
"Nabilah," Matias berusaha membuka obrolan. Sebetulnya dia tak seharusnya menghubungi cinta masa lalunya tersebut. Namun, manusia memang seperti itu. Makin dilakukan, sesuatu yang dia seharusnya bisa hindari.
"Ngehubungin gue juga, lu ternyata. Kangen sama gue kan?"
"Apa sih lu? Gue cuma ngejajal nomor aja. Kali aja lu ngisengin gue kayak dulu. Dulu kan lu sering banget isengin gue."
"Masih inget aja lu. Awas jatuh cinta. Ntar Kezia-nya marah, loh. Haha."
"Dia lagi di Singapore ini."
"Kalau dia ada di Indonesia, masih berani ngehubungin gue?"
"Ya, kenapa emangnya?"
"Gak takut dia cemburu? Gue gak mau disalah-salahin soalnya."
"Gue gak pernah ada masalah sama dia, kok. Dia selalu percaya sama gue. Yang jadi masalahnya itu--"
"--keluarga dia kan?"
"Kok bisa tau, Nab?"
"Yah, kalau masalahnya bukan di orangnya langsung, yah keluarganya. Simple banget. Anak SMP aja juga tau, Matias. Btw, ada masalah apa sampe lu bikin onar sama keluarganya?"
"Sialan lu. Gue gak sampe segitunya kali, Nab."
__ADS_1
"Yah, kali aja. Dalemnya hati, siapa yang tau sih, haha."
Hening. Di luar rumah Matias, kucing-kucing mengeong-ngeong. Ada seekor anjing seperti tengah mengaum. Bukannya takut, Matias malah makin galau.
"Ehem,....." Suara dehaman Nabilah memecah kesunyian. "Cerita ke gue ada masalah apa. Mungkin gue bisa bantu."
Matias menghela napas sejenak. Dia memutar bola mata. Tulang leher dan kedua tangannya dipatahkan. Selanjutnya, Matias mulai bercerita tentang bagaimana hubungan dia dan Kezia bermula hingga kecelakaan itu terjadi. Karena kecelakaan ayah Kezia itulah, Matias masih saja terus mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari Thalia. Ada setengah jam mulut Matias jadi berbusa.
"Yang gue tangkep, kayaknya cuma kakaknya yang namanya Thalia itu aja yang gak seneng sama lu. Buktinya berapa hari yang lalu, lu bisa pulang dengan selamat dari rumahnya."
"Yah, begitulah,"
"Lu masih kuat?"
"Selama Kezia masih kuat, yah gue masih kuat."
Matias hanya tertawa kecil.
"Gue ada ide menarik, mau dengar gak?"
"Apaan?"
"Kali aja bisa ngebantuin lu."
"Apaan? Buruan, Nab."
__ADS_1
Nabilah agak terbatuk-batuk. "Errr..... kita jadian aja gimana?"
JEGER! Matias kaget sekaget-kagetnya. Dia tak salah dengar ini? Dirinya memang terbuai dengan masa lalu tadi siang di Rainbow Caffee. Masa secepat ini doanya didengar oleh Tuhan? Perasaan tertinggal semenjak SMP, akhirnya terjawab sekarang. Apakah ini yang dinamakan pucuk dicinta, ulam pun tiba?
"Haha..... lu kesambet yah? Kerasukan jin apa lu? Menjelang tengah malam gini, mendadak nembak gue. Haha....."
"Gue serius, Yas. Mau gak? Bukannya--"
Baik Matias dan Nabilah, kedua-duanya sama-sama diam tanpa suara. Kucing-kucing itu kembali berulah di luar sana.
"HUSSH!" teriak Matias ke arah kucing-kucing di luar sana.
"Kaget gue. ******** lu, Yas. Lu sendiri juga kenapa? Bikin ngagetin gue aja."
"Di luar, kucing-kucing pada berisik, Nab."
"Udah, biarin aja. Mungkin emang lagi musim kawin kali."
"Iya kali yah."
"Terus, jadi gimana? Yang tadi? Mau gak?"
"Ini maksudnya apa, Nab? Lu beneren nembak gue? Wah, lu nih yah,..... bener-bener dah. Nakal yah, haha."
"Yeee..... jangan sembarangan kalo ngomong. Gue nyaranin lu gitu ada alasan kuat. Jadi, gini,"
__ADS_1
Maksudnya Nabilah menyarankan ide edan tersebut karena Nabilah menduga mungkin Thalia mencurigai Matias tidak setia. Matias diduga telah menduakan Kezia, dan hanya bermain-main dengan perasaan Kezia saja. Makanya Nabilah meminta Matias untuk menjadikan dia pacar pura-pura sekadar untuk memprovokasi balik kakak nomor dua Thalia tersebut. Lalu, perlahan demi perlahan, Nabilah dan Matias akan membuka kedok dengan sendirinya--dan bilang ke Thalia tersebut, cinta Matias hanya untuk Kezia saja. Begitulah yang disarankan oleh Nabilah.
Sontak, suara televisi di ruang tengah rumah Matias mengalunkan lagu "Jadikan Aku yang Kedua" yang dipopulerkan oleh Astrid. Kemudian, aduh, ibunya Matias mengomel-ngomel seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya jika di jam sebelas malam mendapati televisi dibiarkan menyala tanpa ditonton dan suaranya begitu kencang.