Rainy Couple

Rainy Couple
Selamat Tinggal, Matias - 3


__ADS_3

Di rumah Nabilah,


"Memang kau harus, Nabilah, ke Jepang?" tanya ibunya Nabilah seraya memotong bawang putih.


"Emang kenapa sih, Mak?" tanya balik Nabilah. Sementara Nabilah sibuk mengeluarkan bahan-bahan lainnya dari dalam kulkas. Menu untuk sarapan pagi kali ini: nasi goreng sosis.


"Nggak ada-lah nanti teman Mamak ngobrol sambil nonton sinetron. Mamak nggak ada yang bantuin masak."


"Kan, ada Nabit, Mak."


"Beda itu, Nabilah. Nabit itu laki-laki juga. Lebih enak jika sesama perempuan. Lebih menghayati ngobrolnya."


Nabilah tertawa sembari memotong beberapa sosis. Dia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku ibunya tersebut.


Ibunya itu beringsut ke arahnya. "Kemarin Nabit bilang ke Mamak, mungkin kau berencana ke Jepang itu cuma buat menghindari laki-laki itu. Benar itu, Nabilah?"


Aduh, Nabit kenapa sih? Nabilah jadi menggerutu. Untung saja tak ada jarinya yang teriris pisau. Kenapa harus bicara yang bukan-bukan pula?


"Bukan gitu, Mak. Ini murni keputusan Nabilah. Nabilah yang pengin ke sana. Ini udah jadi mimpi Nabilah. Nabilah pengin bisa ke sana sendiri, dan kerja di sana. Dan, puji Tuhan, Tuhan ngabulin doa Nabilah. Nabilah bisa kerja jadi translator di salah satu perusahaan yang ada di Tokyo."


"Benar itu?"

__ADS_1


Nabilah mengangguk. "Nabilah nggak bohong, Mak. Lagian ngapain Nabilah jauh-jauh ke Jepang cuman buat ngindarin cowok? Nggak guna banget buat Nabilah."


Ibunya menghela napas. Katanya sekonyong-konyong menerawang ke langit-langit dapur. "Mamak pasti kangen sama kau, Nabilah. Sering-sering berkabar, yah, Nabilah."


"Nanti Line aku nyalain terus. Mamak bebas nge-chat aku kapan aja. Termasuk kalo Mamak mau nanya soal gosip-gosip artis."


Mamak tertawa. "Bisa saja kau, Nabilah. Kau pun masih artis buat Mamak."


"Itu kan pas Nabilah masih kecil, Mak. Sekarang Nabilah udah bukan."


"Bisa saja kau. Sudah makin pintar kau menjawab." Ibunya terkekeh-kekeh. "Ya sudah, tuangkan dulu minyak gorengnya. Panaskan dulu, baru kau aduk bumbu-bumbunya."


Nabilah nyengir. "Siap, Mak!"


Begitulah isi hati Nabilah yang sebenarnya. Nabilah mendengungkan di dalam pikirannya sambil mengaduk-aduk segala rempah-rempah hingga wanginya tercium. Barulah nasi dimasukkannya ke dalam wajan.


💜💜💜💜💜


Di rumah Matias,


Sehabis menelepon Darius, Matias sontak beriniatif untuk menghubungi Kezia.

__ADS_1


"Ke,"


"Akhirnya kamu nelepon aku juga. Ke mana aja selama ini? Ditelantarin Nabilah yah?"


"Ke, aku minta maaf,"


Hening. Sembari menunggu suara Kezia di ujung sana, Matias mengelus-elus bulu Orenji.


"Ke, yang itu, soal yang itu, aku minta maaf. Beneren aku minta maaf."


"Gampang banget kamu minta maaf. Gak mikirin apa soal perasaan aku?"


"Ke, aku beneren minta maaf. Maafin aku yah."


Hening lagi. Matias jadi sedikit menggerutu.


"Ehem,..." Hening dulu, sebelum Kezia meneruskan omongannya. "Kak Thalia, nggak tahu kenapa, pengin kamu main ke rumah. Dia pengin ngajakin kamu makan malam di rumah."


"Maksud kamu?" tanya Matias mengernyitkan dahi.


"Mau nggak? Ato kamu lebih mentingin cewek yang namanya Nabilah itu, yang teman SMP kamu itu?"

__ADS_1


"Kamu apaan sih, Ke? Yah, aku mau-lah. Karena itu berarti pertanda yang bagus buat hubungan kita."


"Aku gak tahu, Yas. Lihat nanti aja, yah."


__ADS_2