Rainy Couple

Rainy Couple
Teguran Abang Cendol


__ADS_3

Matias berjalan menyusuri jalan demi jalan. Ia memikirkan lagi peristiwa barusan, yang saat dia pulang dari rumah dosen pembimbingnya. Lucu juga. Tak ada angin, tak ada badai, ia bisa terjatuh.


Sekonyong-konyong ia buka lagi folder foto Kezia. Satu persatu foto-foto Kezia, Matias lihat. Entah mengapa Matias serasa jauh dari Kezia, padahal Kezia tak pernah ke mana-mana. Baru saja tempo lalu Kezia berjumpa dengannya. Rengkuhannya, tatapannya, suara lembutnya,..... Matias jadi cengar-cengir sendiri.


Matias jadi tersipu malu juga. Beberapa warga yang melintas memperhatikannya. Itu termasuk tukang cendol. Eh, kenapa Matias jadi haus begini? Tanpa pikir panjang Matias menghampiri tukang cendol tersebut.


"Bang, cendol satu,"


"Bungkus atau minum di sini, Dek?"


"Pake gelas Abang aja."

__ADS_1


Dengan sigap tukang cendol itu langsumh mempersiapkan cendol pesanan Matias. Gelas besar diambil si Abang Cendol. Ditaruh dalam gelas itu tersebut, cendol, es serut, cairan gula merah, dan susu kental manis. Si Abang Cendol tersenyum ke arah Matias, dan menyerahkan segelas cendol yang cocok diminum saat cuaca panas dan hati kering.


"Lagi galau, Dek?" tanya Abang Cendol.


"Haha... Abang bisa aja. Gak, Bang. Cuman saya lagi lesu aja. Lagi-lagi dapet revisian dari dosen." ujar Matias berbohong. Yang membuat Matias lesu itu bukan karena tugas akhir.


"Oh, si Adek mahasiswa? Tak kira Adek lagi patah hati. Semangat, Dek, kuliahnya. Anak saya yang paling tua juga lagi kuliah. Dia baru masuk. Jurusan Komputer."


"Oh gitu, yah, Bang." ujar Matias nyengir. Matias coba mengisap minuman cendolnya melalui sedotan hijau. "Bang, kenapa yah Bang, cendol sekarang udah gak pake sirup merah lagi?"


"Gitu yah, Bang," Matias tertawa kecil. "Enak banget, Bang, cendolnya."

__ADS_1


"Jelas enak, Dek. Tak masukin bumbu rahasia ke cendol saya." jawab Abang Cendol tertawa nakal.


"Tapi, gak pake bumbu 'itu' kan?" Matias sedikit memelankan suaranya.


"Astagfirullah, ya nggak-lah, Dek." kata Abang Cendol mengelus-elus dada. "Insya Allah, saya jualan jujur, atas ridho Allah juga. Maksud saya bumbu rahasia itu cinta dari istri saya yang semalaman bikin sirup gula merahnya."


Nyeeeees..... Tadi di rumah Pak Hendra, dosennya itu sempat menyinggung mengenai cinta. Itu tentang kebaikan istrinya yang selalu punya cara untuk memotivasi Pak Hendra. Dan, Pak Hendra sempat bertanya apa Matias punya pacar. Sekarang, Matias bertemu Abang Cendol yang berbicara mengenai cinta sang istri dalam mempersiapkan sirup gula merah untuk es cendolnya. Dua-duanya itu membuat Matias teringat dengan Kezia.


"Abisin, Dek," seru Abang Cendol yang bertopi bulat. "Mau ujan. Saya juga mau pulang. Kangen istri saya, hehe."


Matias tergesa-gesa menghabiskan cendolnya sampai dirinya tersedak. Uhuk-uhuk, dia terbatuk-batuk.

__ADS_1


"Kalem, Dek. Si Abang gak bakal ke mana-mana, yang kayak cinta sejati gak akan pergi ke mana-mana. Gak akan hilang walau badai dateng, Dek." ucap Abang Cendol tertawa sendiri.


Matias tertawa seadanya. Garing nih si Abang, tapi bikin hati ngilu. Lagi dan lagi, Matias teringat Kezia. Kapan kakak nomor dua Kezia itu memaafkan Matias? Matias bosan main kucing-kucingan terus. Backstreet ini sungguh menyiksa Matias.


__ADS_2