
Matias melihat-lihat segala SMS yang tersimpan di dalam ponselnya. Hari ini laki-laki ini kembali bergalau ria. Ah, dia memang melankolis. Menya-menye tak ada jentrungannya. Sedikit-sedikit melihat ke belakang. Karena pembawaan Matias yang seperti itulah, teman-teman Matias sering meledekinya sebagai pribadi yang plin-plan nan telmi (telat mikir).
Satu SMS membuatnya terenyak. Hanya karena satu SMS, dirinya terbang kembali ke masa lalu. Pergantian tahun dari 2009 ke 2010. Matias menggeleng-gelengkan kepala penuh kegemasan saat membaca SMS yang tak akan pernah terkirim ke orangnya.
1 Januari 2010, 00:23
Selamat tahun baru, partner main game terbaik gue, Nabilah Angela Siregar. Moga lu makin cetar membahana yah di 2010. Makin sering tampil di majalah juga. Nab, congrats yah, akhirnya impian lu tercapai bisa jadi kaver majalah. Gue yang tadinya gak suka, jadi suka majalah cewek. Haha. Sukses terus di Jepang sana, Nab!
__ADS_1
Pesan itu tak akan pernah terkirimkan ke Nabilah. Setelah beberapa hari kemudian, Matias baru menyadari bahwa nomor Nabilah sudah ganti. Jelaslah Nabilah akan berganti nomor. Perempuan itu kan sudah pindah ke Jepang--yang tanpa memberitahukan Matias sebelumnya. Kalau ingat kejadian tersebut, ada rasa kesal di dalam diri Matias. Kecewa juga, yang kenapa Matias tak pernah memberitahukan perasaannya yang sebetulnya ke Nabilah. Nabilah juga kenapa tak memberitahukan Matias tentang rencana kepindahan ke Jepang tersebut.
"Nab, tega lu ah. Lu main pergi gitu aja. Gue udah nyiapin banyak peluru buat nembak lu, eh lu malah main pergi gitu aja. Gak bilang-bilang lagi. Sahabat macam apa lu, Nab? Bete gue punya sahabat kayak lu!" desah Matias yang merutuki kejadian tersebut.
Matias menimang-nimang ponselnya. Dibolak-balik ponselnya. Dilihat lagi SMS-nya ke Nabilah yang tak akan pernah diterima Nabilah. Pikiran Matias kembali melanglang buana ke masa lalu lagi. Satu persatu kenangan kembali menyeruak.
Matias jadi tertawa saat ingat kejadian di BSD Plaza saat itu. Saat itu Matias mendapati Nabilah tengah jalan-jalan bersama seorang laki-laki yang sepertinya sepantaran dengan Nabilah. Laki-laki itu pikir, mungkin itu pacar Nabilah. Wajar saja Matias berpikir seperti itu. Karena, menurut pikiran Matias saat itu, gadis secantik Nabilah pasti sudah memiliki pacar. Jarang sekali perempuan secantik itu yang berstatus single.
__ADS_1
.....hingga Matias menanyakan sendiri kebenarannya ke Nabilah saat mereka berdua tengah di kantin sekolah. Itu juga setelah Matias iseng saja mencurahkan isi hatinya ke beberapa teman dekatnya seperti Suhandi, Tony, atau Tobias. Sembari tertawa terbahak-bahak, Nabilah memberikan klarifikasi (yang hampir saja Nabilah tersedak daging siomay).
"Ah elah, itu sepupu gue, Matias. Namanya Ramot. Dan, gue nemenin dia cari kado buat ceweknya yang mau ulang tahun." kata Nabilah tergelak yang seraya kepedasan. Rupanya Nabilah terlalu banyak meletakan sambal ke mangkok baksonya. "Lu cemburu, yah?"
"Apaan sih lu?" sangkal Matias yang sok membuang wajah. "Siapa juga yang cemburu. Sok kecakepan lu ah, Nab."
.....
__ADS_1
Matias kembali ke masa sekarang. Dia tertawa sendiri di dalam kamar. Untung kedua orangtuanya tengah pergi, serta pintu kamar sudah terkunci. Dirinya tertawa karena teringat kejadian di Rainbow Caffee tersebut.
"Nab, kenapa sih lu harus balik lagi ke hidup gue? Kenapa lu bikin gue ngerasa dilema gini? Dulu, lu main tinggalin gue tanpa jawaban. Sekarang, lu seenaknya aja dengan rencana pacar pura-pura itu. Maksud lu apa sih, Nab?" lirih Matias seraya tertawa yang berderai-derai air mata.