
"Eh, Zia, itu siapa kamu?" ujar Thalia cengar-cengir. Thalia menunjuk ke arah anak laki-laki dengan rambut ikal nan berantakan. "Kakak tebak, pacarnya yah?"
Kezia melotot. "Apaan sih, Kak? Theo itu temanku, tauk. Lagian, kata Mommy, anak seusia aku itu belum boleh pacar-pacaran."
"Kalo Kakak ijinin gimana? Nanti Kak Thalia janji, gak bakal bilang ke Mommy dan Daddy. Rahasia kita berdua. Gimana? Mau nggak?"
"Seriusan?" Terjadi perubahan rona di wajah Kezia. Namanya juga anak kecil. Mereka belum pandai berbohong. Ingat, Kezia juga masih murid kelas 1 SD.
Thalia tergelak. Dia langsung mengacak-acak rambut Kezia. Kezia kecil langsung cemberut. "Nah loh, bohong kan sama Kakak? Kamu tuh kelihatan kalo bohong, Zia. Kakak tahu tabiat kamu."
Kezia mencubit lengan Thalia. "Iiih... Kakak apaan sih?"
"Jadi, suka nggak sama anak cowok itu? Siapa namanya? Theo, yah?"
"Mmmm... gimana, yah?"
"Suka, kan? Ngaku aja sama Kakak. Gak perlu dirahasiain. Lagian, Zia, suka itu perasaan yang alamiah. Normal itu punya perasaan suka."
"Gitu, yah, Kak?"
"Kurang lebih sih gitu."
__ADS_1
"Kakak sendiri udah punya pacar?"
"Hei, tahu dari mana kata-kata itu? Anak kelas 1 SD udah ngerti kata 'pacar'."
"Dari Kakak. Aku kadang suka ngedengerin Kakak ngomong gini, 'Aduh, andai Dean jadi pacar gue'." Kezia terpingkal-pingkal.
"ZIA!" Thalia sontak terpekik. "Kamu, yah?! Awas, yah?!"
Pintar sekali Kezia. Begitu menjahili kakak nomor duanya itu, Kezia langsung terbirit-birit. Sesekali dia sembunyi di balik pohon. Begitu ketahuan Thalia, Kezia kabur lagi. Begitu terus sampai Kezia terjatuh dan menangis kencang. Thalia terburu-buru menghampiri adik satu-satunya tersebut. Sayangnya Thalia keduluan seekor anjing jenis Afghan Hound yang sepertinya tak sengaja dilepas oleh majikannya.
Anjing itu lalu menjilat-jilat wajah mungil Kezia sebagai gantinya. Tanpa maksud menakut-nakuti, anjing itu menyalak. Kezia ganti mengelus-elus pipi si anjing. Gadis kecil itu lupa dengan rasa sakitnya tersebut.
Si empunya Afghan Hound datang. Thalia kebetulannya juga sudah berada di jarak yang lebih dekat dengan Kezia.
"Adiknya yah, Dek?"
Thalia mengangguk. "Iya, Om. Ini adek saya, namanya Kezia."
"Usia berapa?"
__ADS_1
"Dia sih kelas 1 SD." Thalia langsung memeluk Kezia. "Kamu nggak kenapa-napa? Tuh, lututnya berdarah gitu. Sini, Kakak obatin. Kayaknya di tas Kakak masih ada plester."
"Emang si Bernard ini nggak galak, Kezia." kata om berkumis itu sok akrab. "Sudah divaksin juga."
"Dia gak takut kok, Om, sama anjing. Justru kami punya anjing juga di rumah. Jenis Siberian Husky. Tapi sih nggak sebesar anjing kepunyaan Om." ujar Thalia yang sibuk merawat luka-luka adiknya tersebut. "Tahan yah, Zia. Gak sakit, Zia."
"Papa ngapain sih?" Mungkin itu anak laki-laki si om berkumis tersebut.
"Yah, ngejar si Bernard-lah. Kau ini, memang kau pikir Papa ngapain? Untung adik kecil ini tak kenapa-napa. Papa takut Bernard menyerang dan malah mengganggu warga sekitar."
"Anaknya, yah, Om?" tanya Thalia yang selesai merawat luka-luka Kezia.
"--Tiyas, namanya. Seumuran adik kamu."
💜💜💜💜💜
Kezia tersentak dari lamunannya. Dipandanginya Tiyas. Ia baru sadar nama anjing barunya itu mirip dengan nama anak laki-laki yang ditemuinya bertahun-tahun silam tersebut. Eh, nama lengkap si cowok itu siapa ya, batin Kezia.
Anak laki-laki bernama Tiyas itu dulu lumayan akrab dengan dirinya. Ternyata anak itu satu SD dengan dirinya, yang bersekolah di Tarakanita, hanya saja berbeda kelas. Semenjak pertemuan pertama itu, Kezia sering bermain dengan anak laki-laki tersebut. Saking seringnya bermain dengan anak laki-laki tersebut, Kezia dan Tiyas sempat diledeki pasutri (baca: pasangan suami-istri).
Ah, bagi Kezia, itu kenangan yang sangat indah sekali.
__ADS_1