kayak pernah lihat di mana gitu wajahnya." ujar anak laki-laki itu yang benar-benar terkejut dengan temuannya di hari pertama menjadi murid putih-biru. "Kenalin, nama gue Matias Immanuel Sinaga. Panggil aja Matias."
Temannya pun sok ikut mengenalkan diri. "Darius Krystalino."
Nabilah membalas jabat tangan kedua teman barunya. Baik Matias maupun Darius, keduanya mengaku murid pindahan. Keduanya tak memiliki latar belakang pernah menjadi bagian dari SD Mandala. Keduanya juga merupakan teman baru pertama Nabilah.
"Eh, gue dulu suka nonton sinetron itu. Itu sinetron favorit gue dulu. Tiap abis Maghrib, gue pasti nonton "Mahkota Hati" tersebut. Dan, gak nyangka orang aslinya jauh lebih cantik. Mimpi apa gue semalam bisa ketemu artis di acara MABIS. Gak sia-sia gue bisa pindah ke SMP Mandala ini." ujar Matias yang sangat berapi-api sekali.
"Lu cantik banget, Nabilah. Cantik-cantik gini, pasti lu udah punya pacar." seloroh Matias yang sebetulnya iri juga. Di pikiran Matias, dirinya ingin berkata bahwa dia sudah jatuh hati pada pandangan pertama. Yang awalnya kagum belaka, berubah menjadi rasa cinta.
Naomi tertawa terbahak-bahak. "Cewek jutek kayak dia mah nggak mungkin punya pacar. Pas masih SD dulu, kerjaan dia tuh nolak cowok. Salah satunya, Ferdy sama Ikhsan."
Matias sebetulnya terlihat kecewa. Tak disangka Nabilah yang merupakan pujaan hatinya sejak dulu itu sangat pemilih dan memiliki standar tersendiri dalam memilih pacar.
💜💜💜💜💜
Cici Fey tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan cerita Nabilah tersebut. "Itu seriusan kamu, Naomi ngomong gitu?"
"Seriusan, Ci, akunya. Emang dulu Naomi pernah ngomong gitu. Padahal aku kan nggak gitu. Aku nggak pemilih, kok. Aku cuma nunggu seseorang yang paling tepat aja, yang mungkin Tuhan kasih ke aku." Kata-kata terakhir itu Nabilah ucapkan sambil kepalanya mendongak ke atas. Matanya menerawang lagi.
"Ehem," Cici Fey berdeham. "Cici jadi ingat novel bagus yang Cici pernah baca dulu. Kalo gak salah, judulnya itu 'Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi". Penulisnya Eka Kurniawan. Agak-agak mirip kisah kamu, cerita novelnya."
Nabilah terkekeh-kekeh. "Apaan sih, Ci? Nggak usah ngeledekin aku gitu, Ci."
"Becanda, Nabilah," balas Cici Fey terkekeh-kekeh pula. "Cobain bolu pandannya, Nabilah. Jangan cuma nastarnya yang kamu comotin."
__ADS_1
"Iya, Ci." Nabilah meraih sepotong bolu pandan. "Mmm.... enak banget, Ci, bolu pandannya."
💜💜💜💜💜
"Nabilah!"
Nabilah menoleh ke arah Pak Nelson. Gadis itu belum tahu bahwa namanya yang tertulis di buku tugas Matias tersebut.
"Nih, Nabilah, Matias bikin surat cinta buat kamu!" Pak Nelson mengarahkan halaman bertuliskan pengakuan cinta Matias tersebut ke arah Nabilah. Tak hanya Nabilah yang melihat, namun beberapa murid lainnya. Nabilah langsung merah mukanya.
"Cieeee,... cie, Nabilah,... cieee,..." Murid-murid lainnya langsung menyoraki Nabilah. Satu murid menyarankan agar Nabilah menerima saja cinta Matias. Ada juga yang menyarankan agar ditahan dulu. Yang lainnya menyarankan supaya ditolak saja (masa memilih laki-laki culun macam Matias?).
"Gimana, Nabilah?" tanya Pak Nelson. "Kamu terima gak cinta Matias? Nanti Bapak langsung bawa kalian berdua ke KUA!"
Seketika itu juga seisi kelas meledak dalam tawa. Matias menundukan kepala sedalam mungkin--yang kalau bisa, dia ingin mondok saja di bawah meja. Nabilah pun sama. Gadis berperawakan Arab itu ikut menundukan kepala.
"Awww!!!" Telinga Matias dijewer Pak Nelson.
"Sana, kamu, berdiri di pojok sambil pegang kuping!" hardik Pak Nelson. "Di kelas itu konsennya ke pelajaran, bukan cinta-cintaan."
Matias pasrah. Dengan tersaruk-saruk Matias berjalan menuju pojok kelas yang sudah dihuni oleh dua gagang sapu dan satu tongkat pel. Di pojok kelas, Matias memegangi kedua telinganya dengan sebelah kaki terangkat. Selama masa hukumannya, juga di tengah Pak Nelson yang kembali menjelaskan materi, mata Matias malah tertuju ke arah Nabilah. Untung saja Pak Nelson tak tahu.
"Cantik banget Nabilah itu," Matias keceplosan dan seisi kelas tahu. Nabilah memerah lagi mukanya. Dan, Matias mendapatkan lemparan kapur tulis. Matias meringis.
"Malah ngegombal kamu di sana!" damprat Pak Nelson. "Kencing belum lurus, udah cinta-cintaan!"
"Saya udah satu es-em-pe, Pak. Bukan anak es-de lagi. Boleh dong, Pak?"
Matias bersiap menghindar, karena Pak Nelson bergegas menghampirinya. Pak Nelson langsung menarik ujung cambang Matias. Matias kesakitan untuk kali kedua.
💜💜💜💜💜
"Semenjak kejadian pas pelajaran Matematika-nya Pak Nelson itulah, aku sama Matias jadi akrab. Udah banyak kenangan aku sama dia. Kalo inget itu lagi, apalagi di saat dia udah punya pacar, rasanya kok sakit banget, yah, Ci?" keluh Nabilah.
"Susah ngelupainnya, yah?" tanya Cici Fey lagi. "Apa mungkin kamu udah ngerasa duluan Matias itu jodoh kamu? Oh iya, Matias pernah nembak kamu nggak? Secara langsung gitu? Kalo dari cerita kamu barusan, Matias dari awal udah suka sama kamu. Dan, apa kamu pernah nunjukin ke dia, kalo kamu juga punya perasaan yang sama?"
Nabilah malah melamun. Dirinya tidak menjawab segala pertanyaan Cici Fey tersebut. Kedua mata Nabilah jadi berkaca-kaca.
"Sabar yah, Nabilah. Ambil aja hikmahnya. Dan, kalo inget apa aja yang udah kamu alami, mungkin perasaannya Matias baru tersampaikan ke kamu sekarang-sekarang ini. Kalo dia emang udah ditakdirkan untuk kamu, pasti balik lagi ke kamu. Kita nggak usah ngebet juga. Kalo nggak, ya udahlah, fokus ke hal-hal lain dulu aja."
"Makasih, Ci." ucap Nabilah tersenyum.
__ADS_1