Rainy Couple

Rainy Couple
Kejutan Tak Menyenangkan


__ADS_3

Di rumah Kezia,


Martin terbangun dari tidurnya yang lumayan nyenyak. Itu mimpi yang sangat indah juga. Sampai kapan pun, Martin sulit melupakan kenangan akan cinta monyetnya yang bernama Kezia Celine Kaunang.


"Celine," desah Martin tersenyum sendiri. "Kita so kangen ngana. Kita cinta sekali pa ngana. Kita pe hati cuma for ngana. Kita mau ngana jadi kita pe pacar lagi, seperti dulu. Bagi kita, itu bukan cinta monyet, entah buat ngana."


Ponsel Martin berdering. Terburu-buru Martin menghampiri ponsel yang terletak di atas nakas. Ternyata dari Thalia, kakak nomor dua Kezia.


"Martin, jangan lupa tugasnya. Kamu itu Kakak ijinin tinggal di rumah buat bantu-bantu pekerjaan rumah selama Kakak di Singapore." seru Thalia yang terdengar berapi-api di telinga Martin.


"Siap, Kakak Thalia!" ujar Martin berapi-api. "Kita tak pernah lupa. Cuci piring, cuci baju, siapkan sarapan, dan urus Helen dan si kembar Randy dan Fandy."


"Gitu dong." Begitulah ucapan terakhir Thalia sebelum panggilan berakhir.


❤❤❤❤❤


Di apartemen Cindy,


"Kamu ngobrol-ngobrol dulu aja sama Toby. Toby baik, kok." kata Thalia nyengir. "Toby, Kakak numpang tidur dulu, yah."

__ADS_1


"Kakak nanti tidur di sana, yah," ucap Toby sambil menunjuk ke arah satu kamar yang digunakan Tobias. Selama kedatangan Thalia dan dua saudara kandungnya tersebut, Tobias terpaksa harus tidur di atas sofa yang tak jauh dari komputer dan piano.


Thalia bergegas ke arah kamar tersebut. Ia menyeret Lucy untuk ikut serta. Biar sukses perjodohan tersebut, dan Kezia cepat meninggalkan dan melupakan Matias yang masih dibenci Thalia.


Kezia segera duduk di sofa. Tadinya perempuan itu ingin ikut tidur juga di dalam kamar. Dia masih lelah karena jet lag. Tapi, terpaksa dia tahankan demi menghindari kesan tak bagus di hari pertama kedatangan keluarganya ke apartemen tersebut. Kezia takut hubungan Thalia jadi memburuk dengan temannya, jika dia tak bisa menjaga sikap.


"Kamu sibuk banget yah?" tanya Kezia yang melihat Tobias begitu sibuknya dengan komputer.


Tobias menoleh ke arah Kezia dan balik bertanya, "Kamu betul-betul masih single?"


Kezia memutar bola mata. Dia menelan air liur. Mungkin berbohong adalah yang terbaik, walau Kezia tahu ini akan menyakiti hati Matias jika ketahuan pacarnya.


Tobias tertawa. "Kenapa gugup begitu? Nggak meyakinkan jadinya. Dan, aku bilang begini karena ada alasannya. Kak Cindy suka banget mengenalkan beberapa perempuan ke aku. Ngakunya masih single, eh tahunya..." Laki-laki berperawakan ala model majalaah tersebut menghela napas. "...ada yang ternyata sudah mau tunangan, sudah pacaran lumayan lama, dan bahkan ada yang mau menikah."


"Oh..." respon Kezia mengangguk-anggukan kepala. "Tapi, kamu sendiri beneren single, kan?"


Tobias tak menjawab. Lagi-lagi dia hanya menghela napas. Itu sudah cukup sebagai jawaban "iya" bagi Kezia.


"Padahal kamu ganteng, loh. Kamu jago banget Komputer-nya. Dan, kamu kayaknya beneren udah mapan kayak yang digembor-gemborin Kak Thalia. Kenapa masih single?"

__ADS_1


"Lagi gak pengin aja cari pacar. Aku pengin menggeluti dunia programmer dulu--sama aku lagi sibuk menjadi professional gamer. Terutama yang itu, aku udah janji ke diri sendiri buat fokus gaming dulu. Nggak mau cari pacar dulu. Tapi, Kak Cindy suka maksa. Susah aku bantahnya."


"Oh, kamu gamer? Udah lama juga?"


"Jalan lima tahun sejak aku masih di Jakarta."


"Jago dong mainnya?"


"Lumayan. Tim aku, Barong (tim fiksi, tak betulan ada yah, red), lumayan sering juara MPL dan banyak kompetisi game lainnya."


"Gamer gitu penghasilannya lumayan, kan, yah?"


Tobias sepertinya tampak tersinggung. Matanya sudah melotot ke arah Kezia. Kezia jadi risih.


"Yah, sori. Aku kan cuma nanya."


Tobias menghela napas lagi. Kelihatannya Tobias sangat lelah raga dan batin. Dia tak menjawab dan kembali berkutat dengan komputer. Beberapa menit kemudian, webcam-nya nyala dan...


...betapa kaget Kezia. Sebab, ada wajah yang cukup familier. Itu Matias.

__ADS_1


__ADS_2