Rainy Couple

Rainy Couple
Masa Lalu Matias - 8


__ADS_3

Nabilah tergelak yang paling lepas. Beberapa pengunjung memperhatikan. Tapi, itulah Nabilah, sesosok perempuan yang tak tahu malu. Atau, tepatnya bukan tak tahu malu. Perempuan ini selalu berpegang pada prinsip 'bodoh amat'.


Shanelle meletakan telunjuknya di bibir. "Ssssttt... Nab, biasa ajalah ketawanya."


Nabilah memperhatikan ke sekelilingnya. Dia malu sendiri. Tanpa pikir panjang, dia meminta maaf ke beberapa pengunjung karena sudah mengganggu ketenangan pengunjung dengan volume suara tawanya.


"Lu dari dulu nggak pernah berubah, yah, sejak kita masih di bimbel Primagama." ujar Shanelle nyengir.


"Lu juga, Shan, nggak pernah berubah. Tahi lalat udah kayak kue kismis aja. Terus, masih hobi ngecat rambut." ledek balik Nabilah nyengir.


"Nggak nyangka, yah, kita bisa ketemuan lagi. Gue nggak nyangka aja lu langganan di toko kuenya Cici Fey."

__ADS_1


"Terus, secara kebetulannya, kita sama-sama kenal laki-laki yang sama." Masih terasa ngilu untuk seorang Nabilah menyebut nama Matias.


"Dunia sempit, yah?" ujar Shanelle nyengir.


"Tapi, lu serius lu kenal sama Matias? Yah, dia emang dulu SD di Fransiskus, seingat gue." Nabilah masih tak percaya.


"Seriusan banget gue!" Shanelle sengaja membulat-bulatkan matanya buat terkesan dirinya tak mengarang cerita. "Dia sekelas sama gue di kelas 5B. Kalo gak salah, Ibu Riana wali kelasnya."


💜💜💜💜💜


Matias spontan memegang hidung mancungnya. "Aduh, jangan kena masuk angin kenapa. Apa jangan-jangan ada yang ngomongin gue, nih?"

__ADS_1


Lalu, sembari masih menunggu kedatangan Julia, Matias membuka kembali ponselnya. Akun Line Julia itu dibuka kembali. Foto profil itu di-close up lagi. Matias tak percaya perempuan yang berdiri di samping Julia itu Shanelle.


"Shanelle, gimana kabarnya? Udah lama gue nggak denger kabar soal dia. Terakhir dia malah nutup akun gitu aja." kata Matias yang berbicara kepada dirinya sendiri. Bersyukur di sekitar Matias tak ada siapa-siapa.


Untuk mencegah kemungkinan terburuk, Matias memelankan suaranya. "Shan, waktu itu lu kenapa nutup akun? Sori, Shan, bukannya maksud ganggu hubungan lu sama cowok lu."


Matias diam sebentar. Kepalanya memutar kejadian itu lagi. Sudah lampau sekali. Saat itu Matias duduk di kelas 7 SMP. Di waktu senggangnya yang sehabis mengerjakan PR dari Pak Nelson, dia menyempatkan diri untuk menyalakan akun media sosialnya. Kebetulan tiga teman lama yang cukup akrab dengan dirinya tersebut tengah online.


Namanya juga sahabat. Isi obrolannya selalu dipenuhi dengan hal-hal yang orang lain beranggapan itu tak berfaedah. Ngalor-ngidul tak jelas. Hingga akhirnya, Matias ingat, tiba-tiba muncul seorang laki-laki di obrolan status antara Matias, Shanelle, Jeje, dan Riefky. Dari laki-laki (yang kemungkinan besar itu pacar Shanelle), yang lainnya ikut nimbrung. Hawanya jadi kurang menyenangkan. Sejam kemudian, Shanelle memutuskan untuk offline. Keesokan harinya, akun Facebook Shanelle dalam keadaan deactivate.


Keesokan harinya, yang Matias ingat, Jeje menghubungi Matias. Jeje bilang Matias membuat Shanelle bertengkar dengan pacarnya. Matias bingung dia salah apa. Bagian mana dari kata-kata Matias di status tersebut yang memicu kemarahan pacar Shanelle? Mana Matias tahu Shanelle sudah memiliki pacar. Makanya Matias ogah minta maaf karena dia tak merasa dirinya melakukan kesalahan. Jeje membentaknya, dan Jeje memblokir Matias.

__ADS_1


Yang Matias bisa ingat, Jeje pernah berkata seperti ini, "Yah, itu salah lu-lah. Ngerusak hubungan orang. Padahal gue pengin Shanelle sama cowoknya bisa pacaran sampe setahun. Tapi gara-gara kebodohan lu, Shanelle sama cowoknya cuma pacaran selama empat bulan. Tanggung jawab-lah!"


Matias tertawa sendiri mengingat kejadian tersebut. Konyol memang, tapi bikin sesak dada. Hanya karena salah berucap, persahabatan selama tujuh tahun rusak. Hubungan cinta dua insan juga rusak.


__ADS_2