Rainy Couple

Rainy Couple
Masa Lalu Nabilah - 2


__ADS_3

Tak hanya di SD saja, ternyata Nabilah kembali menuai perhatian saat dirinya menjadi siswi SMP. Nabilah melanjutkan sekolah yang masih satu atap dengan SD-nya dahulu. Nabilah melanjutkan sekolah ke SMP Mandala. Orangtua Nabilah belum siap apabila Nabilah bersekolah di sekolah yang letaknya lebih jauh dari rumah.


"Buahaha..." Meledak tawa Nabit saat melihat dandanan Nabilah yang akan mengikuti masa orientasi sekolah--ospeknya anak sekolah.


Jelas saja Nabit tertawa. Memang lucu sekali dandanan Nabilah. Rambut panjang Nabilah harus dikuncir dua, dan tiap kuncir harus dipasangi pita yang berbeda warna serta harus mencolok. Lalu, bibir Nabilah harus dipoles lipstik dengan warna merah menyala. Nabilah dan anak-anak perempuan lainnya juga diwajibkan untuk mengenakan kalung tali rafia warna merah. Sepatu dan kaus kaki juga diwajibkan serba merah.


"Yeee... jangan ketawa, dong, Bit!" semprot Nabilah yang langsung duduk di salah satu kursi. Nabilah bersiap untuk mencedok nasi gorengnya. Nasi goreng buatan Mamak memang luar biasa enak. Nabilah sangat menyukai dan selalu minta porsi lebih.


"Yah, habis lucu, Nab. Itu, senior-senior lu yang jadi mentor di MOS, beneren bakat jadi fashion designer kali, yah. Adjie Notonegoro kalah." Nabit masih memanas-manasi Nabilah.


Nabilah langsung cemberut. Memang susah jika memiliki saudara kandung yang menyebalkan seperti Nabit Andreas Siregar. Hobi Nabit selalu saja menjahili dan meledeki Nabilah. Hampir tiap detik rumah selalu dipenuhi perseteruan abang dan adik yang perawakannya sangat bagaikan langit dan bumi (Nabit yang legam, Nabilah yang putih).


"Nabit, cemana pula kau ini. Hobi kali kau meledeki adik kau. Kau kan mau ospek, yah, Nabilah. Cuma tiga hari, kau tahankan diri jadi badut, yah." kata Mamak yang tiba dari dapur dan membawa semangkok penuh potongan ayam goreng.


Mamak nyebelin, malah ngeledekin aku, Nabilah merutuk dalam hati.


Nabit hampir saja menahan tawa. Dia hanya bisa cengar-cengir. "Mak, Bapak ke mana? Dari pagi aku bangun, Nabit nggak melihat Bapak, Mak. Semalam dia pulang yang Nabit lihat."


"Bapak pergi pagi-pagi buta. Jam empat pagi sudah keluar rumah." jawab Mamak yang sudah duduk di atas bangku.


"Bapak itu ayah yang sibuk banget, yah, Mak?!"


"Demi kalian itu. Makanya, kalian belajar yang betul, saran Mamak." kata Mamak tersenyum. "Nabit, kau yang pimpin doa."

__ADS_1


💖💖💖💖💖


"Untungnya kita masih satu sekolah lagi, yah, Nab," ujar Naomi, sahabat Nabilah sejak masih di SD Mandala.


"Iya, Nao," Hanya itu balas Nabilah yang sembari mengulum senyuman manis.


"Tapi, banyak juga anak SD Mandala yang ngelanjutin sekolah ke SMP Mandala. Gue kira, dikit. Secara, yang gue denger, masuk SMP Mandala itu udah susah, apalagi buat lulusan SD Mandala itu sendiri."


"Iya, kali. Gue nggak meratiin, Nao," Nabilah terkekeh-kekeh.


"Yah, lu nggak bakal meratiin. Secara lu kan lu lebih sering ijin buat syuting atau casting daripada belajar di kelas, yah."


Nabilah menyikut Naomi, nyengir dan tersipu malu. "Apaan sih lu, Nao? Gue sebetulnya juga meratiin situasi kelas walau lebih sering syuting."


"Dih! Amit-amit jabang bayi, gue sama si Ferdy! Gak ada cowok yang bagusan dikit napa?"


"Lu bukannya naksir Ferdy, yang gue denger?"


"Bukan naksir, sih. Gue cuman kagum sama kepintarannya aja."


"Sama ajalah."


"Yah, bedalah. Kagum yah kagum. Naksir yah naksir. Secara susunan huruf, keduanya udah beda jauh."

__ADS_1


"Apa kata lu, deh, Nab."


Percuma mendebat Nabilah. Karena memang begitulah sifat seorang Nabilah Angela Siregar. Keras hati, tegar tengkuk. Hampir tak pernah Nabilah mengakui kesalahan jika ketahuan. Teman-teman SD-nya sudah tahu tabiat Nabilah yang seperti itu.



Sebetulnya Nabilah memang naksir Ferdy. Selain memiliki otak encer, Ferdy juga jago di bidang olahraga. Jago main kasti, jago pula main sepakbola. Saat mendribel, Nabilah sering terkesan dibuatnya. Namun, seperti cinta-cintanya yang terdahulu, Nabilah urung menyatakannya lebih dahulu. Memang sih wajah Ferdy kurang begitu sedap dipandang, namun itu bukan alasan Nabilah untuk terus meledekinya tiap bertemu di kelas. Bukan salah Ferdy yang memiliki rahang agak mencekung, sehingga teman laki-lakinya itu jadi seperti pengguna narkoba saja.


Naomi tertawa lagi. Nabilah terheran-heran. "Kenapa lu, Nao? Ketawa sendiri gitu?"


"Hebat lu, Nab. Belum apa-apa udah menjadi pusat perhatian. Dari tadi kita dilihatin mulu sama anak-anak sekelas."


Nabilah langsung mengedarkan pandang ke seluruh isi kelas. Benar saja dirinya dari tadi diperhatikan banyak calon murid SMP Mandala. Walau sudah terbiasa dengan ketenaran sejak balita, Nabilah tetap merasa risih juga.


Murid yang duduk di depan Nabilah sekonyong-konyong menengok ke belakang. Seorang laki-laki berkacamata dan berambut berantakan seperti tokoh Son Gohan di Dragon Ball.


"Kayak pernah lihat wajah lu. Kayak yang suka muncul di iklan susu itu." ujar anak laki-laki tersebut.


"Emang dia orangnya." Naomi terkekeh-kekeh. "Dia Nabilah Angela Siregar, yang juga pernah jadi presenter di turnamen tamiya. Juga yang pernah tampil di banyak FTV yang suka tayang tiap bulan puasa. Pernah nonton sinetron "Mahkota Hati" nggak? Dia tampil juga di sana."


"Ya ampun, pantes kayak pernah lihat di mana gitu wajahnya." ujar anak laki-laki itu yang benar-benar terkejut dengan temuannya di hari pertama menjadi murid putih-biru. "Kenalin, nama gue Matias Immanuel Sinaga. Panggil aja Matias."


Temannya pun sok ikut mengenalkan diri. "Darius Krystalino."

__ADS_1


Nabilah membalas jabat tangan kedua teman barunya. Baik Matias maupun Darius, keduanya mengaku murid pindahan. Keduanya tak memiliki latar belakang pernah menjadi bagian dari SD Mandala. Keduanya juga merupakan teman baru pertama Nabilah.


__ADS_2