
'Ku tahu aku selalu kalah
Biar bagaimanapun aku perempuan
Posisi perempuan selalu begitu
Selalu saja kalah di mata laki-laki
Aku bahkan kalah dengan kakak perempuan aku sendiri
Nun jauh di sana,
kamu bagaimana kabar?
Tidakkah kamu tahu,--
Kelopak mata ini terasa perih
Pipi ini sudah basah
Ingin rasanya tersenyum
namun itu terasa sulit sekali
Seraya kubiarkan air mata membasahi wajah,
'ku teringat masa lalu
Awal kita jadian
Yang kuingat,
kamu selalu di sebelahku
menghapus air mata aku
tanpa lelah menyuntikan semangat,
membuatku laksana pohon yang kokoh
kala terik mentari musim panas pun
hujan deras sekalipun
kamu selalu melindungiku
membuatku merasa aman
Apakah kamu tahu?
Aku sedang mempersiapkan hati
__ADS_1
andai saja takdir berkata lain
namun apa aku sanggup mengucapkan selamat tinggal?
Dilan saja tak mampu bilang begitu ke Milea
Dilan begitu mencintai Milea
Milea pun sama
Pula aku demikian
Rasa sayang yang aku miliki ini
tampaknya lebih dalam dari yang kamu rasa
Malam ini aku begitu gundah gulana
Suasana hati aku tengah berantakan
Pandangan mata jadi kabur
(Dilan dan Milea dari novel "Dilan 1990" yang ditulis oleh Pidi Baiq)
Rasa sayang yang aku miliki ini
awalnya terasa ringan
hingga tak terasa cinta ini menjadi sangat berat
Aku merasa dunia seperti tak berpihak ke kita berdua
Ingin terus, aku takut
Namun aku lebih terluka lagi
'tuk berkata selamat tinggal
Segala kenangan tentang kamu
ada kalanya melukai hati ini
Musim berganti
Daun pun berguguran
Angin datang menerpa
Aku pun tak akan pernah lupa
Kenangan tentang kamu selalu tersimpan rapi di memori otak aku
__ADS_1
Jika kubisa,
sayang aku tak mampu,
untuk memunggungi kamu
itu terasa berat untuk aku
yang bisa kulakukan
berjalan seperti tak ada apa-apa
Kata orang,
cinta memang selalu seperti itu
harus mau berkorban
biarlah sesama kita mengejek kita bucin
namun harus sejauh mana kita berkorban?
haruskah kita berkorban
jika salah satunya egois?
Kadang 'ku berpikir siapa yang egois
aku atau kamu?
'tuk kamu nun jauh di sana
aku baik-baik saja
Cepatlah kembali untuk aku!
"Kezia!" seru Thalia yang suaranya lumayan kencang.
Kezia tersadar dari lamunannya. Tanpa sengaja salah satu jarinya teriris pisau. Dia mengaduh kesakitan. Spontan saja, seperti kebiasaannya saat kecil, dia mengisap jari yang terluka. Asin, sebab memang seperti itulah rasa darah, walau kata anyir jauh lebih tepat.
"Aduh, kok malah diisep? Jorok kamu itu!" gerutu Thalia yang langsung memegangi jari Kezia yang terluka. "Pake hansaplast, dong, Kezia. Kayak anak kecil aja, diisep gitu. Bentar, Kakak ambilin. Dan, jangan kamu terusin motong bawangnya. Kakak gak mau nasi gorengnya ada rasa darah."
"Iya, Kak." Kezia mengangguk.
Tak butuh waktu lama, apalagi kotak P3K-nya memang tak jauh dari dapur, Thalia membawa plester. Pelan-pelan Thalia mengolesi darah tersebut dengan setetes-dua tetes alkohol. Kezia berusaha menahan rasa perih (yang tak seperih dengan problematika cinta yang tengah dia alami). Setelah itu, Thalia langsung menutup luka Kezia itu dengan plester.
"...cinta ini kadang tak ada logika..." Mendadak kakak nomor duanya itu menyenandungkan sebuah lagu dari Agnes Monica. Pandangan mata Thalia begitu sinisnya ke Kezia.
"Iya, Kakak tahu. Pasti kamu terluka gini karena mikirin cowok itu. Sadarlah, Zia, kamu kelewat bagus buat dia. Tinggalin aja-lah cowok itu. Kamu lihat sendiri, disuruh dateng jam tujuh, eh malah telat ampir dua jam. Gak tanggung jawab dia, tuh."
__ADS_1