Rainy Couple

Rainy Couple
Matias Cemburu


__ADS_3

Di kamar Matias,


Matias merebahkan diri sebentar. Orenji langsung melompat ke arahnya. Ia tersenyum ke Orenji. Kucing oranye itu langsung mengeong. Mungkin kucing itu tahu apa yang baru saja dialami Matias.


"Kok Mama bisa gak kasih tau soal Martin itu?" keluh Matias. "Iya-iya, Papa tahu, mungkin dia lupa kali. Atau, belum sempat aja."


Matias memeluk erat Orenji. Dia sedikit meremas hidung Orenji. Orenji balas membelai tangan Matias.


"Ya udahlah," Matias menegakkan punggungnya ke atas sandaran tempat tidur. "Aku udah janji sama diriku sendiri, mau apapun yang terjadi, sebisa mungkin tetap percaya sama Kezia. Pasti ada alasannya. Dan, Kezia tadi udah bilang juga, Martin itu saudara jauhnya."


Martin bangkit berdiri. Dia mengambil tab yang ada di rak buku. Kembali dirinya duduk di atas tempat tidur. Aplikasi Webtoon itu dibuka Matias lagi.

__ADS_1


"Ngomik dulu aja bentaran, ah."


Sebelum melanjutkan serial komik superhero tersebut, Matias membuka dulu komik tersebut. Perhatiannya tertuju pada komentar-komentar yang menyertainya. Tak banyak, namun juga tak sedikit pula. Rata-rata pengomentarnya suka dengan alur cerita. Mungkin inilah kebahagiaan terbesar seorang seniman, yaitu jika mendapatkan komentar dari orang lain, apalagi kalau sangat menyukai. Tak hanya suka, pembacanya juga berkata dirinya menikmati dan memahami alur cerita yang ditawarkan.


Matias merasa sangat puas. Padahal, awalnya dia membuat Zack Time itu juga bermodalkan iseng saja. Dia sangat suka membaca komik, anak DKV pula, dan... yah kenapa tidak ikut serta berkarya di Webtoon. Itulah awal dari keterlibatan Matias sebagai Mat Cungkring di Webtoon.


Lalu, Matias mempersiapkan apa saja yang diperlukan. Ia buka aplikasi yang ia gunakan untuk membuat komik Zack Time tersebut. Guratan demi guratan ia hasilkan. Ada kalanya dia mencoret dan membuat ulang.


"Aduh, kenapa malah keceplosan curhat sih? Kan pembaca jadi tahu soal masalah gue dan Kezia." Matias tertawa sendiri dengan kecerobohannya.


Martin jadi cengengesan mendengarnya. Kezia hanya bilang, "Apaan sih, Kak?"

__ADS_1


"Kamu masih jomblo atau gimana, Tin? Oh yah, Om sehat?"


"Puji Tuhan kita sehat-sehat saja. Papa, Mama, dan adik-adik sehat. Dan, kita belum punya pacar. Ini pacarnya Celine kah?"


"Menurut Martin sendiri gimana? Cocok gak Kezia sama Matias?"


"Oh, pacaran. Kita tidak tahu, Celine. Maafkan kita pe salah kata. Tapi, sepertinya serasi Celine dengan laki-laki ini. Tidak dinikahkan sajakah, Kakak Thalia?"


Thalia memutar bola mata. Dia mendengus. "Aku sih kurang sreg sama dia...--"


...lalu, sederet kata-kata tak lainnya--yang membuat Matias down--mengalir deras dari mulut Thalia. Matias coba bersabar yang paling sabar. Karena kata-kata tak enak Thalia itu juga, pikiran negatif Matias berhamburan keluar. Matias jadi sangat posesif dan mencurigai Kezia berlebihan. Salah satunya, bagaimana jika Kezia dan Martin bukan sepupu jauh? Bagaimana jika Kezia dan Martin memiliki kisah indah sebelumnya? Siapa tahu mereka berdua sempat berpacaran--yang mungkin backstreet juga.

__ADS_1


Matias menggeleng-geleng kepala. "Apaan sih lo, Yas? Malah cemburu gak jelas gini?"


Diletakan tab itu sebentar. Matias melepaskan kacamatanya dan memijat pelupuk matanya.


__ADS_2