Rainy Couple

Rainy Couple
Matias dalam Bahaya


__ADS_3

Di rumah Kezia,


Kezia duduk di bangku teras dengan gelisah. Sedikit-sedikit dirinya melirik ponsel. Belum ada satu pesan pun yang dibalas Matias. Jam sudah menunjukan pukul tujuh lima belas. Perempuan itu jadi merengut. Tegang sekali Kezia.


Kezia memutuskan untuk menelepon Matias saja. Ditekannya tuts-tuts ponsel, sehingga tersambung ke nomor Matias. Lagi-lagi nadanya seperti itu.


"...nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi..."


Hu-uh, Matias ke mana sih, gerutu Kezia dalam hati. Ini acaranya mau mulai. Masakannya udah siap. Yang laki-lakinya ke mana nih?


Di dalam pikiran Kezia, muncul satu nama. Itu: Nabilah Angela Siregar. Pasti Matias tengah bersama perempuan tersebut. Pantas saja kemarin malam laki-laki itu gugup begitu. Dan, sekarang ponselnya dimatikan, biar lebih asyik bareng CLBK-nya.


"Celine,"


Kezia menengok. Ternyata Martin. Di rumah ini, yang memanggilnya seperti itu hanyalah Martin. Tambah cemberut, Kezia jadinya.

__ADS_1


"Nda datang pujaan hati Celine?" sindir Martin yang dengan maksud bercanda.


"Nggak tahu." jawab Kezia ketus.


Martin terkekeh-kekeh. "Mungkin pacar ngana kei bahugel (bahubungan gelap, red). Depe perempuan lain macam FTV yang kita tonton tempo lalu."


"Apa sih? Nda lucu, ngana pe becandaan!" jawab Kezia ketus.


"Bercanda. Kita cuma bercanda. Jang emosi begitu." ujar Martin yang langsung duduk di samping Kezia. Kezia jadi semakin bete saja.


"Ngapain sih? Pergi ngana!" semprot Kezia dengan mata melotot.


"Hufftt!" rengut Kezia.


Untuk menghindari yang tidak-tidak, Kezia bangkit berdiri dan berjalan menuju pagar. Ia berdiri dan menyandarkan diri ke pagar. Ia menatap ke arah langit malam. Tumben ada satu-dua bintang di langit yang sangat gelap. Kezia berharap ini merupakan pertanda yang bagus untuk hubungannya dengan Matias.

__ADS_1


💜💜💜💜💜


"*****! Hape pake acara mati lagi!" gerutu Matias yang langsung memacu motornya secepat mungkin.


Ternyata cukup lama Matias menemani Nabilah di Imigrasi. Mau meninggalkan Nabilah, Matias tak sampai hati. Bagi seorang Matias, menolong orang jangan setengah-setengah. Kalau Matias main pergi begitu saja, dia pikir itu tak sopan. Apalagi Nabilah itu sahabatnya sejak SMP. Walau sempat ada masalah, Nabilah tetap sahabat terbaiknya. Karena alasan itulah, Matias rela menemani Nabilah hingga azan Ashar terdengar.


Apesnya lagi, Matias seperti tanpa persiapan. Matias tidak membawa charger. Yang membawa charger itu Nabilah, dan itu juga digunakan Nabilah terus. Hak Nabilah juga mau meminjamkan atau tidak. Makanya, begitu kelar urusan di Imigrasi, Matias harus ke rumahnya dulu. Baterai ponselnya tinggal tiga puluh persen. Sesampainya di rumah, ia langsung mengisi baterainya, yang baru keisi setengah itu saat mendekati Maghrib. Saking cintanya dengan Kezia, baterai masih lima puluh persen, Matias langsung berangkat. Kali ini dia membawa charger. Nanti, di rumah Kezia, Matias mau mengisi ponselnya lagi. Semoga Kezia dan keluarganya mau memaafkan keterlambatannya, khususnya yang bernama Thalia.


"Sabar yah Kezia," kata Matias di balik helmnya. "Aku tetap nepatin janji ke kamu. Bersabarlah sedikit. Tadi baterai aku habis. Aku kira keburu. Aku gak nyangka aja, di sana lama banget. Mau ditinggal, aku gak enak."


💜💜💜💜💜


"Zia," ujar Thalia. "Kok Matias belum dateng? Udah jam setengah delapan, nih. Kamu udah ngabarin dia, kan?"


"Udah, Kak. Mungkin macet kali." balas Kezia tegang.

__ADS_1


"Jam-jam segini pasti macet. Tapi, kalo udah dibilangin, harusnya dia bisa usahain supaya nggak kena macet. Atau..." Thalia langsung berdeham.


"Taso beritahu tadi, Kakak. Mungkin ada janji deng perempuan lain. Tapi, Celine tre tola parcaya."


__ADS_2