
Matias tersenyum saat melihat sosok perempuan yang tidur di sampingnya. Mimpikah dirinya? Senang sekali hati Matias, memandangi wajah pujaan hatinya tersebut. Ia sekonyong-konyong membelai-belai rambut panjang tersebut. Belaian itu turun ke pipi perempuan yang sekian lama ia pacari.
Entah apa yang terjadi, Matias tak terlalu ingat, namun ia senang sekali jika itulah yang terjadi. Andaikata Kezia hamil, Matias siap bertanggungjawab. Memang itulah yang diimpi-impikan Matias selama ini. Dengan perut Kezia yang membesar, hati Thalia bisa melunak.
Matias memberanikan diri untuk mencium pipi Kezia. Semalam saja ia dan Kezia sudah melakukan adegan panas, masa dirinya harus takut untuk mencium pipi saja? Ingat, Kezia itu pacarnya. Kezia bukan orang asing. P-A-C-A-R. Kekasih. Teman hidup. Calon istrinya (mungkin).
Matias tertawa terkekeh-kekeh sendirian. Ia tak ingat Kezia punya pipi yang setembam ini. Namun, tak apa, Matias bangga dirinya sang pemilik hati seorang bidadari tercantik di dunia. Ia cubit pelan-pelan sebelah pipi Kezia. Desisnya, "Kamu tuh diet kali. Tapi, gembul begini, aku tetap cinta sama kamu."
Jari-jarinya perlahan turun ke area tertentu dari Kezia. Bibir Kezia. Matias menyentuh pelan bibir Kezia. Ia raba perlahan demi perlahan bibir Kezia. Apa jadinya jika ia mencium sekali lagi? Tempo lalu ia mencium Kezia serba kilat. Matias kurang merasakan sensasinya. Sekarang, inilah saatnya.
__ADS_1
Eh, tunggu, semalam apa yang sudah terjadi? Seingat Matias, bukankah dirinya itu diusir Kezia dari rumah Kezia? Matias sengaja mendatangi rumah Kezia sepagi mungkin. Yang mana ia memulai paginya dengan bergalau-ria di depan keyboard kesayangannya. Mama sempat mengejeknya pula sebagai laki-laki yang tak jantan dan terlalu menye-menye. Kalau sudah seperti itu kejadiannya, sekarang bagaimana caranya ia dan Kezia berada satu ranjang?
Matias memutar bola matanya. Kepalanya terasa sakit sekali. Ia tak bisa ingat kenapa dirinya...
...astaga, ini nyata? Matias juga baru menyadari dirinya tak mengenakan apa-apa selain selimut. Ini bagaimana ceritanya? Rumah siapa pula ini?
Eh, sebentar, Matias kan belum pernah masuk ke dalam kamar Kezia. Kezia selalu melarang Matias masuk ke dalam kamarnya. Matias boleh memasuki ruang-ruang di dalam rumah Kezia asal bukan kamar Kezia. Karena itulah, Matias semakin mengagumi seorang Kezia Celine Kaunang. Menurut Matias, itu tergolong langka, ada perempuan seperti Kezia yang bisa menjaga dirinya sendiri.
Disentuh pelan-pelan bibir perempuan yang terduga Kezia. Bibir Kezia itu seperti apa? Selama ini, di mata Matias, semua bibir perempuan itu sama. Jari telunjuknya mulai menelusuri tiap inci dari bibir perempuan misterius yang tidur di sebelahnya. Lembutnya bibir ini. Apa yang terjadi jika Matias mengecup bibir ini?
__ADS_1
Matias mulai mendekatkan wajahnya ke wajah si perempuan misterius. Bibir Matias dan bibir si perempuan misterius hanya berjarak sejengkal-dua jengkal saja. Jantung Matias berdebar-debar. Perasaanlah yang menang. Kedua bibir saling bersentuhan. Manisnya. Kenapa tidak sejak dulu saja Matias mencium bibir Kezia?
"Uhuk, uhuk,..." Matias terbatuk-batuk. Bau apakah ini? Alkohol? Seingat Matias, Kezia bukan seorang peminum.
"Mmm..." Perempuan misterius itu terbangun. Ia menegakan punggungnya. Perempuan itu memberikan senyuman manis kepada Matias. "Matias udah beneran berubah, yah? Jadi nackaaal sekarang. Udah semalem,... ah, gak terlupakan deh. Eh, paginya udah kasih ciuman aja."
Shanelle? Matias terperanjat. Kenapa bisa Matias meniduri Shanelle? Apa yang terjadi semalam?
*****
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mengikuti RAINY COUPLE hingga sejauh ini! Jangan lupa like, vote, dan share nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.