
Di kamar Kezia,
Begitu pulang ke rumah, Kezia langsung masuk ke dalam kamar. Thalia mengomeli Kezia atas sikap dingin Kezia yang menurut Thalia, kurang ajar dan tak tahu diri. Namun, Kezia memilih untuk bodoh amat. Kata orang, lebih baik bersikap dingin daripada membalas perlakuan tak menyenangkan. Ujung-ujungnya, kalau nggak cuek, bisa perang di rumah Kezia. Itulah yang Kezia hindari. Dia menghindari sesuatu yang membuat mood-nya berantakan.
Selepas berganti pakaian, tak ada angin tak ada badai, Kezia langsung mengambil sesuatu di dalam lemari. Itu adalah gitar pemberian Matias saat laki-laki itu menembaknya. Melihat gitar yang penuh corat-coret dan stiker tersebut, di bayangan Kezia, muncul peristiwa saat Matias menembak dirinya. Kezia jadi menangis. Itu tangis haru, yang dipenuhi dengan kegalauan tingkat tinggi, yang umumnya terjadi karena problematika cinta khas orang dewasa. Rumit, tapi sebetulnya sederhana (masalahnya). Sederhana, tapi rumit (penyelesaiannya).
Kalau diingat lagi, Matias juga yang mengajari Kezia bermain gitar, juga piano. Matias sempat membawa Kezia untuk sparring partner di lapangan futsal yang ada di daerah Alam Sutera. Banyak yang sudah Matias ajarkan ke Kezia. Kezia jadi malu sendiri. Karena harusnya Kezia yang mengajarkan Matias, mengingat Kezia itu lebih tua lima tahun dari Matias.
Sekarang ini, apa Kezia harus benar-benar meninggalkan Matias? Kezia tak sampai hati untuk memutuskan hubungan. Walau hanya pesan chat, bagi Kezia, itu sudah bentuk permohonan maaf Matias. Namun, Kezia tak mau terus menerus perang dingin dengan kakak nomor duanya tersebut. Aduh, Kezia bingung harus bagaimana?
"Guk... guk..." Tiyas menyalak. Lagi-lagi anjing itu merajuk di kaki Kezia. Tiyas menjilat-jilati kaki Kezia.
"Eh, Tiyas," Kezia langsung jongkok dengan gitar itu masih ia pegang. "Aku bisa loh main gitar. Mau denger nggak?"
__ADS_1
Kezia langsung saja memainkan lagu yang judulnya muncul begitu saja dalam pikirannya. Dirinya bersiap untuk..... SHOW TIME!
Iya, show time di depan anjingnya sendiri. Senar gitar siap dipetik.
Seurieus - Sendiri Itu Indah
Andai...
diriku ini...
dekat dirimu
Andai...
diriku ini...
__ADS_1
tak harus tahu...
apa maumu...
Ingin kembali...
Begitu lagi itu selesai dimainkan, Tiyas menggonggong beberapa kali dengan amat keras. Kezia menganggap itu sebagai sebuah bentuk apresiasi. Sebagai balasannya, Kezia mengelus-elus kepala Tiyas.
"Thank you, Tiyas. Keberadaan kamu membuatku bersemangat lagi. Terlebih lagi, aku jadi bersemangat,... yah itu kalau dia masih mau terus. Jujur aja, Tiyas, aku masih trauma dengan kejadian waktu itu. Apalagi pas dia ciuman itu. Jadi bingung sendiri juga, dia ciuman atau nggak."
Tanpa disadari Kezia, ada seseorang di balik pintu. Itu sepupu jauhnya. Siapa lagi kalau bukan Martin Winter. Martin disuruh Thalia untuk meminta Kezia turun ke bawah. Biar jahat begitu, Thalia masih perhatian dengan Kezia. Thalia tak ingin Kezia jatuh sakit karena tidak makan. Walau sebetulnya tidak apa-apa jika Kezia tak makan malam. Orang berdiet itu malah dianjurkan untuk tidak makan malam.
Begitu mendengar Kezia memainkan gitar, Martin tak sampai hati untuk mengetuk pintu. Laki-laki yang hobi berkepala plontos itu malah amat serius mendengarkan apa yang terjadi di dalam kamar Kezia. Patah hati, iya. Simpati juga iya.
Terbersit di dalam kepala Martin untuk membantu saja hubungan Kezia dan Matias. Tampaknya Kezia sangat cinta mati dengan Matias. Martin jadi berpikir mungkin saja Matias memang jodoh yang dipilihkan Tuhan untuk Kezia.
__ADS_1