
👣👣👣👣👣
"Ciee... cie..." Suhandi menangkap basah Matias yang tak sengaja menuliskan nama salah seorang gadis cantik di kelas 1-1.
Matias menelan air liur. Tergesa-gesa dia menghapus apa yang baru saja ia goreskan di buku tulisnya. Bukannya menyelesaikan soal Matematika yang diberikan oleh Pak Nelson, Matias malah membuat corat-coret tak jelas seperti ini. Mana dia menuliskannya dengan pulpen pula.
Kebetulannya lagi, Pak Nelson lewat. Guru berkumis itu langsung melotot ke arah Matias. Pak Nelson merebut buku tulis tersebut dari Matias.
"Diam-diam suka, Pak," Suhandi cekikikan.
Tanpa menggubris kata-kata Suhandi barusan, Pak Nelson berdecak-decak gemas. Guru Matematika yang terkenal dengan hukuman penggarisnya itu sudah bersiap akan menggebuk tangan Matias.
"Astaga, Matias," seru Pak Nelson dengan suara lumayan lantang. "Bapak capek-capek nulis soal, kamu malah enak-enakan bikin surat cinta? Nabilah--"
Nabilah menoleh ke arah Pak Nelson. Gadis itu belum tahu bahwa namanya yang tertulis di buku tugas Matias tersebut.
"--nih, Nabilah, Matias bikin surat cinta buat kamu!" Pak Nelson mengarahkan halaman bertuliskan pengakuan cinta Matias tersebut ke arah Nabilah. Tak hanya Nabilah yang melihat, namun beberapa murid lainnya. Nabilah langsung merah mukanya.
"Cieeee,... cie, Nabilah,... cieee,..." Murid-murid lainnya langsung menyoraki Nabilah. Satu murid menyarankan agar Nabilah menerima saja cinta Matias. Ada juga yang menyarankan agar ditahan dulu. Yang lainnya menyarankan supaya ditolak saja (masa memilih laki-laki culun macam Matias?).
"Gimana, Nabilah?" tanya Pak Nelson. "Kamu terima gak cinta Matias? Nanti Bapak langsung bawa kalian berdua ke KUA!"
Seketika itu juga seisi kelas meledak dalam tawa. Matias menundukan kepala sedalam mungkin--yang kalau bisa, dia ingin mondok saja di bawah meja. Nabilah pun sama. Gadis berperawakan Arab itu ikut menundukan kepala.
"Awww!!!" Telinga Matias dijewer Pak Nelson.
"Sana, kamu, berdiri di pojok sambil pegang kuping!" hardik Pak Nelson. "Di kelas itu konsennya ke pelajaran, bukan cinta-cintaan."
Matias pasrah. Dengan tersaruk-saruk Matias berjalan menuju pojok kelas yang sudah dihuni oleh dua gagang sapu dan satu tongkat pel. Di pojok kelas, Matias memegangi kedua telinganya dengan sebelah kaki terangkat. Selama masa hukumannya, juga di tengah Pak Nelson yang kembali menjelaskan materi, mata Matias malah tertuju ke arah Nabilah. Untung saja Pak Nelson tak tahu.
"Cantik banget Nabilah itu," Matias keceplosan dan seisi kelas tahu. Nabilah memerah lagi mukanya. Dan, Matias mendapatkan lemparan kapur tulisan. Matias meringis.
"Malah ngegombal kamu di sana!" damprat Pak Nelson. "Kencing belum lurus, udah cinta-cintaan!"
"Saya udah satu es-em-pe, Pak. Bukan anak es-de lagi. Boleh dong, Pak?"
__ADS_1
Matias bersiap menghindar, karena Pak Nelson bergegas menghampirinya. Pak Nelson langsung menarik ujung cambang Matias. Matias kesakitan untuk kali kedua.
👣👣👣👣👣
"...terus, abis kejadian itu, gue sama anak-anak ngira Matias bakal malu gitu. Gak bakal ngejer-ngejer Nabilah lagi. Eh, kenyataannya, Matias malah makin menjadi." tutur Tobias yang begitu asyiknya menceritakan pengalamannya dulu ke Kezia. Tobias sangat tanpa beban sekali menceritakannya ke Kezia. Tak jarang dia tertawa selama menceritakannya.
Kezia ikut tertawa juga. "Jadi, hubungan Matias sama Nabilah itu apa? Kalau dari cerita lu, kayaknya masih sebatas gebetan."
"Gue sama beberapa teman sih bilangnya mereka HTS-an. Kadang mereka kepergok lagi ngobrol berdua aja di kelas, pulang bareng, atau sekadar makan bareng di kantin." jawab Tobias nyengir, geleng-geleng kepala.
Tobias lalu melanjutkan ceritanya. "Matias juga mau gitu dibego-begoin Nabilah. Disuruh-suruh Nabilah buat ngerjain PR Matematika, mau aja dia. Paling parah pas ujian Olahraga, pas Matias jadi asisten Pak Jatmiko. Cuma Nabilah yang dipermudah Matias. Yang lain cuma squat jump dua puluh kali. Nabilah cuma sepuluh kali aja. Udah dikeroyok sama anak perempuan lainnya, Matias cuma cengengesan aja."
"Oh gitu yah." Kezia jadi terbahak mendengarkan cerita Tobias tersebut. Ya ampun, sampai sebegitunya Matias nge-bucin.
Lalu, hening. Kezia dan Tobias bersitatap. Tobias sekonyong-konyong menggaruk-garuk rambutnya. Pandangan Tobias langsung menuju ke patung Merlion yang tak jauh dari dirinya dan Kezia hang out.
"Kezia," kata Tobias tanpa senyum. Dia mulai merasakan ada yang aneh di dalam dirinya. Kencang sekali. Beberapa kali dia menelan ludah.
"Apa?" tanya Kezia, yang sedikit mengalihkan pandangan ke arah patung Merlion. Dalam pandangan Kezia, tampak seorang anak kulit hitam tengah meminta ibunya untuk berfoto dengan latar belakang patung Merlion.
"Udah dua tahun lebih gue sama dia." jawab Kezia yang balik menatap Tobias.
"Lagi ada masalah yah?" tanya Tobias dengan raut muka tegang. "Sori, Kezia, gue gak ada maksud.
Sontak mengalir kejadian tempo lalu di kepala Kezia. Itu adalah detak-detik kematian Daddy. Bagaimana Daddy dan Matias berangkat. Kecelakaan itu terjadi. Beritanya itu sampai ke rumah. Kezia dan lainnya menjenguk ke rumah sakit. Hari penguburan Daddy. Hingga, kejadian hari itu--saat Matias akhirnya memberanikan diri lagi untuk mengunjungi rumah Kezia. Eh, kedatangan Matias malah dipandang negatif oleh Thalia.
"Gak mau jawab, gak apa-apa. Gue juga ngerti." ucap Tobias yang kembali mengeluarkan senyumannya. Dia langsung melihat ke arah patung Merlion. "Bagus yah patungnya, Kezia. Gue dari dulu tiap lihat patung Merlion, suka pengin naik ke atasnya."
Kezia terbahak. "Bukannya nggak boleh yah?"
Tobias hanya tertawa.
Kezia dan Tobias bersitatap lagi. Tegang sekali. Entah mengapa keduanya bersamaan menatap patung Merlion itu lagi.
"Lu bawa kamera gak?" tanya Tobias. "Mau gue fotoin dengan latar belakang patung Merlion?"
__ADS_1
"Boleh. Eh, tapi usahain airnya itu seolah kayak kena kepala gue yah." Kezia terburu-buru mengeluarkan kamera SLR dari dalam tas tangannya.
Tobias mengangguk. Dia langsung meraih kamera itu dari tangan Kezia. Seperti seorang fotografer profesional, Tobias mengarahkan pose Kezia agar persis yang diinginkan perempuan tersebut. Kurang lebih ada lima-enam foto yang dihasilkan.
Kezia kembali mendekati Tobias lagi. Dia melihat hasil jepretan Tobias. "Bagus. Gue suka. Jago juga lu yah."
"Mungkin karena modelnya cantik." gombal Tobias terkekeh-kekeh.
"Apaan sih?" ujar Kezia tertawa dan tersipu malu. Perempuan itu sedikit menundukan kepala.
Kezia sibuk memperhatikan foto demi foto. Sementara Tobias sibuk memperhatikan Kezia.
"Bodohnya Matias menyia-nyiakan perempuan kayak lu," desah Tobias.
Ternyata Kezia mendengarnya. Perempuan itu langsung melirik Tobias. "Maksudnya?"
Tobias panik. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gak kok, gue cuma asal ngomong."
Kezia taruh dulu kameranya ke dalam tas tangannya. Setelah itu, perempuan tersebut memandang serius Tobias. "Gue emang lagi ada masalah sama Matias. Tapi sebetulnya masalahnya bukan di diri gue atau Matias. Itu--"
"--yah, gue ngerti," Tobias sepertinya mulai bisa membaca ke arah mana pembicaraan Kezia. Apalagi jika ingat saat kedatangan kali pertama Kezia dan kedua kakaknya di apartemennya tersebut. "Restu keluarga, kan? Kak Thalia kayaknya kurang suka sama Matias. Padahal Matias orangnya baik, kok."
Kezia tersenyum, mengangguk.
"Kezia,"
"Hmmm,..."
"Gak tahu kenapa, gue nyaman banget ngobrol sama lu. Padahal, sebelum-sebelumnya, gue udah males banget buat ngobrol ke cewek-cewek yang dikenalin ke gue sama Kak Cindy. Apalagi, pas tahu mereka cuma pura-pura jomblo. Tapi sama lu itu beda banget. Gue malah nyaman."
Kezia ikut tertawa juga.
"Lu cantik, Kezia," Tanpa bisa dicegah, kata-kata itu meluncur deras dari mulut Tobias.
__ADS_1
Jantung Kezia berdebar-debar. Aduh, ****** ini, pikir Kezia. Inilah yang ditakutkan Kezia. Sekarang bagaimana cara menghindarinya? Sepertinya Tobias jatuh hati padanya. Matias, maafkan Kezia, ini sepertinya di luar kemampuan perempuan tersebut.