Rainy Couple

Rainy Couple
[SEASON 2, EPS 8] Matias Bimbang Lagi


__ADS_3

Matias berhenti sejenak. Bukannya letih, walau fisik ini memang sudah lesu, Matias terpaksa menghentikan kegiatan ngomik-nya. Padahal dua jam lagi Matias harus menyerahkan draft-nya kepada editornya, Gilang. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Matias saat ini.


Ini berkaitan dengan komik yang tengah digarap oleh Matias. Di episode kali ini, alur ceritanya membuat Matias tak kuasa menahan air mata. Sesekali ada sesuatu hal yang menyebabkan Matias terkenang dengan beberapa kisah di masa lalunya. Apalagi untuk serial yang ini, ada alasan khusus mengapa Matias sering memasukkan unsur pengalaman pribadinya. Tak sekadar mereka-reka setiap alur ceritanya, yang termasuk penggambaran setiap tokohnya.


Matias menghela napas. Terkadang Matias merasa bersalah. Salahkah yang dilakukannya? Jika nanti ketahuan, siapkah Matias dengan konsekuensinya? Matias mengkhawatirkan drama yang akan ia jumpai. Terutama drama yang akan ia hadapi terkait puisi yang satu ini. Yang mana diceritakan bahwa tokoh utamanya, Firman segitu gencarnya mendekati gebetannya yang seorang murid pindahan bernama Sonia. Untuk episode yang satu ini, Matias menggambarkan usaha Firman yang secara diam-diam memberikan sebuah surat kaleng untuk Sonia yang duduk di depan. Jarak Firman ke Sonia cukup jauh. Walau demikian, secara ajaib, walau ada banyak hambatan, surat kaleng itu tetap tersampaikan ke Sonia. Beginilah isi surat kaleng tersebut--yang hanya sebuah puisi yang berbunyi sebagai berikut.


...Dalam tiap napasku, ada nama kamu...


...Dalam tiap desahanku, nama kamu masih terselip...


...Dalam tiap erangan dan rintihanku, berkali-kali 'ku menyebut nama kamu...


...Pelan tapi pasti,...


...nama kamu selalu menyertai langkah aku...


...Jika aku mundur ke belakang,...


...aku sering menertawakannya...


...Konyol!...


...Andai itu tak pernah terjadi...


...Malu!...

__ADS_1


...Mengapa aku bisa ketahuan seperti itu?...


...Bahagia!...


...Aku tersenyum mendapati senyuman manis kamu itu...


...Kamu sukses mengubah duka menjadi suka...


...Sedihku, kau sulap menjadi tawa...


...Sejak 'ku mengenalmu,...


...jauh-jauh sudah rasa hampa itu...


...Kamu laksana sebuah parasol...


...Ini bukan gombalan...


...Sebab, aku tak lihai berkata-kata...


...Aku juga bukan seorang pembohong...


...Buat apa pula aku membohongi perasaan sendiri...


...Karena, itulah kamu buat aku...

__ADS_1


...Kamu sudah menguasai seluruh hidupku...


...Kamu ubah hidupku...


...Kamu temani hidupku...


...Sekali lagi, aku berkata,...


...kamu ibarat matahari pagi...


...kamu sinari hatiku yang gersang ini...


...kamu juga ibarat tetes hujan di sore hari...


...terimakasih sudah memberikanku kelegaan...


...teruntuk Angelica Sonia...


...dari pengagum rahasiamu,...


...coba tebak siapa, hayo?!...


...hehe......


Matias bimbang. Seharusnyakah puisi ini tertuang ke dalam komik bergenre romance ini? Masalah lainnya adalah puisi ini sempat dibaca oleh Nabilah beberapa tahun yang lalu. Apa yang akan terjadi jika episode komik ini lolos kurasi? Bukankah tidak ada yang tidak yang tidak mungkin di dunia ini? Bukan tidak mungkin kelak Nabilah menjadi salah satu pembaca komik Matias tersebut. Juga, bukan tidak mungkin Nabilah menyadari bahwa puisi dalam komik ini merupakan puisi yang sama dengan puisi yang Matias pernah berikan kepada Nabilah. Bisa kacau, kan.

__ADS_1


Kezia pasti menjadi pembacanya. Yah, kalian semua tahu Kezia pacar Matias. Matias dan Kezia masih berpacaran. Hingga detik ini, sejak awal Matias menekuni karir sebagai seorang komikus, Kezia selalu rutin membaca setiap karya Matias. Itu termasuk komik berlatarbelakang kehidupan sekolah ini. Mungkin awalnya Kezia akan menyadari puisi ini diperuntukkan untuk Kezia. Lantas, ke depannya bagaimana? Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan ketahuan juga. Sampai sekarang pun, hubungan Matias dan Kezia belum selancar jalan tol. Kakak kandung Kezia bernama Thalia masih antipati kepada Matias. Di pikiran Matias, hal seperti ini tidak boleh disepelekan. Mungkin itu bisa menjadi benih untuk malapetaka yang nanti akan dialami Matias.


Katanya, yang seperti ini disebut overthinking. Akan tetapi, bagi Matias, ini hanya upaya mengantisipasi. Ini salah satu bukti Matias memikirkan betul-betul masa depannya.


__ADS_2