
Matias tak habis pikir kenapa Julia memaksakan dirinya untuk menerima foto Shanelle di dalam ponselnya. Yang Matias suka itu kakaknya, bukan adiknya. Walau demikian, bagaimana Matias memberitahukan tentang itu ke Julia.
Di dalam apartemen, di salah satu sofa, Matias duduk. Ia ambil ponsel itu lagi--yang sebelumnya tergeletak di meja. Ia buka dan melihat-lihat foto penampilan Shanelle yang sekarang.
Matias terkikik-kikik. Nyaris saja kedua matanya tak bisa berkedip. Matias serasa menyaksikan seorang bidadari turun dari langit. Cantik nian Shanelle yang sekarang. Dulu Shanelle tak seperti ini. Seingat Matias, teman SD-nya itu memiliki penampilan yang tak menarik. Bagaimana tidak menarik jika Shanelle yang dulu itu memiliki badan yang teramat kurus. Kulitnya agak gelap, walau kalian bisa menganggapnya itu sebagai hitam manis (istilah kerennya, tan).
Sekarang Shanelle sudah berubah. Penampilan yang sangat luar biasa. Hampir saja air liur keluar dari mulut seorang Matias. Dagu yang runcing, pipi yang sedikit berisi, mata yang sangat bersinar (Mungkin itu soft lens), hingga gaya rambutnya tersebut. Matias bingung itu rambut asli atau wig.
Matias terkekeh-kekeh. Ia lalu meng-close up bagian tertentu yang dirinya ingin amati lebih lanjut. Astaga, dulu mungkin karena saking gelapnya, tak terlalu kelihatan lesung pipitnya, namun sekarang, Shanelle sangat cantik jika tersenyum. Kedua lesung pipit itu membuat Matias ingin mencubit kedua pipi Shanelle yang sekarang seperti bakpau (padahal dulu kedua pipi itu seperti papan penggilasan saja).
"Shan, Shan,... lu cantik juga, yah?" desah Matias yang masih menekuri foto Shanelle yang sekarang. "Masa iya sih, lu masih lu jomlo? Cantik begini, loh."
Drrrrttt...
Ponsel Matias berdering. Ternyata dari Kezia. Kedua mengirimkan Matias sebuah puisi dan sebuah voice note. Voice note itu berisi rekaman suara Kezia yang tengah menyanyikan lagu "Playdate" dari Melaney Martinez. Matias cukup tertohok dan kembali ke realita yang sesungguhnya: dirinya sudah memiliki pacar dan memiliki suatu hubungan yang meminta pertanggungjawaban dirinya.
__ADS_1
🎶
Melaney Martinez - Playdate
Ring around the rosy
I never know, I never know what you need
Ring around the rosy, I want to give you, want to give you
🎶
Di telinga Matias, Kezia seperti tengah bernyanyi sambil terisak-isak. Matias sekarang kembali merasa bersalah.
💜💜💜💜💜
__ADS_1
Shanelle kembali bersin lagi. Mungkin ada tujuh kali Shanelle bersin. Nabilah sampai memberikan tisu ke Shanelle.
Nabilah tertawa. "Kenapa lu, Shan? Lu nggak lagi sakit, kan?"
Shanelle menggeleng. "Nggak, kok. Aneh juga, nih. Padahal suhu udaranya juga nggak dingin-dingin amat, kenapa gue menggigil, yah? Apa jangan-jangan..."
"Mulai lagi lu,..." tukas Nabilah. "Lu kan tahu, gue orangnya penakut kalo udah ngomongin yang horor-horor."
Giliran Shanelle yang tertawa. "Sori, deh."
Yah, namanya juga sahabat. Seorang sahabat sejati tidak akan mudah marah dengan candaan temannya, walau itu begitu sarkastik kedengarannya.
"Eh, Nab, Matias gimana kabarnya yah sekarang?" tanya Shanelle dengan ekspresi yang tak biasanya. Dibilang kangen, bisa juga. Namun, jika ditelusuri lebih lanjut sorot mata Shanelle tersebut, ada yang ganjil.
Yang ganjil itulah yang mengganggu Nabilah. Bukannya sedari tadi ia dan Shanelle lebih sering membicarakan Matias, ini apa-apaan malah menanyakan kabar Matias. Shanelle lagi kerasukan sampai tak terlalu menyukai obrolan. Ingin rasanya Nabilah berkata kasar dan menampar Shanelle.
__ADS_1
"Eh, sori, Nab," ujar Shanelle yang langsung menundukan kepala. "Aduh, kok gue bisa lupa yah? Sori banget, yah."