
👣👣👣👣👣
Si cowok nyengir. Nyaris terkekeh. Lalu kedua pipinya digelembungkan dan kedua mata disipitkan. "Kalau kayak gini gimana? Udah ingat belum?"Â
Ia ingat sekarang. Cowok ini Matias. Adik kelas sekaligus cinta pertama dan pacar pertamanya. Saat jadian, ia duduk di kelas sepuluh; sementara Matias masih kelas delapan. Matias sendiri murid pindahan. Waktu Kezia masih SMP, cowok itu belum tiba di SMP Tarakanita. Secara fisik, Matias lumayan tampan dan gagah' meskipun cowok itu masih lebih pendek daripadanya. Sama sekali tak terlihat kalau cowok itu masih SMP. Pantas saja banyak siswi perempuan di SMA yang jadi tergila-gila dengan Matias. Kezia sendiri tak tertarik. Alasannya: masa cewek SMA suka sama cowok SMP? Gengsi dong. Itulah Kezia--yang selalu peduli akan yang namanya gengsi.Â
Tapi akhirnya, Kezia malah terjatuh ke pelukan Matias yang humoris dan apa adanya. Ia terkesan dengan pembawaan Matias. Cowok itu sungguh dewasa. Tak hanya secara fisik, namun secara karakter. Matias tak seperti cowok remaja SMP kebanyakan yang menurutnya norak. Bahasa gaulnya itu alay. Di saat banyak murid SMP yang membawa motor ke sekolah, Matias dengan percaya dirinya mengayuh sepeda. Badan cowok itu juga jarang bawa parfum yang baunya bikin ia mau muntah. Rambutnya jarang sekali terlihat licin oleh minyak rambut. Jika banyak murid SMP yang sok berkelakuan dewasa atau minimal seperti pelajar SMA (Bahkan ada yang sudah berani menghisap rokok), Matias tetap berani dengan identitas otaku-nya. Ia tak takut dicibir masih bocah, karena masih gemar membaca Detektif Conan, Hi Miko, Crayon Shinchan, dan beberapa komik Jepang lainnya. Di mata Kezia, Matias sungguh cowok yang memiliki karakter.Â
Makanya sewaktu Matias menembaknya di Gading Media, toko buku mini di seberang Tarakanita, Kezia otomatis mengatakan: "Iya, gue mau," Ia tutup mata dengan usia Matias yang empat tahun lebih muda darinya. Setelah enam bulan berpacaran, cowok itu memang luar biasa dewasa. Walau hari-hari cowok yang dulunya berbadan sedikit gempal itu selalu kesepian (Ayah-Ibu Matias tinggal di Jepang, karena urusan pekerjaan), Matias selalu tegar dan tersenyum. Ia anak tunggal, tapi tak pernah merasa kesepian. Baginya, komik-komik dan game-game Playstation sudah cukup menemani hari-harinya yang hanya ditemani pembantu yang usianya sudah sepuh. "Masih enak dulu, saat opung gue masih hidup. Gue masih ada 'teman'." tutur Matias singkat, saat ia bertanya apakah cowok itu merasa kesepian di rumah yang cukup megah.Â
Sayang hubungan dirinya dengan Matias berlangsung singkat. Saat ia naik kelas tiga, Matias otomatis lulus SMP. Â Cowok itu memutuskan hijrah ke Jepang, yang menyusul kedua orangtuanya. Matias mulai jengah dengan segala hari-hari yang memilukan. Apalagi kedua orangtuanya juga setuju Matias bersekolah di Jepang. Sehingga pembantu yang sudah bekerja lumayan lama itu bisa dipensiunkan. Keluarga Matias bisa utuh lagi.Â
👣👣👣👣👣
"Serius lu, Yas?" Nabilah cukup terenyak. "Lu pindah dari SMP Mandala ke SMP Tarakanita gara-gara gue pindah sekolah ke Jepang."
"Ya, abis gimana, gak ada lu, gak rame, Nab," Matias terkekeh-kekeh. "Lagian juga waktu itu kedua orangtua gue gak pedulian gitu sama gue. Mereka main iyain aja keputusan gue buat pindah sekolah. Gue bilang aja, gue capek pergi sekolah jauh-jauh. Mau sekolah yang dekat rumah aja."
"Gokil lu ah!" balas Nabilah tertawa. "Be-te-we, sori ya, Yas, kalau gue udah kasih lu ketidakpastian. Waktu itu lu bingung kan hubungan kita apa."
"Udahlah, masa lalu yah masa lalu. Beberapa dari yang di belakang gue, gue udah beneren lupa, kok. Lagian, bagi gue, lu tetap teman main game terbaik gue. Gak ada lu, gak rame, Nab."
__ADS_1
Matias tertawa, Nabilah tertawa pula. Keduanya bersitatap. Dari mata ke mata, dari hari ke hati. Entah ini disebut apa, saat Matias mengisap Espresso-nya (Matias memesan minuman lagi), Nabilah turut meminum milkshake-nya. Matias jadi kikuk, tertawa lagi. Nabilah ikut tertawa pula. Lalu, beberapa pengunjung jadi memperhatikan. Mungkin di mata mereka, Matias dan Nabilah itu sepasang kekasih.
"Lu ngapain ngikutin gue? Salting gue, Nab!" seru Matias terkekeh.
"Lu juga ngapain mandang gue lama? Ingat sama Kezia. Gue nggak mau jadi orang ketiga." ujar Nabilah terbahak.
Lalu, hening. Keduanya saling bertatapan. Nabilah perlahan tertunduk. Matias menelan air liur. Baik Matias dan Nabilah, keduanya pucat pasi. Sontak Rainbow Caffee memasang lagu "Pura-Pura Lupa" dari Mahen.
"Coklat itu dari lu kan?" tanya Nabilah.
"Coklat yang mana?" tanya Matias mengernyitkan dahi. "Emang gue pernah ngasih coklat? Tapi kalau soal boneka Hello Kitty, gue emang gak bisa ngelupain. Boneka pemberian dari lu juga masih gue simpan."
Nabilah campur aduk. Di mata perempuan tersebut, Matias sungguh laki-laki labil nan plin-plan. Ingin rasanya menjotos Matias saja.
"Nab," Matias menghela napas.
"Apa?"
"Kenapa lu gak pernah bilang ke gue soal rencana keberangkatan lu ke Jepang?"
"Sori, Yas."
__ADS_1
Matias tertawa.
"Dan, lu beneren nyusul gue ke Jepang?"
"Sayangnya gue gak ketemu sama lu. Gue sadar Jepang itu gak sempit."
Keduanya tertawa lagi, lalu hening dan bersitatap.
"Dia pasti kasihan kalau dia tahu motif lu ke Jepang bukan buat nyusul orangtua lu, tapi buat nyari keberadaan gue di Jepang. Gue kan di Jepang utara. Sementara dari cerita lu, lu lebih sering di Tokyo dan sekitarnya. Dan, kalau gue main ke Tokyo, Tokyo juga luas. Rame juga, apalagi daerah Shinjuku, Shibuya, atau Akihabara."
Mendengar kata 'Akihabara', keduanya tertawa. Nabilah tahu tipe laki-laki macam apa Matias tersebut. Laki-laki yang hobi main game dan baca komik seperti Matias ini pasti sangat menyukai atmosfer distrik Akihabara.
"Gue tebak, lu pasti hobi main ke Akihabara, yah?" terka Nabilah sok tahu.
Cengiran yang Matias berikan ke Nabilah.
"Yas, apa lu gak lagi bohongin diri lu sendiri? Lu yakin beneren cinta sama Kezia? Kalau gue..." Nabilah memutar bola mata. Perempuan ini malu-malu mengakui. "...bagi gue, lu itu teman laki-laki yang berbeda dari yang pernah gue kenal."
Matias menelan air liur. "Maksud lu?"
"Gue masih jomblo, kok." Nabilah sok mengedipkan sebelah mata. Ah, nakal sekali Nabilah ini.
__ADS_1
Matias menelan ludah sekali lagi. Jantungnya berdebar-debar. Perasaan apakah ini? Matias belum pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Mendadak hatinya terbelah dua. Setengah hati untuk Kezia, setengah lagi untuk Nabilah. Matias jadi bingung sendiri manakah yang harus dia pilih. Dan, Matias kembali meragukannya lagi.
...benarkah Kezia yang Matias cari selama ini?