Rainy Couple

Rainy Couple
Campur Aduk


__ADS_3

Di dalam angkot, Kezia merenung. Pandangannya lurus ke arah kendaraan-kendaraan yang berseliweran di belakang angkot biru yang ia tumpangi. Bibirnya ditekuk. Matanya berkaca-kaca.


Kezia bingung kenapa bisa seperti ini. Kenapa harus ada perpisahan setelah sebuah perjumpaan? Kenapa dia harus bertemu Matias jika ujung-ujungnya kelak bakal berpisah?


Bukannya Kezia mau berpisah dengan Matias, karena hampir tak pernah tebersit di pikiran Kezia ke arah sana. Kezia terlalu mencintai Matias. Sangat mencintai sepenuh hati laki-laki yang pernah studi di Jepang tersebut. Namun Kezia sayang juga dengan keluarganya, khususnya Kak Thalia.


Semenyebalkan apapun Kak Thalia, dia tetap kakak kandung Kezia. Darah perempuan berambut ikal tersebut sama dengan darah yang mengalir di urat nadi Kezia. Mereka sedarah. Saudara sedarah, saudara sekandung, saudara serahim (karena lahir dari rahim ibu yang sama).


"Tuhan, aku harus gimana? Gak enak juga kalo aku pergi, Kak Thalia mencurigai aku mulu. Tadi aja aku berangkat, Kak Thalia mencurigai aku ketemu Matias." desis Kezia. Kezia berharap tak ada satupun penumpang angkot yang mendengarnya. Sayangnya, ada yang mendengar. Seorang anak kecil yang duduk di sampingnya, sekonyong-konyong memegangi tangannya. Kezia kaget.


"Semangat, Kak," ujar si anak kecil itu dengan cemprengnya.


Kezia tersenyum ke arah anak kecil tersebut. Perempuan itu memang sangat menyukai anak-anak. Helen, anak Kak Thalia, suka digendong-gendong, walau punggungnya, sudah keletihan setengah ******.


"Eh, Seven, jangan gangguin kakaknya," tegur seorang ibu muda, yang lalu menggendong anak kecil perempuan tersebut. "Sori ya, kalo keganggu sama anak saya,"


Kezia menggeleng. "Gapapa, kok. Saya juga suka sama anak-anaknya. Anaknya usia berapa juga, Bu?"


"Eh, jangan panggil saya Ibu dong. Nama saya Imel, panggil aja Imel."


Kezia menerima ajakan untuk berjabat tangan. "Kezia."


"Anak saya udah masuk TK."

__ADS_1


"Oh."


"Kayaknya kita sebaya. Usia kamu berapa?"


"Mau jalan tiga puluh tahun ini."


"Udah nikah? Eh, tapi kayaknya kamu lagi ada masalah, yah. Soal cinta?"


Kezia tak menjawab, hanya menyunggingkan senyum. Mungkin karena terasa sekali dari ekspresi Kezia, Imel bisa berkata seperti ini, "Sabar yah, nanti pasti ada jalan keluarnya. Terus doa ke Tuhan. Dia nggak akan pernah memberikan ujian yang lebih berat dari yang kita bisa tanggung."


"Makasih." ucap Kezia pelan. Tanpa Kezia sadari, air mata mulai turun membasahi pipinya.


🎢🎢🎢🎢🎢


Ternyata Kak Lucy yang menyalakan DVD player. Dugaan Kezia benar sekali. Kakak sulungnya itu memang hobi mendengarkan musik melalui DVD player. Menurutnya, lebih enak jika melalui player, karena kita bisa sekalian berkaraoke.


"Baru pulang, Zia?" tanya Kak Lucy yang langsung berhenti bernyanyi lagu Jepang tersebut.


"Iya. Oh iya, Kak Thalia ke mana? Kayaknya Kak Lucy sendirian aja di rumah."


"Dia pergi sama suami dan anaknya jalan-jalan ke mal. Kamu udah makan?"


"Tadi udah bareng temen-temen aku. Masih kenyang juga."

__ADS_1


"Zia, dua hari lagi kita berangkat ke Singapore. Tadi tiketnya udah dibeli sama Thalia."


Kezia lesu mendengarnya, namun dirinya memaksakan untuk tersenyum. Cepat sekali keberangkatannya. Kezia kira masih semingguan lagi ke Singapore.


πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™


Di kamar Kezia,


πŸ‘¦ Berangkatnya lusa?


πŸ‘§ Iya, rencananya gitu. Tiket udah dibeli sama dia juga.


πŸ‘¦ Hati-hati ya.


πŸ‘§ Cuman semingguan, tapi kok kayaknya berat pergi jauh-jauh dari kamu.


πŸ‘¦ Sama, aku juga. Ya udah, kamu langsung tidur. Cape kan seharian.


πŸ‘§ Makasih.


Baru Kezia hendak menutup mata dan meletakan ponsel di atas nakas, satu pesan datang. Dari Martin Winter.


πŸ‘€ Letakkan saja dulu tiap masalahmu sejenak. Jangan kamu bawa ke dalam mimpi. Selamat tidur, Celine! Mimpi indah!

__ADS_1


Kezia tertawa membacanya. Dasar Martin. Martin merupakan salah satu dari sekian kenalan Kezia yang memanggilnya dengan sebutan Celine. Dan, entah mengapa, Kezia menyukai nama panggilan tersebut. Itu mengingatkan Kezia dengan Opa Henk yang berdarah Belanda tersebut.


__ADS_2