
Aku - Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang ******
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak peduli
__ADS_1
Aku mau hidup seribu tahun lagi!
Waktunya jam pelajaran Bahasa Indonesia. Biar gak membosankan, Ibu Riana mengajak murid-murid kelas 4B ke ruang perpustakaan. Seisi kelas langsung bersorak-sorai.
Mereka senang sekali diajak ke perpustakaan, walau masih dalam lingkungan sekolah Santo Fransiskus. Sebab, perpustakaan tersebut ber-AC. Tidak seperti ruang kelas mereka yang hanya ada dua kipas angin di kiri dan kanan. Selain itu, terkadang memang membosankan membaca buku-buku pelajaran.
Kunjungan itu dimanfaatkan oleh satu-dua orang murid untuk membaca buku-buku lain selain buku pelajaran. Walau tak banyak, perpustakaan itu juga menyediakan komik. Novel juga tersedia (yang paling laris itu novel "Lupus" karangan Hilman dan Boim).
"Hei, ingat, jangan asyik baca yang lain. Ibu ajak ke perpus dengan tujuan menyuruh kalian cari puisi, lalu minggu depan, bacakan puisi temuan kalian itu di depan kelas. Prioritaskan bacaan-bacaan yang ada puisinya, yah. Jangan asal pilih buku." Ibu Riana mengingatkan sekali lagi.
Murid-murid kelas 4B sontak berseru lumayan kencang. Saking kencangnya, pustakawannya, Pak Moko memegang telinganya dan menatap galak ke arah mereka.
Murid-murid kelas 4B langsung berhamburan. Ruangan perpustakaan itu jadi dipenuhi oleh penghuni ruang kelas 4B SD Santo Fransiskus. Di setiap rak selalu saja ada murid kelas 4B. Bahkan itu termasuk di rak Sains. Memang apakah ada puisi di buku-buku Sains? Ada-ada saja kelakuan murid kelas 4B. Mungkin saja murid itu memang lebih tertarik dengan sesuatu yang bersifat Sains, padahal dia ke perpustakaan dalam rangka pelajaran Bahasa Indonesia.
"Donal Bebek
Engkau sungguh lucu
Engkau sungguh jenaka
Engkau sungguh dermawan
__ADS_1
Biar bagaimanapun Paman Gober memarahimu
Biar bagaimanapun Kwik, Kwek, Kwak menjahilimu
Biar bagaimanapun Untung Angsa meledekimu
Biar bagaimanapun Didi Bebek membuatku kesal
Nyatanya engkau masih menyayangi mereka
Donal Bebek
Teruslah seperti itu
Engkaulah idola aku dan anak-anak lainnya
Aku sayang sekali dengan Donal Bebek"
Satu-dua temannya memperhatikan Shanelle yang malah mendeklarasikan puisi di dalam ruang perpustakaan. Pak Moko memperhatikan dari jarak yang agak jauh. Kebetulan rak majalah berada tak jauh dari meja Pak Moko.
Bu Riana langsung menghampirinya. Dia bertepuk tangan dan memberikan pujian. "Contoh yang bagus, Shanelle. Nilai 100 untuk kamu."
Shanelle langsung sumringah dan cengar-cengir.
"Ada lagi yang mau membacakan puisi temuannya di sini? Nilai 100 langsung Ibu kasih. Ibu gak bohong." ujar Ibu Riana retoris.
__ADS_1
Secepat kilat Matias bergegas menuju rak novel dan mengambil buku yang seringkali ia baca. Buku itu ditulis oleh penulis legendaris, Chairil Anwar. Matias yang rada pemalu dengan mantap membacakan puisi "Aku". Entah apa yang merasuki Matias, sehingga bisa senekat itu. Herannya Matias tidak tergagap-gagap selama membacakan puisi "Aku". Yah, meskipun di akhir pembacaan, napas Matias jadi terengah-engah. Dahi Matias sangat berkeringat.
Usut punya usut, ternyata Julia kebetulan masuk ke dalam ruangan perpustakaan. Julia dan seorang temannya disuruh guru Bahasa Inggris-nya untuk meminjam beberapa buah kamus Inggris-Indonesia karangan Hassan Shadily dan John Echols.