Rainy Couple

Rainy Couple
Masa Lalu Matias - 5


__ADS_3

Aku - Chairil Anwar


Kalau sampai waktuku


'Ku mau tak seorang 'kan merayu


Tidak juga kau


Tak perlu sedu sedan itu


Aku ini binatang ******


Dari kumpulannya terbuang


Biar peluru menembus kulitku


Aku tetap meradang menerjang


Luka dan bisa kubawa berlari


Berlari


Hingga hilang pedih perih


Dan aku akan lebih tidak peduli

__ADS_1


Aku mau hidup seribu tahun lagi!



Waktunya jam pelajaran Bahasa Indonesia. Biar gak membosankan, Ibu Riana mengajak murid-murid kelas 4B ke ruang perpustakaan. Seisi kelas langsung bersorak-sorai.


Mereka senang sekali diajak ke perpustakaan, walau masih dalam lingkungan sekolah Santo Fransiskus. Sebab, perpustakaan tersebut ber-AC. Tidak seperti ruang kelas mereka yang hanya ada dua kipas angin di kiri dan kanan. Selain itu, terkadang memang membosankan membaca buku-buku pelajaran.


Kunjungan itu dimanfaatkan oleh satu-dua orang murid untuk membaca buku-buku lain selain buku pelajaran. Walau tak banyak, perpustakaan itu juga menyediakan komik. Novel juga tersedia (yang paling laris itu novel "Lupus" karangan Hilman dan Boim).


"Hei, ingat, jangan asyik baca yang lain. Ibu ajak ke perpus dengan tujuan menyuruh kalian cari puisi, lalu minggu depan, bacakan puisi temuan kalian itu di depan kelas. Prioritaskan bacaan-bacaan yang ada puisinya, yah. Jangan asal pilih buku." Ibu Riana mengingatkan sekali lagi.


Murid-murid kelas 4B sontak berseru lumayan kencang. Saking kencangnya, pustakawannya, Pak Moko memegang telinganya dan menatap galak ke arah mereka.


Murid-murid kelas 4B langsung berhamburan. Ruangan perpustakaan itu jadi dipenuhi oleh penghuni ruang kelas 4B SD Santo Fransiskus. Di setiap rak selalu saja ada murid kelas 4B. Bahkan itu termasuk di rak Sains. Memang apakah ada puisi di buku-buku Sains? Ada-ada saja kelakuan murid kelas 4B. Mungkin saja murid itu memang lebih tertarik dengan sesuatu yang bersifat Sains, padahal dia ke perpustakaan dalam rangka pelajaran Bahasa Indonesia.



"Donal Bebek


Engkau sungguh lucu


Engkau sungguh jenaka


Engkau sungguh dermawan

__ADS_1


Biar bagaimanapun Paman Gober memarahimu


Biar bagaimanapun Kwik, Kwek, Kwak menjahilimu


Biar bagaimanapun Untung Angsa meledekimu


Biar bagaimanapun Didi Bebek membuatku kesal


Nyatanya engkau masih menyayangi mereka


Donal Bebek


Teruslah seperti itu


Engkaulah idola aku dan anak-anak lainnya


Aku sayang sekali dengan Donal Bebek"


Satu-dua temannya memperhatikan Shanelle yang malah mendeklarasikan puisi di dalam ruang perpustakaan. Pak Moko memperhatikan dari jarak yang agak jauh. Kebetulan rak majalah berada tak jauh dari meja Pak Moko.


Bu Riana langsung menghampirinya. Dia bertepuk tangan dan memberikan pujian. "Contoh yang bagus, Shanelle. Nilai 100 untuk kamu."


Shanelle langsung sumringah dan cengar-cengir.


"Ada lagi yang mau membacakan puisi temuannya di sini? Nilai 100 langsung Ibu kasih. Ibu gak bohong." ujar Ibu Riana retoris.

__ADS_1


Secepat kilat Matias bergegas menuju rak novel dan mengambil buku yang seringkali ia baca. Buku itu ditulis oleh penulis legendaris, Chairil Anwar. Matias yang rada pemalu dengan mantap membacakan puisi "Aku". Entah apa yang merasuki Matias, sehingga bisa senekat itu. Herannya Matias tidak tergagap-gagap selama membacakan puisi "Aku". Yah, meskipun di akhir pembacaan, napas Matias jadi terengah-engah. Dahi Matias sangat berkeringat.


Usut punya usut, ternyata Julia kebetulan masuk ke dalam ruangan perpustakaan. Julia dan seorang temannya disuruh guru Bahasa Inggris-nya untuk meminjam beberapa buah kamus Inggris-Indonesia karangan Hassan Shadily dan John Echols.


__ADS_2