Rainy Couple

Rainy Couple
Kezia Galau


__ADS_3

'Ku tahu aku selalu kalah


Biar bagaimanapun aku perempuan


Posisi perempuan selalu begitu


Selalu saja kalah di mata laki-laki


Aku bahkan kalah dengan kakak perempuan aku sendiri


Nun jauh di sana,


kamu bagaimana kabar?


Tidakkah kamu tahu,--


Kelopak mata ini terasa perih


Pipi ini sudah basah


Ingin rasanya tersenyum


namun itu terasa sulit sekali


Seraya kubiarkan air mata membasahi wajah,


'ku teringat masa lalu


Awal kita jadian


Yang kuingat,


kamu selalu di sebelahku


menghapus air mata aku


tanpa lelah menyuntikan semangat,


membuatku laksana pohon yang kokoh


kala terik mentari musim panas pun


hujan deras sekalipun


kamu selalu melindungiku


membuatku merasa aman


Apakah kamu tahu?


Aku sedang mempersiapkan hati

__ADS_1


andai saja takdir berkata lain


namun apa aku sanggup mengucapkan selamat tinggal?


Dilan saja tak mampu bilang begitu ke Milea


Dilan begitu mencintai Milea


Milea pun sama


Pula aku demikian


Rasa sayang yang aku miliki ini


tampaknya lebih dalam dari yang kamu rasa


Malam ini aku begitu gundah gulana


Suasana hati aku tengah berantakan


Pandangan mata jadi kabur


(Dilan dan Milea dari novel "Dilan 1990" yang ditulis oleh Pidi Baiq)


Rasa sayang yang aku miliki ini


awalnya terasa ringan


hingga tak terasa cinta ini menjadi sangat berat


Aku merasa dunia seperti tak berpihak ke kita berdua


Ingin terus, aku takut


Namun aku lebih terluka lagi


'tuk berkata selamat tinggal


Segala kenangan tentang kamu


ada kalanya melukai hati ini


Musim berganti


Daun pun berguguran


Angin datang menerpa


Aku pun tak akan pernah lupa


Kenangan tentang kamu selalu tersimpan rapi di memori otak aku

__ADS_1


Jika kubisa,


sayang aku tak mampu,


untuk memunggungi kamu


itu terasa berat untuk aku


yang bisa kulakukan


berjalan seperti tak ada apa-apa


Kata orang,


cinta memang selalu seperti itu


harus mau berkorban


biarlah sesama kita mengejek kita bucin


namun harus sejauh mana kita berkorban?


haruskah kita berkorban


jika salah satunya egois?


Kadang 'ku berpikir siapa yang egois


aku atau kamu?


'tuk kamu nun jauh di sana


aku baik-baik saja


Cepatlah kembali untuk aku!



"Kezia!" seru Thalia yang suaranya lumayan kencang.


Kezia tersadar dari lamunannya. Tanpa sengaja salah satu jarinya teriris pisau. Dia mengaduh kesakitan. Spontan saja, seperti kebiasaannya saat kecil, dia mengisap jari yang terluka. Asin, sebab memang seperti itulah rasa darah, walau kata anyir jauh lebih tepat.


"Aduh, kok malah diisep? Jorok kamu itu!" gerutu Thalia yang langsung memegangi jari Kezia yang terluka. "Pake hansaplast, dong, Kezia. Kayak anak kecil aja, diisep gitu. Bentar, Kakak ambilin. Dan, jangan kamu terusin motong bawangnya. Kakak gak mau nasi gorengnya ada rasa darah."


"Iya, Kak." Kezia mengangguk.


Tak butuh waktu lama, apalagi kotak P3K-nya memang tak jauh dari dapur, Thalia membawa plester. Pelan-pelan Thalia mengolesi darah tersebut dengan setetes-dua tetes alkohol. Kezia berusaha menahan rasa perih (yang tak seperih dengan problematika cinta yang tengah dia alami). Setelah itu, Thalia langsung menutup luka Kezia itu dengan plester.


"...cinta ini kadang tak ada logika..." Mendadak kakak nomor duanya itu menyenandungkan sebuah lagu dari Agnes Monica. Pandangan mata Thalia begitu sinisnya ke Kezia.


"Iya, Kakak tahu. Pasti kamu terluka gini karena mikirin cowok itu. Sadarlah, Zia, kamu kelewat bagus buat dia. Tinggalin aja-lah cowok itu. Kamu lihat sendiri, disuruh dateng jam tujuh, eh malah telat ampir dua jam. Gak tanggung jawab dia, tuh."

__ADS_1


__ADS_2