Rainy Couple

Rainy Couple
Sudah Jatuh,Tertimpa Tangga


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini, Matias tak berani untuk mengunjungi rumah Kezia. Dia bertemu Kezia di suatu tempat (yang seringnya di Rainbow Caffee). Kezia yang seringnya menghampirinya.


Namun, atas sebuah saran secara tak langsung dari sebuah channel Youtube dari seorang Youtuber, Matias memberanikan diri untuk kembali ke rumah Kezia yang lebih megah daripada rumahnya sendiri. Dalam pegangannya, ada sebuah kantong plastik berisi perhiasan. Yang Matias ingat, dulu Kezia pernah cerita Thalia itu amat menggemari perhiasan, terutama yang bermerek Swarovsky. Semoga Thalia suka.


Matias berdebar-debar jantungnya di depan pagar rumah Kezia. Berkali-kali dia tarik-hembus napas. Sesekali dia menelan air liur. Di benaknya, Thalia berubah menjadi werewolf yang siap mencabik-cabik dirinya.


Pintu depan terbuka. Matias makin deg-degan. Astaganaga, ketakutan Matias terjadi. Yang muncul, orang yang memusuhi Matias selama ini. Dingin sekali sorot matanya.


Matias mengangguk. "Pagi, Kak Thalia,"


Tanpa tedeng aling-aling, Thalia menyemprot Matias, "Mau apa lo ke sini?"


"Kak, udah dong, aku bener-bener minta maaf atas kepergian Om Chris. Aku nyesel, Kak, gak hati-hati. Kasih aku kesempatan kedua, Kak. Please." ujar Matias yang sontak memegangi gagang pintu pagarnya.


Thalia berdecak. Dan, mungkin karena suara Thalia yang agak kencang, yang lainnya berhamburan keluar, termasuk Kezia sendiri. Lucy coba mengondusifkan suasana. Jason membuka pagar. Kezia mengintip dari balik gorden. Pikir Kezia, berani juga kamu datang ke rumahku lagi, hebat kamu, Yas.


"Ta, ada tamu, yah kasih masuk dulu," nasehat Lucy. "Kasihan kan Matias. Udah jauh-jauh dateng ke rumah kita, malah kamu usir."


"Biarin!" ketus Thalia.


Jason mempersilakan Matias masuk. Matias pun masuk dan duduk di salah satu bangku yang ada di teras rumah Kezia.


"Mau minum apa? Oh iya, kamu yah, yang namanya Matias itu?" sahut Jason.

__ADS_1


"Apa aja, Bang." jawab Matias tersenyum.


"Sopan bener lo, main duduk aja. Lo pikir rumah lo apa?" bentak Thalia.


Sabar, Matias, sabar. Matias sekonyong-konyong menghela napas. Ia bangkit berdiri. Tanpa pikir yang kali kedua, Matias menyodorkan kantong plastik tersebut.


"Kak, ini ada hadiah buat Kakak. Semoga Kak Thalia suka. Aku belinya dari tabunganku juga. Hitung-hitung sebagai wujud permohonan maafku juga. Maafin aku, Kak. Aku bener-bener nyesel. Karena kecerobohanku, Om Chris meninggal."


Lucy yang menerima, karena Thalia masih dingin. "Wah, makasih yah, Matias. Om di sana pasti senang. Ternyata Daddy benar, kamu orangnya sopan."


"Masih untung kamu gak dipenjara." sungut Thalia.


"Ta!" bentak Lucy. "Jaga omongan lu!"


"Terserahlah. Kak Lucy aja yang urus nih anak monyet." dengus Thalia yang main pergi begitu saja, masuk ke dalam rumah.


"Oh iya, Kak, emang benar Kezia sekeluarga mau ke Singapore?" Matias membuka obrolan.


"Besok rencananya berangkat." jawab Lucy. "Yas, kamu sama Kezia udah berapa lama? Kamu beneren serius sama adik aku? Zia, sini kamu, malah ngumpet di balik gorden."


Kezia keluar dari persembunyiannya. Dia malu-malu menghampiri seolah-olah Lucy mau menjodohkannya dengan Matias. Matias tertawa melihatnya. Kezia langsung duduk di bangku yang masih kosong.


"Dasar kamu tuh!" ledek Lucy. "Oh iya, Matias, maafin Thalia yah. Mungkin Thalia masih belum bisa menerima kepergian Daddy. Bagaimanapun Thalia itu anak kesayangan Daddy dulunya."

__ADS_1


"Gapapa, Kak. Aku udah maafin, dan aku juga minta maaf." ucap Matias.


"Kamu ngobrol dulu sama Kezia. Kakak bawa masuk dulu hadiah dari kamu. Makasih yah hadiahnya." ujar Lucy yang lalu masuk ke dalam rumah.


Kini hanya ada Matias dan Kezia di teras rumah. Mereka bersitatap dahulu.


"Berani juga kamu datang ke rumahku. Aku kira kamu udah gak berani dan terus main kucing-kucingan." ucap Kezia terkekeh.


"Kupikir, gak baik juga kalo terus main kucing-kucingan. Gak bakal maju-maju, dan selamanya aku akan dapet stigma negatif dari Kak Thalia--dan mungkin keluarga kamu."


"Gitu dong. Aku juga capek backstreet, Yas. Tiap mau keluar rumah, dicurigainya ketemu kamu mulu. Padahal yang aku temui Beby, tapi dia mikirnya aku nemuin kamu."


Thalia berdeham. "Jadi, di belakang Kakak, kamu hobi ngomongin Kakak yah. Ckck. Pasti kamu yang ajarin yah, Yas?!"


Kezia menoleh ke belakang. "Eh, Kak, sori, abis aku kesel aja sama perlakuan Kak Thalia. Gak nyaman aku, Kak."


"Kak, sekali lagi aku minta maaf. Om juga udah lama meninggal. Dan, seingatku, aku gak pernah bikin salah yang gimana ke Om. Aku minta maaf."


Thalia langsung meletakan nampan berisi es sirup ke atas meja. Setelah itu, dia langsung membuang muka dan melengos begitu saja.


"Sabar yah, Matias,"


Matias hanya menghela napas. Baru saja Matias coba menenangkan diri, tiba-tiba terdengar suara klakson motor. Seorang laki-laki botak langsung menyeruak dari balik pagar dan segera menghampiri Kezia serta Matias.

__ADS_1


"Celine kah ini?" ujar si laki-laki kepala botak tersebut.


Ini siapa, pikir Matias. Dan, kenapa si laki-laki kepala botak ini menyapa pacarnya dengan sebutan Celine. Tak mungkin juga Kezia menyelingkuhinya. Matias coba berpikir rasional.


__ADS_2